Kamis, 30 Juli 2015

My Unbelievable Year


Harus kuakui tahun ini benar-benar tak terduga. Meski belum sampai akhir tahun tapi Allah SWT berkenan memberikanku kejutan-kejutan yang membahagiakan. Tulisan ini ditulis semata-mata sebagai pengingat nikmat dan pembakar motivasi, agar semakin bertambah syukurku dan makin menyulut daya kreasi.
 

And here we go, my achievement in this year are :

1.   Monday Flash Fiction, my second home.

  

Setelah berbulan-bulan ditempa dalam kompetisi dengan penulis-penulis blogger pujaan hati, alhamdulillah bisa mencapai Runner Up. That was extremely awesome experience! Di komunitas ini aku bisa membangkitkan lagi passionku yang lain di bidang sastra dan juga lukis. Rasanya memang seperti pulang ke rumah kedua. Meski akhir-akhir ini cuma jadi silent reader karena banyaknya perubahan yang terjadi di kantor, but I do really enjoy all of its activities!

Hadiahnya lumayan banget!
 

2.   Redbricks Toastmaster Club, my booster in public speaking.



Setelah ngebut untuk mencapai target diri sendiri yang memasang deadline deliver satu speech project sebulan, alhamdulillah akhirnya dapat title CC juga, ini pencapaian yang lumayan, mengingat project terakhirku kupakai pas di Speech Contest Area dan alhamdulillah lagi dapat juara 3, meski pesertanya cuma 4, hahaha! Aku bangga aja lah lha wong untuk jadi 4 itu kan syaratnya susah…. *ngeles.  



3.   Program Penghargaan Kinerja Pegawai, still unbelievable.


Ini juga tak terduga. Masalahnya aku yakin banget bukan tergolong pegawai yang rajin atau berinovasi bagaimana gitu. Banyak yang lebih baik dariku. Sepertinya ini benar-benar karena aku beruntung punya bos-bos yang baik dan teman-teman senior yang mau mengajariku banyak hal, juga nikmat dan karunia Allah SWT yang tak terduga. Subhanallah, benar-benar tak kusangka. 


4.   Mutasi jadi AR, extremely unbelievable.

Ini yang paling ekstrim, harus pindah kantor dan menjalani tugas baru yang memacu adrenalin. Tak percaya, karena secara kemampuan banyak teman-teman yang lebih layak diangkat  jadi AR tapi belum diangkat. Tak percaya pula, karena secara golongan, pangkatku gak tinggi-tinggi amat. Ini benar-benar amanah yang luar biasa. Semoga bisa kujalani dengan baik dan memberikan manfaat yang besar bagi semuanya. Amin.


Aku berharap semoga daftar ini semakin panjang hingga akhir tahun. Dan semoga kebaikan-kebaikan di tahun ini bisa terulang di tahun-tahun berikutnya. Amin!

Kamis, 11 Juni 2015

#FFRabu – Saat Terakhir dengan Putraku



Waktu itu sore hari dan udara sangat gerah sehingga kami putuskan untuk bermain di taman dekat rumah. Balitaku yang berumur dua tahun sedang asyik bermain bola dengan ayahnya. Aku sedang asyik bermain ponsel yang baru berumur dua minggu.
 


Tak kuhiraukan putraku yang merengek-rengek minta ditemani. Berkali-kali dia melemparkan bolanya ke arahku.
“Pah, itu anaknya ditemenin, dong!”
“Sudah, ini Dedek memang maunya main sama kamu….”
“Alaaah, alasan! Aku capek tauk tiap hari ngurusin dia! Mau istirahat sebentar….”
Tanpa kusadari anakku mengejar bola yang terus memantul hingga ke jalan raya. Hingga tiba-tiba….
Ciiit!
Tidaaak!
Sebuah sedan meluncur menabrak tubuhku yang berusaha menyelamatkannya.
Jumlah kata : 100 kata


Jumat, 29 Mei 2015

Prompt Quiz #6 - Kepulangan Joko

Sumber


Joko memutuskan untuk pulang setelah lima tahun berlalu. Dia yakin kabar kepulangannya telah diketahui warga kampung. Dia juga sudah memperkirakan berbagai reaksi orang terhadap dirinya. Tapi dia tak peduli. 

Sudah lima tahun berlalu dan Joko masih merasa perih setiap kali mengingat peristiwa itu. Dia tak pernah menduga kepergiannya menyebabkan malapetaka. Bapak tewas akibat serangan jantung, tak lama kemudian menyusul ibunya terserang stroke hingga lumpuh. Hatinya sakit tiap kali memikirkan itu, tapi dia belum berani kembali sebab belum menemukan jawaban atas yang dicari. Kenapa tiba-tiba sekujur tubuhnya dipenuhi benjolan-benjolan aneh serupa kutil yang membusuk tepat sebelum malam pernikahannya; kenapa calon istrinya memutuskan untuk membatalkan pernikahan mereka seketika itu juga; dan kenapa-kenapa lainnya yang senantiasa mengusiknya.

