Catatan:
Teman-teman juga bisa membaca esai lain yang mendapatkan Juara I Lomba Tulisan Islami Masjid Salahuddin DJP 1439 H dengan klik di sini.
hanya untuk melepas lelah
Menurut sejumlah pakar, kehadiran
kecerdasan buatan (AI) dalam kehidupan kita dapat memicu bencana besar, bahkan dinilai
setara dengan perang nuklir. Salah satu kekhawatiran terbesar adalah
kehadirannya dapat menggantikan peran manusia di berbagai bidang.
Namun, saya tidak sepenuhnya setuju
dengan pernyataan itu. Sebab, menurut saya semuanya tergantung manusia yang
mengendalikan AI tersebut. Kecerdasan buatan seharusnya lebih banyak dikembangkan
untuk kemaslahatan umat manusia. Contohnya dalam dunia kepenulisan, AI dapat
digunakan untuk memudahkan dalam menulis artikel opini yang berkualitas.
Sekeping Ide di Semesta
Penulis artikel sering mengalami
kesulitan dalam mencari ide tulisan yang segar dan relevan. Itulah sebabnya,
kecerdasan buatan seperti Chat GPT sangat berguna dalam hal ini. Chat GPT
adalah model bahasa AI yang mampu menghasilkan teks berdasarkan input pengguna.
Dengan menggunakan Chat GPT, penulis artikel dapat dengan mudah mencari ide-ide
tulisan baru.
Misalnya, jika seorang ingin
menulis tentang dampak perubahan iklim terhadap lingkungan, dia dapat
memasukkan pertanyaan atau pernyataan terkait dalam Chat GPT. Platform ini akan
merespons dengan memberikan ide-ide dan gagasan yang dapat digunakan sebagai
dasar untuk artikel. Hal ini dapat menghemat waktu penulis dan membantu mengeksplorasi
berbagai sudut pandang tentang topik tersebut. Dapat dikatakan model AI ini
dapat menjadi teman diskusi yang sangat pintar, asalkan penulis memahami cara
memasukkan prompt ke Chat GPT.
Prompt dalam konteks ChatGPT
merujuk kepada teks atau perintah awal yang diberikan kepada Chat GPT untuk memberikan
respons, utamanya memberikan jawaban dalam bentuk teks. Sebenarnya, Chat GPT
dapat memberikan lebih dari itu, namun dalam artikel ini, saya batasi konteks
penggunaannya agar lebih fokus pada tema artikel ini.
Untuk membuat prompt yang lebih spesifik sesuai dengan kebutuhan kita, ada beberapa tips yang dapat dilakukan. Pertama, jadikan pertanyaan atau permintaan jelas. Semakin jelas dan spesifik pertanyaan kita, Chat GPT akan semakin baik dalam menghasilkan jawaban yang relevan.
Kedua, gunakan kata kunci atau konteks yang relevan. Hal ini akan membantu Chat GPT dalam memahami konteks dan memberikan jawaban yang lebih sesuai. Ketiga, tentukan konteks atau batasan. Misalnya, jika ingin mendapatkan informasi tentang tips menulis, sebutkan jenis artikel yang ingin kita tulis dengan detail seperti feature, opini, atau karya ilmiah, dan sebagainya.
Intinya, semakin spesifik dan
jelas prompt yang dibuat, Chat GPT akan benar-benar membantu dalam
mengail ide di semesta maya. Jangan sungkan untuk mempelajari cara menulis
prompt yang efektif melalui youtube, kursus AI, maupun komunitas daring agar Chat
GPT memberikan respons optimal.
Bertamasya di Hutan Literatur
Setelah berhasil mendapatkan ide, langkah selanjutnya adalah mencari referensi dan literatur yang relevan. Di sinilah Harzing Publish or Perish, sebuah perangkat lunak yang digunakan untuk analisis literatur akademik, dapat membantu. Harzing Publish or Perish dapat digunakan untuk mencari dan mengevaluasi karya-karya penelitian yang relevan dengan topik artikel.
