Kamis, 07 Mei 2015

JURUS DAGANG MODAL DENGKUL A LA SAYA



Tujuan saya nulis ini murni untuk sharing aja. Soalnya saya yakin di antara teman-teman pasti ada yang lebih jago dan berpengalaman dagang daripada saya. Justru saya tulis di blog ini siapa tahu ada yang respon dan mau nambahin ilmu buat saya.

Sejak mulai bekerja sekitar sebelas tahun yang lalu, saya sudah nyambi jualan apa saja. Awalnya saya ikut MLM, macam-macam lah. Ada yang produknya kosmetik, baju dalam, sampai tas, dompet, dan pakaian. Pelanggannya biasanya teman-teman kantor. Alhamdulillah cukup lancar. Lumayan, marjinnya sekitar 30%. Tapi usaha saya berhenti justru saat omset saya mulai bertambah. Sebabnya sepele, kartu anggota MLM saya hilang dan saya malas mengurusnya, hihi. Alasan yang dicari-cari banget. Padahal sebenarnya sih karena saya mulai penempatan definitif di Jakarta.

Sempat juga saya jualan pulsa di kantor yang baru, karena dapat pinjaman modal dari teman, sayangnya saya gak rapi di pembukuan, jadi teman saya gak nerusin modalin. Saya bahkan jualan barang kerajinan marmer, lo! Iya, saya kan asli Tulungagung penghasil marmer terbaik sedunia (kalah Itali, mah!). Sayangnya saya kurang amanah waktu itu, jadi pembeli saya gak nerusin pembelian. Dari beberapa pengalaman itu, saya jadi paham kalau berdagang itu gak cukup dengan modal dan pangsa pasar aja. Attitude saya sebagai pedagang juga harus benar, amanah, dan rapi di pembukuan. Lha, kan ceritanya saya modal dengkul!

Cerita berlanjut setelah saya menikah dan di kantor baru lainnya, saya berdagang lagi. Biasanya barang titipan teman yang punya toko dan tidak terlalu laku. Sayang sekali, padahal barangnya bagus dan harganya murah, tapi kenapa bisa tidak laku? Ternyata lokasi tokonya kurang strategis. Inilah keuntungan saya sebagai pedagang dengan modal dengkul, saya bisa menjual barang titipan teman di kantor, tetap untung tanpa mengeluarkan biaya sewa. Biasanya kalau momennya pas, penjualan lumayan. Misal, pas lebaran saya suka jualan baju koko, atau pas tahun ajaran baru saya jualan buku, pas Ramadhan saya jualan buku-buku agama. Malah pernah pas gak ada momen apa pun saya jualan sandal Tasik titipan teman dan laku semuanya. Beneran saya pakai jurus jemput bola, cari “The Right Man for The Right Shoes…eh, Sandals!” Haha! Tapi gak semuanya cerita yang menyenangkan. Ada juga pengalaman yang gak enak, waktu teman nitip jual tas yang katanya kulit, tapi ternyata barangnya banyak yang tiruan di luaran sana, dengan harga yang lebih murah pula! Aaaak, tidak! Itu benar-benar mencoreng branding saya sebagai pedagang bermodal dengkul! Sejak itu saya gak bakalan jualin barang yang saya gak tahu persis bahannya. Alhamdulillah, berdagang memang barokah, membuat saya tambah ilmu baru: ilmu tentang material dan kualitas produk. Saya jadi tahu mana barang asli dan KW. Saya harus belajar banyak soalnya kalau jualan barang yang gak sesuai antara harga dan kualitasnya, jatuhnya syubhat, malah bisa jadi haram! Kan, gawat, to?

Saat ini, di kantor terakhir ini saya juga masih berdagang. Tapi alhamdulillah sudah berkembang, saya bukan hanya jadi distributor, tapi jadi supplier. Karena terinspirasi banget sama Sayyidah Khadijah r.a., saya selalu ingin modalin orang lain untuk berdagang, nitip barang ke beberapa orang untuk dijualkan kembali. Alhamdulillah ternyata saya lebih nyaman dengan cara ini, sebab gak mengganggu jam kantor. Sistem bagi hasilnya bisa dengan sistem persentase marjin laba atau bisa juga kita nitip barang dengan harga lebih murah nanti terserah labanya untuk mitra usaha kita. Tapi bukan berarti dengan cara ini saya hanya ongkang-ongkang kaki, lo. Justru peran saya cukup besar karena selain harus pintar-pintar mengelola modal awal agar selalu bisa diputar, saya juga harus pintar mengetahui selera pasar, mencari barang yang berkualitas namun berharga lebih miring sehingga saya bisa menitip jual lagi, dsb. Di sinilah berkahnya dagang, hobi saya yang suka belanja jadi tersalurkan dengan positif, plus saya jadi banyak cari tahu ilmu tentang bahan, kualitas, dan sistem pemasaran yang baik. 

