Rabu, 21 Januari 2015

#FFRabu – ADIK BARU



Semenjak ibu membawanya ke rumah, aku menjadi resah. Mata ibu tak pernah berhenti menatapnya. Tak peduli masakannya jadi hangus atau jemuran basah kuyup sebab lupa mengangkat saat hujan tiba. 


Semenjak bersamanya, ibu selalu malas menggendongku. Parahnya, ibu terus saja bercanda dengannya saat aku menyusu. Bahkan gelakku yang lucu dan wajahku yang imut tak mampu mengalihkan perhatian ibu.


Hari itu kuputuskan mengakhiri semua itu. Kurebut dia dari tangan ibuku. Kubanting dan kuinjak-injak sekuatku. Tak peduli meski ibu melotot dan menghardikku. Tak peduli meski tangannya menjewer telingaku.


Aku meraung menahan sakit. Ibu tersedu sambil memunguti serpihan adik.


“Itu kan hape mahal, Dek….”

Sumber
 Jumlah kata : 100 kata.

Rabu, 14 Januari 2015

#FFRabu – Sebuah Hadiah



Baru saja aku selesai sarapan, Pak Randy memanggilku. Dengan hati berdebar kuketuk pintu ruangannya setelah sebelumnya mematut diri di depan kaca pintu.

“Iya Pak, ada yang bisa saya bantu?” tanyaku selembut mungkin. Oh, rupanya dia baru saja bercukur. Klimis dan rapi sekali. Wangi parfumnya yang mahal membangkitkan gairahku.

Sumber
“Ini…saya ada…,” ujarnya sambil mengeluarkan sesuatu dari dalam tas belanja. Mataku terbelalak. Sebuah gaun cantik rancangan seorang desainer ternama. Dadaku semakin berbunga-bunga.

“Terima kasih, Pak,” ucapku malu-malu.

“Ehm, ini untuk tunangan saya. Tolong dicoba ya, soalnya saya gak yakin muat atau tidak. Ukuran kalian sepertinya sama. Kalau tidak muat akan saya tukar….”

Jumlah kata : 100 kata.

#FFRabu - KEHEBOHAN DI KANTOR



 
Sumber
Pagi-pagi benar di kantor ini sudah terjadi kehebohan. Putri, sekretaris baru yang bahenol itu ditemukan kejang-kejang seperti kerasukan. Kabarnya, semalam dia lembur hingga larut malam. Kejadian ini menambah daftar kasus aneh berbau mistis di sini. Sebelumnya, Pak Budi, atasan Putri, ditemukan pingsan di dalam kamar mandi pribadinya. Kejadian ini meresahkan semua pegawai, termasuk Burhan, seorang satpam senior.

“Aku tak habis pikir. Kenapa ya, akhir-akhir ini kejadian-kejadian aneh itu terjadi lagi? Bukankah katamu semenjak aku bertugas di sini sudah tak ada lagi yang berani mengganggu?” tanya Burhan.

Aku menjawab takut-takut,”Maaf, Bos, saya…saya tak suka ada yang berbuat mesum di kantor ini.”


Jumlah kata : 100 kata.

Sabtu, 27 Desember 2014

(BUKAN) REINKARNASI



Hari ini penduduk kampung geger karena bayi sang Saudagar lahir dengan wajah seperti babi. Semua orang berduyun-duyun menilik karena penasaran dan mencari bahan gunjingan. Saudagar yang pelit itu kehilangan muka dan harga dirinya. Banyak orang mencibir dan berkata itu buah kesalahannya. Seandainya dia mengurangi sifat kikir dan serakahnya akan harta, mungkin dia tidak akan menanggung karma. Banyak juga orang bilang, anak itu dulunya reinkarnasi babi yang gagal, sebagai ganjaran bagi Saudagar atas pelanggaran pantang memakan makanan haram. Omongan-omongan itu mendorong dia menemuiku, untuk mencari fatwa dan penentraman kalbu.


“Pak Tetua, bagaimana ini? Saya akui pernah makan babi sekali. Patutkah Tuhan menghukumku seberat ini?”


“Tuhan tidak perlu kepatutan dalam memberi balasan. Kau yang melanggar, tentu kau yang harus merasakan.”


Akhirnya dia pulang dengan wajah pasi, seperti menyesal memutuskan datang ke sini.


Lain waktu istrinya datang dengan tangis berurai.


“Pak Tetua, saya akui pernah khilaf sekali. Saya tak menyangka perbuatan saya itu menyebabkan hal seburuk ini. Saya tak tahu lagi harus mengadu pada siapa. Berat sekali beban dalam hati saya. Saya... saya pernah sekali berhubungan dengan babi, itu pun karena suami saya pergi berlayar lama sekali.”


Mataku terbelalak. Nista, sungguh nista. Rupanya bayi itu hasil perbuatanku dulu saat berlatih ajian berganti rupa.

Sumber

Jumlah kata : 200 kata

Kamis, 25 Desember 2014

DARI SUDUT KAFE



Sumber

Jangan tanya kenapa aku suka berdiam di kafe ini. Bukan suka, tuntutan pekerjaan, tepatnya. Tugasku memastikan ratusan pengunjung datang setiap harinya, tidak untuk berlama-lama, karena berpotensi mengurangi calon pengunjung yang akan datang ke sini. 

Majikanku, pemilik tempat ini, telah memberiku beberapa instruksi. Ada beberapa pengunjung yang mesti dibasmi. Pertama, yang suka duduk berlama-lama hanya memesan secangkir kopi saja. Jenis pelanggan seperti ini biasanya macam dua : penulis yang sedang membuat cerita atau mahasiswa yang menyelesaikan tugasnya. 

Selanjutnya perkumpulan arisan yang malas menyewa tempat. Yang terakhir inipun aku tak suka. Mereka suka mendaraskan doa. Membuat tubuhku terbakar dan ingin menghilang saja.


Jumlah kata : 100 kata