Harzing Publish or Perish dapat mengumpulkan data dari berbagai sumber seperti Google Scholar, PubMed, Scopus, dan lain-lain. Ini memungkinkan penulis artikel untuk dengan mudah mengidentifikasi penelitian-penelitian terkini yang relevan dengan topik mereka. Selain itu, perangkat lunak ini juga dapat memberikan informasi tentang seberapa sering sebuah karya dikutip, sehingga membantu penulis untuk menilai kualitas dan pengaruhnya dalam bidang tertentu.
Bagi yang mau mengunduhnya bisa dipelajari dan diklik di link ini.
Menyusun Kepingan Ide
Setelah memiliki ide dan
referensi, penulis artikel perlu menyusun tulisan mereka dengan efisien. Kecerdasan
buatan juga dapat membantu dalam hal ini, contohnya aplikasi Grammarly. Meskipun
lebih dikenal untuk bahasa Inggris, Grammarly telah memperluas cakupannya untuk
mendukung beberapa bahasa lain, termasuk bahasa Indonesia. Aplikasi ini
membantu dalam mendeteksi kesalahan tata bahasa, ejaan, dan gaya penulisan.
Apabila artikel ditulis dalam bahasa
Ingris, beberapa aplikasi seperti JasperDocs, Write with Transformer, Hemingway
Editor, ProwritingAid memungkinkan pengguna untuk mendapatkan saran penulisan
berbasis AI. Bagi penulis yang ingin menulis artikel di level internasional, AI
juga dapat membantu dalam menerjemahkan artikel ke berbagai bahasa.
Dalam beberapa artikel, analisis
data dan statistik mungkin diperlukan. Kecerdasan buatan dapat membantu penulis
dalam pengumpulan, analisis, dan visualisasi data. Aplikasi seperti pustaka
pandas dapat digunakan untuk mengolah data secara efisien. Selain itu, AI juga
dapat membantu dalam pembuatan grafik dan tabel yang memudahkan pembaca untuk
memahami hasil analisis.
Tunjukkan Pesona Artikelmu
Setelah tulisan terpublikasi, penting
bagi penulis artikel untuk memastikan tulisan dapat ditemukan oleh pembaca yang
potensial, agar manfaatnya semakin besar. Kecerdasan buatan dapat membantu
dalam penelitian kata kunci dan optimisasi mesin pencari (SEO).
Aplikasi seperti SEMrush dan
Ahrefs menggunakan kecerdasan buatan untuk menganalisis kata kunci yang paling
relevan dengan topik artikel, sehingga membantu penulis untuk meningkatkan
visibilitas kontennya di mesin pencari seperti Google.
Kesimpulannya, kecerdasan buatan telah membuka
pintu bagi penulis artikel untuk menjadi lebih produktif dan efisien. Namun,
perlu diingat bahwa AI hanya alat bantu. Kreativitas, pemahaman mendalam
tentang topik, dan kemampuan menulis yang baik tetap menjadi faktor penting
dalam penulisan artikel yang berkualitas. Menurut saya, kehadiran AI tidak akan
sepenuhnya bisa menggantikan rasa bahasa dan kreativitas manusia, hal penting yang hingga saat
ini masih sulit dikejarnya.
Tak perlu takut bersaing dengan AI dan jadikan ia senjata baru yang digunakan untuk lebih banyak menebarkan manfaat bagi sesama. Psst, setengah dari artikel ini dibuat dengan bantuan AI, loh. Bagaimana menurutmu? Silakan komentar di kolom bawah ya!
“Bermimpilah, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu” - Andrea Hirata.
Pelantang suara kabin membangunkanku dari tidur lelap. Pilot menginformasikan beberapa menit lagi pesawat akan mendarat di Kingsford-Smith, Sydney. Dadaku disesaki rasa lega, takut, sekaligus cemas. Apakah perjalanan kami menuju Melbourne akan lancar hari ini?