Benarlah memang, ketika Rasulullah SAW bersabda bahwa 9 dari 10 pintu rezeki itu bisa terbuka dari jalan perdagangan. Saya merasakan sendiri, karena bukanlah keuntungan harta tujuan utama saya, saya merasa terberkahi karena bisa kenal dan bersilaturrahmi dengan banyak orang, bisa mengasah keahlian berkomunikasi juga, bisa nambah ilmu marketing, dan bisa membantu menjadi jalan rezeki bagi orang lain. Rezeki toh bukan hanya tentang materi bukan? 

Strategi pemasaran yang utama adalah membangun jaringan. Dan jaringan yang baik adalah jaringan silaturrahmi, yang penuh ketulusan dan amanah, bukan semata karena motif ekonomi. Karena dengan kepercayaan itu, saya bisa mengambil barang dari supplier langganan dengan harga grosir meski belinya satuan, dan barang juga bisa ditukar kalau tidak laku. Dengan kepercayaan itu pula saya anteng saja menunggu barang-barang dagangan saya balik modal dengan sendirinya karena dipegang oleh orang yang amanah. Alhamdulillah, sungguh menentramkan.

Mimpi saya berikutnya adalah menjadi personal/private buyer yang dibutuhkan dan dipercaya orang. Apakah itu? Itu adalah pekerjaan yang menurut saya keren. Seseorang yang profesinya mencari barang yang diinginkan pembeli sesuai spesifikasi dan anggaran yang diinginkan dan dia dapat fee untuk itu (kayak Miss Jinjing gitu loh!). Saya suka banget profesi ini soalnya cukup menantang dan rasanya puas banget kalau pelanggan senang. Seingat saya sih baru dua kali mendapat orderan itu dan alhamdulillah pelanggannya puas. 

Semoga ke depannya semakin banyak orang yang mau jadi pelaku bisnis, sekecil apapun, karena akan menggerakkan roda perekonomian mikro. Saya optimis, pangsa pasar masyarakat kita yang konsumtif masih terbuka lebar. Kalau jeli melihat peluang, kita bisa meminimalisir kerugian. Atau kalau mau lebih secure lagi, kita jual saja barang-barang yang suka kita pakai. Insya Allah kalau gak laku kan bisa dipakai sendiri atau disedekahkan. Tetap berkah, to?

Sekian sharing dari saya. Kapan-kapan saya sharing lagi ya, tentang jurus saya yang lainnya. Semoga bermanfaat! 

Rabu, 06 Mei 2015

#FFRabu – RAMALAN KI WONGSO


“Jangan menikah dengannya, Ndhuk. Nanti rezekimu sempit. Menurut ramalan Ki Wongso, wetonmu sama calonmu itu gak cocok. Perhitungannya jarang meleset, lo,” sabda ibuku.
Dadaku gemuruh mendengarnya. Kuyakin daun telingaku juga memerah. Namun demi baktiku, amarahku berhenti sampai di tenggorokan saja.
“Lalu Ibu maunya saya menikah dengan siapa? Sudah calon kelima lo, Bu. Tahun depan umur saya sudah kepala tiga. Saya sudah lelah menjalin hubungan dengan pria kalau ujung-ujungnya Ibu menolak pilihan saya,” keluhku masygul.
“Menurut Ki Wongso, hanya ada satu weton yang cocok untukmu, lelaki yang lahir Kamis Pahing saat senja. Di desa ini hanya ada satu, Ndhuk: Ki Wongso.”


Jumlah kata : 100 kata.

Rabu, 29 April 2015

#FFRabu - SURAT-SURAT KEPADA TUHAN

Sumber




“Tuhan, berikanlah padaku jodoh seorang pria yang tampan dan kaya.”


“Tuhan, berikanlah padaku jodoh seorang pria yang shalih dan berhati mulia.”


“Tuhan, berikanlah padaku istri yang shalihah sebagai penyejuk mataku.”


“Tuhan, benarkah dia jodohku? Sepertinya dia bukan orang kaya….”


“Tuhan, benarkah dia jodohku? Apakah dia benar-benar mampu menjadi imam bagiku?”


“Tuhan, berikanlah petunjukmu, manakah yang harus kupilih? Sang Kakak yang cantik jelita atau si Adik yang bersahaja?”


“Tuhan, aku ingin jodoh yang lebih kaya. Aku mohon, pertemukanlah aku dengan lainnya….”


“Tuhan, terima kasih telah memberikan jodoh untuk kakakku.”


“Tuhan, aku sudah memilih : sang Kakak untuk ayahku, si Adik untukku.”


Jumlah kata : 100 kata.