Sudah lima tahun berlalu dan penyakit kulitnya belum sembuh juga. Tapi Joko tidak peduli. Mendiang ayahnya pernah berkata begini, “Kalau kamu malu, tutup saja matamu dan teruslah berjalan lurus, habis perkara.” Baru sekarang Joko berani mengamalkannya.

“Bagaimana, Nak. Apa sudah bulat tekadmu pulang kampung esok pagi?” tanya Kyai Shaleh. Joko mengangguk mantap. Dia memandang takzim guru mengajinya itu.

“Saya sudah siap dengan segala resikonya, Pak Kyai. Niat saya ikhlas ingin mengurus ibu saya yang lumpuh. Sebentar lagi adik saya satu-satunya akan menikah. Saya rasa inilah saatnya saya mengamalkan ilmu yang selama ini saya pelajari dari Pak Kyai.”

Kyai Shaleh menepuk-nepuk pundaknya. Lalu berkata, ”Ikhlas itu sesuatu hal yang sangat berat, Nak. Kamu siap dengan cobaan atas niatmu itu?”

Joko terdiam. Pantang baginya merasa jumawa atas hal yang belum tentu bisa dilewatinya. Dihelanya napas dengan berat, dan ditangkupnya kedua tangan gurunya.

“Saya tahu pasti akan berat, Pak Kyai. Saya tidak tahu apakah saya sanggup. Mohon doanya agar istiqomah….” Diciumnya kedua tangan itu penuh khidmat, seakan-akan tidak akan pernah dilepaskannya.

Setitik air mata turut menetes di sudut mata gurunya. Baginya Joko yang sekarang bukanlah Joko yang dulu, yang selalu menyalahkan Tuhan atas segala yang menimpa dirinya. Joko yang sekarang tak ubahnya seperti Nabi Ayub as yang senantiasa bersabar ditimpa ujian.

“Sebelum pergi besok pagi, jangan lupa mampir ke rumah. Ada titipan untuk ibumu,” pesan Kyai Shaleh. Pesan itu membuat Joko tak bisa tidur semalaman karena penasaran.

Esoknya, pagi-pagi sekali Joko sudah sowan ke rumah gurunya. Kebetulan beliau sedang mengajarkan kajian kitab Ihya’ Ulumuddin di ruang pendopo sejak sehabis shalat shubuh. Jantung Joko seakan mau copot saat tiba-tiba Kyai Shaleh memanggilnya di hadapan semua orang.

“Hari ini kutitipkan padamu, sesuatu yang paling berharga dalam hidupku. Kuharap dia akan memberikan bantuan yang besar dalam perawatan ibumu. Aku yakin kau akan amanah dalam menjaganya, Nak.”

Dada Joko semakin berdebar kencang ketika Kyai Shaleh tiba-tiba menjabat tangannya erat.

Ankahtuka wa zawwajtuka makhtubataka Binti Shaleh alal mahri shuratul Fatihah….”

Joko tersentak, buru-buru dijawabnya dengan bibir gemetar, “Qobiltu nikahaha wa tazwijaha alal mahril madzkuur wa radhiitu bihi, wallahu waliyut taufiq.”

“Sah?”

“Saaah,” jamaah menjawab lantang.

Semua orang mengangkat tangannya dan mengaminkan doa Kyai Shaleh.

Air mata Joko mengalir deras. Tubuhnya gemetar membayangkan amanah baru yang tiba-tiba diembannya. Namun dia lega, sangat lega meski putri Kyai Shaleh yang baru saja dinikahinya adalah seorang yang buta.

Jumlah kata : 500 kata.

Rabu, 27 Mei 2015

#FFRabu - Sebuah Pelarian



Aku terus saja menggoyang-goyangkan pinggulku. Musik yang berkumandang dari tape butut semakin rancak, para penonton semakin riuh bersorak.


Pria berbadan tegap yang berdiri di belakangku tersenyum semakin lebar. Dasar monyet tak berperasaan! Di malam hari dia meniduriku, di siang hari dia menyuruhku mencari uang untuk mengisi perutnya yang rakus!


Lagu terakhir selesai juga. Semua penonton bertepuk tangan dan melemparkan recehan ke dalam kardus. Para penonton mulai meninggalkan tempat ini. Pria itu terlihat sibuk memunguti koin yang tercecer. Aha! Kesempatanku tiba! Segera kuberlari sekuat tenaga meninggalkan pria itu. 


Sial! Aku lupa seutas rantai masih melingkar di leherku!


“Mau ke mana, Sarimin?”

Sumber


Jumlah kata : 100 kata.