Kucoba membangun pikiran positif. “Setidaknya kamu sudah menyelesaikan setengah perjalanan, Lia!” bisikku. Sebagai orang yang belum pernah ke Negeri Kanguru, memahami aksen Inggris-Australia menjadi tantangan. Padahal, dalam waktu singkat aku harus belajar ilmu baru di sana.
Di dalam bandara, suasana sangat padat. Kabarnya, saat itu musim liburan sekolah, banyak yang berpelesir bersama keluarga. Australia membebaskan warganya tidak mengenakan masker, sehingga orang-orang berlalu-lalang tanpa masker. Hal ini menambah rasa khawatirku.
Aku dan rekanku mengantre di bagian imigrasi. Antreannya panjang dan lama. Karena mencentang beberapa data di formulir cukai, kami perlu ke tempat pengecekan khusus. Setelah semua proses selesai, kami mencari-cari jalan ke area transit menuju Melbourne. Seharusnya semua lancar dalam waktu sejam.
***
Ternyata perkiraanku meleset. Sejam sebelum jadwal keberangkatan, orang-orang dari berbagai arah menyerbu antrean menuju pemberangkatan. Di depan kami tiba-tiba sudah panjang antrean.
Di ujung antrean kulihat seorang petugas wanita. Terengah-engah kuberlari ke arahnya.
“Kembali ke barisan dan ikut mengantre saja!” teriak petugas. Jelas tak ada keramahan di nada bicaranya. Gawat! Bagaimana kalau terpaksa bermalam di bandara? Pikiran buruk perlahan berkecamuk.
“Tapi penerbanganku beberapa menit lagi!” jelasku. Kutunjukkan tiket di tangan. Dia menggeleng.
“Tetap mengantre dan kami akan terbitkan ulang tiketnya,” dia menutup pembicaraan dan beralih melayani pengunjung lainnya. Lututku lemas.
Segera kuhampiri rekanku dan menjelaskan situasinya. Tak ada yang bisa kami lakukan selain menunggu.
***
“Tidak ada penerbangan setelah ini. Semuanya habis karena musim liburan. Kami akan jadwalkan ulang besok pagi. Kalian bisa pesan hotel di area bandara, nanti bisa di-refund, bla bla bla” kepalaku mulai pening, mencoba mencerna penjelasannya. Kali ini bukan soal aksen.
Terdampar di tempat asing dengan kondisi di luar rencana sungguh menguji ketabahan. “Tenang Lia, kamu pasti bisa!” batinku menyemangati.
Kami memutuskan berpindah ruangan, mencari sinyal internet. Kolega kami dari Australia harus terinfokan perubahan mendadak ini, juga pimpinan kami. Syukurlah di bandara ada sinyal WiFi yang bisa digunakan. Kolega kami bersedia membantu memesankan hotel.
Aku segera berjalan ke area pertokoan di dalam bandara, membeli nomor HP lokal. Kami harus memesan taksi daring dan keluar dari bandara secepatnya. Membeli nomor baru lebih mahal di bandara, lebih murah beli di toko retail. Tapi apalah daya, prioritas kami adalah ke penginapan secepatnya.
***
Hujan menyambut kami di Sydney. Beruntung hotel kami hanya beberapa menit dari bandara. Setelah lapor masuk ke resepsionis, kumasuki kamar. Kusapu pandangan ke sekeliling ruangan, sangat rapi dan nyaman.
Pemandangan dari jendela juga cantik. Tiba-tiba rasa kangen rumah menyergap. Keluargaku di tanah air sedang apa ya?
Sore itu kami sepakat berjalan kaki ke stasiun Mascot. Tak ada makanan di kamar, padahal lapar sudah menyerang sejak siang. Beberapa pekan sebelum keberangkatan, kubiasakan diri tak makan nasi. Sepotong roti sepertinya akan cukup mengganjal perut.
Di sepanjang jalan, tak cukup hujan deras, angin kencang pun menerjang tubuhku. Tiupan angin mematahkan rangka payung yang baru kubeli. Bajuku basah, sepatu juga basah. Kulangkahkan kaki lebar-lebar, setengah berlari mengikuti rekanku yang berjalan di depan.