Prompt #76 - Chronicle de Gargoyle

Sumber


Jangan pernah tanya siapa sebenarnya aku, karena aku takkan pernah bisa menjawabnya. Sejak dulu, aku sudah seperti ini. Tubuhku menjadi patung setiap kali terkena sinar matahari. Dan itu sungguh menyiksaku. Membuatku merasa terkekang dalam tubuhku sendiri, tanpa pernah mampu menuntaskan dahagaku akan darah. Ya, itulah sedikit kegemaranku di saat malam tiba, berburu darah manusia. Itu pun juga bukan sembarang manusia. Aku hanya menyukai darah manusia yang berwatak kejam dan berhati keji. Dan tahukah darah apa yang paling kubenci? Darah orang-orang suci adalah yang terburuk. Mereka yang seumur hidupnya menahan nafsu duniawi selalu membuatku lemah dan merasa terkutuk. Beruntung sekali akhir-akhir ini jenis manusia seperti ini semakin berkurang. Aku semakin bebas berburu, terutama bila bulan keperakan sempurna bersinar di langit, membuatku semakin leluasa mengejar mangsaku.
Malam ini adalah malamku yang sempurna. Bulan purnama bersinar terang tanpa sedikit pun awan hitam melingkupinya. Sayapku yang kokoh mengepak di langit, berputar-putar mengitari daerah ini semenjak gulita penuh merajai bumi. Taringku mulai basah, penuh liur berceceran, seakan rindu melepaskan dahaga. Mataku nyalang menatap dataran yang terhampar, mencari calon korban baru yang terbengis, sebab darah mereka mampu membuatku kenyang lebih lama. 
Di salah satu titik kutangkap bayangan seseorang yang berbuat keonaran. Ah, seorang pencuri ternak sedang beraksi rupanya! Cih, kurang menarik! Kubelokkan arah terbangku ke daerah pegunungan. Malam masih panjang, setidaknya aku bisa mencari seorang pembunuh untuk kumangsa.
Ah, itu dia! Seorang pria sedang membawa sebilah pedang berlumuran darah. Di sampingnya tergeletak sebujur tubuh yang memucat. Akhirnya, kesabaranku tidak sia-sia.
Dalam keheningan kudaratkan kakiku pelan di atas tanah. Kudekati sosok pria itu dari belakang tanpa menimbulkan suara. Cakar-cakarku seketika mencuat dari ujung-ujung jariku, siap menerkamnya. Tiba-tiba dia berbalik menantangku.
“Kau pikir bisa memangsaku, Gargoyle tua?” hardiknya sambil mengacungkan pedang. Sial! Pedang itu bersinar terang, nyaris membutakanku!
“Grooaaarrgh!”
“Meraung saja sesukamu! Kau takkan bisa mengalahkanku! Aku sudah curiga kaulah pelaku semua pembunuhan di daerah ini. Sebelumnya kupikir Von Dracula pelakunya, ternyata aku salah!”
Aku menggeram lagi. Kali ini menyadari ada sosok lain yang mengepungku dari belakang.
“Benar, kan, Van Helsing. Bukan aku pelakunya. Aku hanya menyukai darah perawan dan janda muda. Sudah kubilang semua korban itu bukan seleraku,” ujar pria yang tadi tergeletak di tanah. Ah, rupanya dia hanya pura-pura.
Crass!
Aaak! Sabetan pedang itu hampir saja memutus sayapku!
“Grooaaarrgh!”
Kucoba mengepakkan sebelah sayapku yang utuh. Sebentar lagi matahari bersinar terang. Aku tak ingin orang-orang heboh mendapati patung Santo yang biasa mereka ziarahi berpindah tempat tanpa sebab.
Jumlah kata : 400 kata.

Yuk, ikutan Prompt #76 MFF di sini ya!

Rabu, 22 April 2015

#FFRabu – MAMA DAN LOUIS



“Louis!”


Lagi-lagi ibunya memanggil, mengusik remaja lima belas tahun itu.


“Ya! Sebentar lagi selesai, Mama!” teriaknya dari dalam kamar.


Ibunya menggeleng sambil menghela napas. Ditatanya beberapa iris roti baguette dan semangkuk sup krim jamur di atas nampan, lalu diantarkannya ke kamar putranya.


“Mau menulis sampai kapan? Kamu belum makan seharian!” tegur ibunya.


Remaja itu tersenyum. Aroma sup ibunya sungguh menggelitik perutnya. Namun dia menggeleng. Wajahnya kembali serius menekuni pekerjaanya semula, menusuk-nusukkan stylus ke sehelai kertas tebal di atas papan kayu.


“Sebentar lagi buku yang akan menerangi dunia orang-orang sepertiku akan selesai, Mama!”


Nyonya Braille tersenyum haru memandang putranya yang gembira

 
Sumber


Jumlah kata : 100 kata.


Stylus : alat semacam paku yang digunakan untuk membuat huruf Braille sebelum ditemukan mesin pencetak huruf Braille.