Tampilkan postingan dengan label Fanfiction. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fanfiction. Tampilkan semua postingan

Senin, 24 November 2014

BIG SECRET



Bagian ke-9 bisa dibaca di sini.

Kuedarkan pandangan yang buram ke sekeliling ruangan. Para pengawalku sudah pergi. Mungkin orang tua itu yang menyuruh mereka pergi. Antara lena dan jaga samar kudengar suaranya yang serak.

“Sudah sadar kau rupanya. Beruntung tubuhmu masih bisa merespon mantraku dengan baik.”

Sosok berjubah hitam itu bergerak-gerak, menimbulkan bayangan mengabur di mataku yang belum sepenuhnya normal. Bau tubuhnya yang renta seperti kayu lapuk, membuatku semakin mual.

“Kalau ingin muntah keluarkan saja. Kemungkinan besar sinar biru itu merusak sebagian sirkuit hologram di saraf pusatmu. Beruntung darah setengah Ennearhg masih mengalir di darahmu. Sebuah kutukan dan anugerah memang kadang tak jauh berbeda…,” bisiknya lagi. Bunyi tongkatnya sesekali terdengar, mengetuk-ngetuk lantai putih yang dingin, menimbulkan ketidaknyamanan di jaras dengarku.

Tunggu, sinar biru? Bagaimana dia…tahu?

“Kau lupa akulah yang diberkahi, yang bisa melihat masa depan, dan membaca apa yang tersirat dari mata seseorang. Sebuah berkah dan kutukan bagiku, karena tiap apapun keputusan yang kuambil, selalu ada korban di situ, yang tak mampu kuhindari, bahkan terhadap orang yang kukasihi sekalipun,” racaunya lagi.

Ah, dia selalu begitu. Ucapannya selalu terlampau dalam, terlalu tinggi untuk kucerna. Membuatku semakin pusing saja.

“Sudah kubilang untuk menghentikan ini semua. Dendam apa yang ingin kau balaskan Peter? Dari awal aku sudah mencegahmu menikahinya. Bahkan dari awal sudah kularang untuk mendekatinya. Tapi sifat keras kepalamu ini memang sepertinya sudah digariskan mengalir dalam darahmu. Setengah Ennearhg….”

“Diaaaaam! Jangan teruskan lagi! Jangan sebut aku setengah lagi! Aku Bjork murni! Aku tak terkalahkaaan!” tubuhku gemetar, kepalaku berdenyut-denyut.

“Sudah cukup semua penghinaan ini! Seumur hidup aku tak pernah diakui. Tidak sebagai Bjork, tidak juga sebagai Ennearhg. Mereka menciptakanku, tapi juga menistakanku! Setelah fajar ketujuh akan kubuktikan bahwa akulah Bjork sejati, yang terkuat dan akan menjadi pemimpin yang abadi. Semua legiun akan bertekuk lutut padaku. Terutama Tuan Muffrowl terkutuk itu. Akan kumusnahkan hingga seluruh klannya!” sumpahku bergema.

Sosok bungkuk itu mendekatiku pelan dan mendesis, “Bagaimana mungkin kau musnahkan akar dari kehidupanmu sendiri?”

Aku tercekat. Tudung kepala hitam yang terus menunduk itu lalu mendongak, memamerkan wajah setengah hangus setengah tak berbentuk yang menyeringai.

“Katakan! Katakan padaku wahai Slakve tua! Apa yang harus kulakukan untuk memenangkan pertarungan ini? Semua akan lebih mudah bila sebelum fajar ketujuh kuhabisi Keyra dan semua kroninya. Sayangnya kekuatanku masih lemah sedangkan waktuku semakin sempit. Bila sihir putih sepenuhnya sudah menyelimuti seluruh ibukota maka aku tak punya kesempatan lagi untuk memimpin Hepzeba. Semuanya akan direnggut oleh sang Komandan,” keluhku.

Tubuh Slakve tua itu lalu berlutut. Tangannya yang keriput bergetar ketika mengunjukkan sesuatu. Sebilah pedang laser berwarna biru.

“Hanya ada satu cara. Terimalah balas budiku kali ini.”

“Tidak. Sekarang belum saatnya kau mati. Aku masih memerlukan visi-visimu. Karena itulah aku dulu menyelamatkanmu. Kau tahu seharusnya aku menghabisimu karena telah membocorkan rencana-rencana kami…,” tolakku. Ingatan hari itu berkelebat di mataku. Tubuh baru Stephania  yang terbujur kaku, masih dalam pengaruh mantra Feamremorphia. Mantra itu harusnya memusnahkan jiwa Slakve tua itu juga. Tapi kuputuskan untuk menyelamatkannya, merekonstruksi ulang tiap kepingan tubuh dan jiwa yang bisa kutemukan. Satu hutang budi lagi yang harus dia balas di kemudian hari, tiap kali aku memintanya.

“Karena itulah aku tak ingin hidup lebih lama lagi. Terbelah-belah tanpa pernah kutahu berdiri di pihak mana. Terjebak dalam sumpah pengabdianku pada klan Muffrowl dan sumpahku untuk selalu menjagamu. Menyedihkan, aku bahkan tak kuasa menjaga putraku sendiri,” ujarnya getir.

“Tak cukupkah janjiku untuk selalu melindungi Zyreth sampai kapanpun juga? Tak cukupkah itu untuk ditukar dengan penglihatanmu?” 