Tentu saja dia terburu-buru, sebab hendak membeli nomor HP baru. Seperti kubilang, lebih murah di toko retail seperti Woolworths. Sebelum ke stasiun Mascot, kami mampir ke supermarket yang menguasi sepertiga pasar retail Australia itu. Sementara rekanku berbelanja, kusempatkan berfoto di depan supermarket.
***
Di stasiun Mascot, rekanku membelikan tiket lantaran aku tak punya kartu kredit. Untungnya dia tak mengomel, hanya geleng-geleng kepala. Mungkin dia heran, di zaman modern ini ternyata ada manusia yang tak memakai kartu kredit. Masalahnya, sebagian besar transaksi di sana menggunakan kartu kredit. Dengan kondisiku itu, terbayang kan, ke depannya seperti apa.
Kereta kami melaju menuju Circular Quay. Beberapa hari sebelumnya, aku melihat status medsos teman yang sedang berlibur ke Sydney dan naik kereta yang sama. Saat itu hatiku berbisik ingin naik kereta itu. Ajaibnya, beberapa hari kemudian, keinginan itu mewujud! Sampai merinding dibuatnya.
Sepanjang perjalanan kulemparkan pandangan ke luar jendela kereta. Hujan masih deras, udara semakin dingin. Detak jantungku melompat-lompat gembira. Beberapa menit lagi kereta kami akan berhenti.
Aroma laut menguar seketika. Pemandangan di jendela didominasi kapal-kapal yang hendak berlabuh, burung yang hinggap di pagar stasiun, seperti mimpi di sore hari. Samar terlihat bangunan putih di kejauhan, bentuknya serupa cangkang raksasa. Ya, itu Gedung Opera!
***
Senja itu, kuhabiskan waktu di dermaga. Hujan belum berhenti mengguyur pelabuhan, suasana sepi pengunjung. Kunikmati senja dalam diam. Langit kelabu, lampu-lampu bulat dengan ukiran khas, meja-meja kosong yang basah. Kubayangkan suasana seandainya tak turun hujan, pasti lebih indah dan romantis.
Hujan ini menambah galau. Apakah ini pertanda buruk? Rasa tak percaya diriku mulai kambuh.
Akankah perjalananku kali ini akan berhasil? Akankah dalam waktu singkat aku berhasil menguasai ilmu itu dan menerapkannya di Indonesia? Apakah aku, yang belajar Bahasa Inggris secara autodidak ini akan bisa memahami semua penjelasan mereka?
Buru-buru kutepis pikiran itu. Tak ada sehelai daun yang jatuh tanpa perkenan-Nya. Kuyakini hujan ini adalah anugerah, pembuka jalan untukku menikmati dermaga sepuasnya. Aku meyakini keberadaanku di sini bukan tanpa sebab. Bagiku, rencana yang gagal adalah rencana yang tidak pernah dicoba.
“Setidaknya kamu sudah menyelesaikan setengah perjalanan, Lia!” bisikku berulang-ulang.
Sejak tadi, rekanku sudah pergi. Dia berjanji menemui temannya di stasiun lain. Tinggal aku sendiri menanti seseorang yang istimewa.
***
Sosok ini kukenal di Komunitas Sastra Kemenkeu dan sangat piawai membaca puisi. Kebetulan ia sedang menyelesaikan S2 di sana, jadi kupikir siapa tahu bisa menyempatkan berjumpa. Tak dinyana ia merespons pesanku beberapa jam sebelumnya. Setelah beberapa menit menunggu, kami berhasil bertemu.
“Kalau dipikir-pikir, ini pertama kalinya kita ketemu di dunia nyata ya?” kelakarnya.
Aku tergelak. Selama pandemi memang komunitas kami lebih sering mengadakan acara daring. Anehnya, meski belum pernah berjumpa secara fisik, aku merasa dekat dengannya. Kehangatan dan kerendahan hatinya tepat seperti perkiraanku selama ini.
Mungkin benar kata Rumi, “Lovers don’t finally meet somewhere, they’re in each other all along.” Kalau sudah sehati, rasanya keberadaan fisik jadi tak terlalu relevan. Duh, jadi melantur ke mana-mana.
