Rabu, 13 November 2013

CURHATAN SEORANG MOMMY

Menjadi seorang ibu adalah anugerah yang luar biasa bagiku. Menjadi ibu menjadikanku semakin berusaha memperbaiki diri dan meningkatkan kapabilitas sebagai seorang ibu. Idih, kayak jabatan apa aja pake kapabilitas segala. Tapi bener lo, gak gampang menjadi seorang ibu, apalagi kalau disambi bekerja, mesti fokus mencari solusi agar amanah di rumah dan di kantor bisa berjalan sukses. 

Alhamdulillah pertengahan tahun ini Allah SWT berkenan menambahkan amanah bayi (lagi) padaku. Seorang bayi yang membuatku sekarang makin semangat bekerja, lebih disiplin ke kantor, dan semakin betah di rumah. Bayi yang menjadikan hari-hariku lebih bermakna. Bayi memang salah satu candu dunia yang memabukkan, hehe. Bayi laki-laki itu kuberi nama Muhammad Jafar Zulfikar. Soal nama ini nantilah kita bahas di tulisan yang lain. Sekarang maunya fokus bagaimana agar bayi ini bisa mendapat asupan ASI yang cukup, sehat dan tumbuh dengan baik dari hari ke hari. Semoga juga si kakak (Maria Khansa Zukhrufa, 4 tahun) bisa tambah dewasa dan menjadi panutan bagi adiknya.

Doaku semoga keduanya menjadi anak yang menjadi penyebab kedua orang tuanya masuk surga. Amiiin.

Senin, 11 November 2013

(BERANICERITA #35)MENJEMPUT LUTHFIA



Jalan menuju desaku semakin menciut. Artinya sebentar lagi aku akan sampai. Tak terasa berjam-jam sudah kulalui.
“Setengah jam lagi kita sampai,” lapor supirku. Aku hanya mengangguk. 
Setengah jam lagi aku akan menjemputnya. Luthfia. Nama yang indah seindah pemiliknya. Dialah wanita pilihanku, setelah kutinggalkan sekian lama.
Aku mengenalnya dari masa kanak-kanak, ketika ikut nenek pindah ke kampung setelah orang tuaku bercerai. Kala itu hanya dia yang mau berteman denganku, tepatnya melindungiku dari kejahilan anak-anak yang suka mengganggu. Meskipun dia perempuan tapi dia lebih berani dariku. Pernah suatu ketika dia meninju anak tetangga gara-gara mengataiku banci dan menyiramku dengan air cucian beras. Padahal aku sendiri tak marah. Menangis pun tidak. Mungkin sudah biasa, atau mungkin aku gengsi saja. Lagipula menurutku air cucian beras bisa bikin kulitku lebih halus dan putih. Tak percaya? Coba saja.
“Dion...kalau diusilin orang tuh. Lawan kek, pukul kek, apaan gitu!” protesmu. Tanganmu mengepal-ngepal dengan mata memerah.
“Percuma Fi.... Jangan membalas api dengan api.... Lagian kamu juga jangan suka marah-marah nanti cepat tua loh,” kataku sok bijak. 
“Namamu kan Luthfia, artinya lembut, tapi kok jauh banget ya sama aslinya,” selorohku sambil siap-siap kabur.
Pletak!! Tuh kan bener kepalaku dilempar pake sandal. Untung cuma kena ujungnya, hehe...kabooorrr! Tak kudengar lagi semua makian dan sumpah serapahnya. Aku tertawa lebar sambil terus berlari mencari tempat sembunyi. Rasanya hanya aku yang berani mengatainya. Aneh karena di desa kami tak ada seorang lelaki pun yang berani menggodanya.
Belakangan aku menyadari memang sikapnya sangat berbeda denganku. Dia lebih lembut dan suka over-protected. Selidik punya selidik rupanya dia naksir padaku. Hal itu diungkapkannya menjelang kami lulus SMA. Aku masih ingat waktu itu, hari hampir gelap ketika kubonceng dia dengan sepeda tua. 
“Aku sayang deh sama Dion...,” bisiknya sambil memeluk pinggangku dari belakang. Waktu itu angin sepoi, langit semburat keemasan, dan kami melewati pematang sawah. Semuanya sempurna. Yang tidak sempurna hanya satu. Aku.
Kukatakan padanya aku masih punya cita-cita besar yang ingin kuraih. Cita-cita yang membuatku kelak akan dihargai orang dan tidak akan pernah ditindas lagi. Ketika dia bertanya apa cita-cita itu, aku menjawab dengan pasti, “Aku mau jadi artis Fia....” Dan dia pun tertawa ngakak.
Tapi tawa itu lalu berubah menjadi tangis. Duhai wanita, bolehlah kau memukuliku sekuat tenaga, asalkan janganlah kau titikkan air mata. Sore itu menjadi sore yang kelabu. Pertama kalinya aku ditembak seorang wanita. Sahabat baikku sendiri. 
“Sudah sampai,” lapor supirku lagi. Ah, aku semakin tak sabar....
***
“Luthfia....”
“Astaga! Dion! Ini Dion kan? Yang suka di TV itu? Kamu hebat sekali sekarang bisa jadi artis...,” serunya sambil memelukku erat. Air matanya mengembang bahagia.
“Pssst...jangan panggil aku Dion, sekarang namaku Dian, oke? Gimana dengan tawaranku kemarin? Kamu mau kan jadi bodyguard aku? Aku memang lebih memilih cewek soalnya gak kuat kalau lihat cowok gagah dekat-dekat aku....” ujarku sambil berbisik.
“Kamu ini, dari dulu gak berubah ya.... Masalah itu gampang lah nanti kita bahas. Sekarang aku mau nanya dulu, kamu sudah dioperasi yang mana aja?” tanyanya antusias. Aku menghela nafas.
 
Jumlah kata : 490 kata.