***
“Mbak, aku ga pede nih, kalau gagal gimana?” lega rasanya setelah mengungkapkan isi kepalaku. Dia tersenyum.
“Jangan terlalu keras sama dirimu, Mbak,” ucapnya bijak.
Nyess, seperti ada yang mencair di hatiku. Selama ini aku terlalu menuntut untuk sempurna. Padahal beberapa hal bisa saja terjadi di luar rencana. Dan itu tidak apa-apa. Sebab kita manusia biasa, kuasanya sangat terbatas. Alih-alih fokus dengan apa yang tidak bisa dikendalikan, kenapa tidak fokus pada apa yang bisa dikendalikan?
Seharusnya aku bisa mengendalikan pikiran terlebih dulu kan?
Kami menghabiskan waktu di bagian rubanah Gedung Opera, di restoran dengan pemandangan laut yang indah. Malam itu kehadirannya seperti hadiah kedua setelah hujan yang turun seharian ini. Atau kalau dihitung dengan kondisi perubahan jadwal penerbangan kami, ini bisa dibilang hadiah ketiga.
Ah, rupanya aku salah besar. Sebenarnya lebih banyak lagi anugerah Tuhan yang belum kusyukuri. Bahkan tak berbilang jumlahnya, sebab kepicikan caraku memaknai berbagai situasi yang ada.
Penulis: Edmalia Rohmani
Penyunting: Devi Isnantiyasari
![]() |
Dok: Narasumber |
Kegiatannya di bidang sosial rupanya tidak berhenti sampai di situ. Di tahun 2017 ia mendirikan Yayasan yang bernama Rumah Marketer Indonesia. Yayasan tersebut didirikan sebagai wadah pelatihan bisnis daring dan pemasaran untuk UMKM di Jakarta dan sejumlah kota lainnya, seperti Depok, Bogor, Batam, Balikpapan, dan Samarinda.
UMKM memang lekat dengan keseharian pria yang berdomisili di Sawangan, Depok ini. Ia mengaku melakukan pendekatan kepada wajib pajak UMKM dengan memberikan perhatian lebih terhadap perkembangan usahanya. Selain menanyakan kondisi usaha, cara pemasaran dan kendala yang dihadapi para pengusaha UMKM, ia juga mencoba untuk memberikan alternatif solusi atas kendala yang sedang dihadapi. Misalnya, di bidang pemasaran, Chairul Saleh mengajarkan cara berjualan daring melalui marketplace.
Chairul Saleh pun membagi salah satu kisah menarik kepada pembaca bahwa dulu pernah ada salah seorang pengusaha UMKM yang menjual produk herbal di tokonya saja, tanpa menggunakan marketplace untuk memasarkan produknya. Lalu Chairul Saleh mengajarkan strategi berjualan di marketplace. Alhamdulillah, tahun ini penjual UMKM tersebut datang menemui dirinya dan menceritakan bahwa usahanya telah bertambah besar dan hasil penjualan dari marketplace sangat tinggi. Tahun ini pula, di 2020, pengusaha UMKM tersebut meminta kepada Chairul Saleh membuatkannya kode billing untuk membayarkan pajaknya selama 3 tahun terakhir.
Pengalamannya yang malang melintang dalam membersamai UMKM selaras dengan filosofi program Business Development Services (BDS) yang diinisiasi DJP sejak 2015. Kemampuan Chairul Saleh di bidang pemasaran digital mengantarkannya untuk kali pertama menjadi narasumber program BDS pada 2018 di Kantor Wilayah DJP Kalimantan Timur dan Utara.
Dari acara BDS tersebut, permintaan sebagai narasumber untuk mengajarkan pemasaran digital ke UMKM terus mengalir, mulai dari Dinas Koperasi dan UMKM Kota Depok pada tahun 2018, program BDS di beberapa kantor wilayah DJP, dan kelas-kelas UMKM di luar jam kerja.
“Cita-cita saya, 5 tahun ke depan, wajib pajak UMKM yang saat ini sering saya bina, ikut pelatihan dan konsultasi serta mendapatkan banyak fasilitas pelatihan yang dilaksanakan oleh DJP, berkesempatan untuk naik kelas menjadi sebuah perusahaan yang berbadan hukum, memiliki karyawan, berkontribusi membayar pajak dengan baik dan benar, serta bisa membantu UMKM lainnya yang baru merintis. Ekosistem inilah yang kelak semoga terjadi di negeri ini. Sehingga, gotong royong untuk terus membangun negeri, mewujudkan negeri yang makmur, menjadi tugas bersama,” ujarnya optimistis.
Baginya, UMKM memiliki karakter yang unik. Selain menjadi tulang punggung perekonomian negara, kebanyakan pelaku UMKM adalah wanita. Karena wanita punya semangat juang dan daya tahan yang tinggi, mereka mampu bertahan dalam segala kondisi, demi menopang ekonomi keluarga. Hal inilah yang mendorong pria yang dipanggil Chairul ini untuk terus membantu para pelaku UMKM. Sebab di belakang mereka, ada keluarga yang harus dipenuhi kebutuhannya.
Di masa pandemi ini, UMKM menghadapi berbagai tantangan ekonomi. Pembatasan sosial berskala besar memutus mata rantai distribusi. UMKM kesulitan memasarkan produknya. Menurunnya penjualan akibat turunnya daya beli masyarakat makin memperkeruh situasi. Di tengah kondisi ini, pemerintah membuat kebijakan untuk memberikan insentif pajak untuk UMKM.
Menyikapi hal ini, Chairul berpendapat, “Insentif UMKM ini sangat membantu untuk teman-teman UMKM. Untuk sementara ini, jatah pajak 0,5% yang biasanya disetorkan ke negara, selama masa pandemi bisa dialihkan untuk biaya promosi atau pemasaran, untuk menambah modal, atau kebutuhan lainnya. Sehingga, meskipun terdampak Covid-19, UMKM tetap bisa naik penjualannya. Meski tidak seperti dulu kala.”
Sayangnya, menurut Chairul, mayoritas wajib pajak UMKM belum mengetahui jika pemerintah membuat kebijakan terkait insentif Covid dan bagaimana cara memanfaatkannya. Karena pada level UMKM, mereka mempunyai keterbatasan waktu dan media untuk mendapatkan informasi seperti ini. Apalagi selama pandemi, ponsel mereka juga dipakai untuk kebutuhan belajar sekolah anak selama pelaksanaan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Wajib pajak UMKM perlu diberikan kemudahan akses informasi dan mekanisme dalam memanfaatkan insentif ini.
Untuk itu, ia tak pernah berhenti membantu UMKM untuk bertahan di masa pandemi, sekaligus memberikan informasi terkait insentif ini. Ia menyadari bahwa insentif saja tak cukup untuk membantu UMKM bertahan di masa penuh turbulensi. Kemampuan UMKM dalam menguasai teknik pemasaran digital adalah salah satu solusi yang bisa ditawarkan kepada wajib pajak melalui program BDS. Dengan program ini, wajib pajak UMKM akan tetap bertahan dan bahkan semakin maju sehingga ketika nanti insentif ini tidak lagi diberikan, wajib pajak UMKM akan kembali dapat berkontribusi kepada negara.
Bagi Account Representative (AR) yang bertugas di KPP Pratama Jakarta Palmerah ini, hal yang ia lakukan adalah bentuk meneladani dan mengamalkan ilmu jualan yang pernah diajarkan kedua orang tuanya. Mereka adalah sosok yang menginspirasinya dalam berbuat kebaikan.
Konsistensi Chairul Saleh dalam membantu UMKM membuatnya terpilih menjadi salah satu PNS Inspiratif dari KemenPAN-RB. Sederet prestasi yang diraihnya di dunia kerja antara lain: juara 3 Penghargaan Kinerja Pegawai Kanwil DJP Jakarta Barat tahun 2019, inisiator program WA Blast untuk peningkatan kepatuhan pelaporan SPT wajib pajak, sebagai bagian dari Tim Program Inklusi Sadar Pajak Kanwil DJP Jakarta Barat, serta capaian penerimaan individu AR sampai dengan September 2020 telah meraih 197% dari target.
Ia berprinsip bahwa setiap nikmat yang dirasakannya harus bermanfaat, baik bagi institusi maupun bagi masyarakat luas. Baginya, dunia sudah pasti, sedangkan akhirat belum pasti. Dengan membersamai wajib pajak UMKM naik kelas, ia dapat meraih keduanya dalam satu rengkuhan. Maka nikmat manakah yang bisa ia dustakan?
Catatan: Artikel ini pertama kali ditayangkan di majalah INTAX edisi 4-2020.
Per 1 Juli 2020, pemerintah mengenakan PPN atas pemanfaatan produk dan/atau jasa digital dari luar negeri sebesar 10% dari nilai yang dibayarkan oleh konsumen dalam negeri. PPN jenis barukah ini?
Selain menganut negatif list, negara kita juga menganut prinsp destinasi yang berarti PPN dipungut atas konsumsi yang dilakukan di dalam yurisdiksi negara tempat terjadinya konsumsi.
Dalam Pasal 3A angka (3) UU PPN, tanggung jawab pemungutan, penyetoran, dan pelaporan PPN diamanatkan kepada orang pribadi atau badan yang memanfaatkan Barang Kena Pajak (BKP) Tidak Berwujud dan/atau jasa dari luar daerah pabean. Aturan teknisnya tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 40/PMK.03/2010 dan Surat Edaran (SE) Direktur Jenderal Pajak Nomor SE-147/PJ/2010.
Penetrasi internet yang tinggi merupakan pemicu meluasnya penggunaan barang dan jasa digital dari luar negeri. Sayangnya, tak semua konsumen Indonesia memahami dan melaksanakan kewajiban pemungutan, penyetoran, dan pelaporan PPN tersebut. Kondisi ini menyebabkan hilangnya potensi penerimaan negara. Dikutip dari media massa, potensi ekonomi digital di Indonesia bisa mencapai Rp10,4 triliun.
Seiring dengan perkembangan zaman, jenis produk dan jasa digital semakin beragam. Aturan di atas belum memerinci jenis BKP tidak berwujud dari luar negeri, serta belum memberikan penegasan atas objek pajak berupa produk dan jasa digital. Padahal terdapat isu terkait keadilan dalam berusaha (level of playing field) antara pengusaha produk dan/atau jasa digital dari dalam dan luar negeri sehingga perlu diterbitkan regulasi agar tercipta kesetaraan dalam berbisnis sekaligus menutup celah kebocoran potensi PPN.
Melalui Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) Nomor 1 Tahun 2020 yang telah disahkan menjadi Undang-Undang (UU) Nomor 2 Tahun 2020, pemerintah memberikan amanat kepada Menteri Keuangan untuk menunjuk pengusaha luar negeri yang memenuhi syarat sebagai Pemungut PPN Perdagangan Melalui Sistem Elektronik (PMSE).
Melalui PMK Nomor 48/PMK.03/2020, Menteri Keuangan melimpahkan wewenang penunjukan Pemungut PPN PMSE kepada Direktur Jenderal Pajak, sekaligus menentukan kriteria dan syarat bagi pengusaha luar negeri untuk ditetapkan sebagai Pemungut PPN PMSE.
Kriteria tersebut tercantum dalam Peraturan Direktur Jenderal Pajak (Perdirjen) Nomor 12/PJ/2020, yakni nilai transaksi konsumen Indonesia melebihi Rp600 juta dalam dua belas bulan atau Rp50 juta dalam sebulan dan/atau jumlah pengakses dari dalam negeri melebihi 12 ribu dalam dua belas bulan atau seribu dalam satu bulan.
Kriteria ini bukan tanpa sebab, selain pertimbangan efektivitas biaya kepatuhan pajak dibandingkan dengan potensi pajak, terdapat juga alasan kemudahan berusaha bagi pengusaha luar negeri yang masih berstatus perintis dan belum melewati ambang batas yang ditetapkan.
Namun, jika pengusaha luar negeri yang belum ditunjuk melakukan pemberitahuan ke DJP, maka pengusaha tersebut dapat ditetapkan sebagai Pemungut PPN PMSE.
Untuk menarik minat calon Pemungut PPN PMSE dan meningkatkan kepatuhan Pemungut PPN PMSE yang ditunjuk, kemudahan dan simplifikasi adalah semangat yang diusung beleid tersebut.
Pemungut PPN PMSE tidak perlu menerbitkan faktur dan cukup menggunakan format yang selama ini digunakan sebagai bukti pungut PPN. Pemungutan dilakukan mulai awal bulan berikutnya setelah Pemungut PPN PMSE mendapat surat penunjukan.
Terkait dengan pelaporan dilakukan secara elektronik per tiga bulan, paling lama akhir bulan berikutnya setelah periode triwulan berakhir. Laporan paling sedikit memuat jumlah pembeli, jumlah pembayaran, jumlah PPN yang dipungut, dan jumlah PPN yang telah disetor untuk setiap Masa Pajak. Apabila diperlukan, DJP dapat meminta Pemungut PPN PMSE untuk menyampaikan laporan rincian transaksi yang dipungut untuk setiap periode satu tahun kalender.
Dalam hal pelaku usaha luar negeri bertransaksi melalui Penyelenggara PMSE (PPMSE) baik luar maupun dalam negeri, PPN dapat dipungut, disetorkan, dan dilaporkan oleh PPMSE luar atau dalam negeri yang telah ditunjuk sebagai Pemungut PPN PMSE.
Istilah PPMSE sebelumnya telah diatur dalam PP 80 Tahun 2019 yaitu pelaku usaha penyedia jasa komunikasi elektronik yang digunakan untuk transaksi perdagangan. Model bisnis PPMSE antara lain, ritel daring atau pedagang yang memiliki sarana PMSE sendiri; marketplace atau penyedia platform; iklan baris daring; platform pembanding harga; dan daily deals.
Dengan demikian, regulasi ini mengatur bukan hanya untuk skema bisnis ke konsumen (B2C) tetapi juga bisnis ke bisnis (B2B). Salah satu implikasinya adalah bukti pungut yang diterbitkan Pemungut PPN PMSE merupakan Pajak Masukan yang dapat dikreditkan oleh Pengusaha Kena Pajak.
Menariknya, dalam Perdirjen Nomor 12/PJ/2020 dinyatakan bahwa apabila telah dilakukan pemungutan PPN oleh Pemungut PPN PMSE sedangkan konsumen domestik telah memungut dan menyetorkan PPN yang terutang sesuai ketentuan UU PPN, maka atas PPN yang disetor sendiri tersebut dapat diajukan permohonan pemindahbukuan, diajukan permohonan pengembalian kelebihan pembayaran pajak yang seharusnya tidak terutang, dikreditkan dengan Pajak Keluaran bila memenuhi ketentuan pengkreditan Pajak Masukan, atau dikurangkan dari penghasilan bruto sesuai dengan ketentuan yang mengatur penghitungan kena pajak dan pelunasan PPh dalam tahun berjalan.
Ada kutipan masyhur yang menyebutkan “Setan tersembunyi di celah-celah detil,” kita tak boleh lengah dari hal renik yang kadang terlupa. Masih tersemat tugas mengedukasi konsumen dalam negeri yang memanfaatkan produk dan/atau jasa digital yang sebenarnya terutang PPN namun belum dilakukan pemungutan karena bertransaksi dengan pengusaha luar negeri nonpemungut PPN PMSE. Hal ini tetap perlu dilakukan untuk memintal pajak dari potensi ekonomi digital, tentu saja agar semakin optimal.
Editor:Ilham Fauzi
Catatan: Artikel ini telah tayang perdana di Majalah Digital Intax DJP Edisi 2/2020.