Slakve tua itu lalu menghela napas, berat. Tubuhnya yang bungkuk seperti bergerak-gerak tak tentu arah.

“Kau tahu Peter, tak semudah itu menghancurkan Bjork Hybrida sepertimu. Kaummu adalah generasi baru, hasil teknologi rekayasa pendahulumu, para Bjork murni. Mereka sepertinya sudah membaca ramalan purba tentang kelahiran sang Putri Tunggal, juga eksistensi mereka yang di ambang kehancuran. Maka langkah antisipasi terakhir telah mereka tempuh. Malam dimana anak buah Tuan Muffrowl melepaskan tubuh mereka demi mencipta sihir itu, adalah malam dimana mereka melepaskan partikel hologram inti, untuk mengaktifkan kehidupan baru. Rezim lama musnah melebur menjadi peradaban baru. Bjork memang tak tertandingi. Dan kau satu…teristimewa karena darah yang mengalir di tubuhmu. Dengan suatu tipu daya mereka memperdayai Jenderal Muffrowl dan mensintesa nutfahnya. Itu membuatmu menjadi Hybrida terkuat, tentu saja selain Hybrida keturunan Jenderal Seringr yang lain –sang Komandan….”

“Tentu saja aku tahu semua itu. Jangan ceramahi aku lagi. Bosan aku mendengarnya. Siapa aku sebenarnya tak penting lagi. Dan jangan menyebut-nyebut sainganku itu…,” potongku tak sabar. Hatiku selalu kesal tiap kali Slakve tua bangka itu menyebut-nyebut sejarah itu.

“Kali ini kau harus dengar. Karena akarmu menentukan bagaimana ajalmu datang. Melepaskan tubuh Ennearhg takkan mempan lagi untuk membunuhmu. Satu-satunya cara adalah dengan memusnahkan Tuan Muffrowl. Jadi kuberi tahu satu hal, jangan pernah bunuh Tuan Muffrowl atau kau akan mati….”

Kali ini mulutku benar-benar ternganga. Sial! Tak kukira sepelik ini.

Tiba-tiba sebuah pencerahan terbersit di kepalaku, “Aku tak boleh membunuhnya, tapi aku bisa menjadikannya budakku. Sekarang tinggal bagaimana caranya memasuki benteng itu…,” otakku berpikir keras mencari jalan bagaimana caranya agar aku bisa memusnahkan Keyra dan kroninya tanpa melukai Tuan Muffrowl.

Tercipta jeda cukup lama. Hingga tiba-tiba sebuah panggilan masuk. Sebuah suara yang dulunya sering kudengar. Mengajakku untuk bertemu di sebuah tempat dimana dulu kami sering bertemu. Bukan, aku yang menemuinya ketika dia sedang sendiri, tanpa ada yang menemaninya. Hatiku ragu untuk membuka kanal saraf sensorikku, curiga bila ini jebakan. Namun akhirnya kuputuskan untuk membukanya juga, lebih karena meyakini intuisi bahwa inilah caraku menyusup ke dalam benteng mereka.

“Baiklah…aku segera ke sana,” ujarku menutup pembicaraan. Slakve tua menatapku curiga.

“Kau menjerumuskan dirimu lagi? Sia-sia semua yang kulakukan untuk menjauhkanmu dari kehancuran. Bukan visi-visiku yang sebenarnya bisa menyelamatkanmu Peter, tapi kebijaksanaanmu. Sayangnya tak bisa kuharapkan itu. Tidak dulu, tidak sekarang….”

“Hey, dia yang lebih dulu menghubungiku! Mungkin dia pikir aku masih mencintainya seperti dulu. Atau mungkin dia pikir bisa memperdayaku dan membunuhku dengan tipu muslihatnya. Dia masih saja naïf seperti dulu.”

“Bahkan bila kau tahu dia akan menggiringmu dalam kematian apakah kau akan mempersembahkan jiwamu di atas nampan?”

Cukup. Kali ini ucapan Slakve tua itu kelewatan. “Tua bangka!!”

“Kukira sampai di sini pengabdianku, Peter. Tak sanggup kuteruskan hidup untuk melihat kehancuran akibat keserakahanmu. Kutuntaskan semua hutangku padamu. Hutang untuk melindungi keluargaku dari kekejaman Bjork di masa pemberontakan dulu. Hutang untuk menjaga Zyreth. Juga hutang telah menyelamatkanku dari mantra Feamremorphia. Kukembalikan semua yang kupinjam darimu, agar tubuhmu yang lemah segera pulih dan mampu menghadapi perang besar itu sendiri. Tiada gunanya semua visiku bila itu tak bisa mengubah takdirmu,” ujarnya sendu.

Lalu kilatan-kilatan biru berkelebatan di hadapanku. Butuh beberapa detik saja untuk menjadikan dia abu.

“Zorphaaaaaaaaan!!” Teriakanku bergaung ke seluruh ruangan. Mataku nanar memandang pedang yang tergeletak di atas tumpukan debu. Sinarnya yang berwarna biru berpendar semakin terang, menandakan kekuatanku telah pulih seperti sediakala. Ah, apapun yang terjadi kini harus kuhadapi sendiri. Dasar Slakve tua bangka siaaaaal!!!


Credit

Tempat itu bernama Lembah kematian. Sebuah tempat yang sempurna untuk pembantaian. Kuyakini benar bukan hari ini akhir dari hidupku. Slakve tua itu benar, bukan visinya yang bisa menyelamatkanku, melainkan diriku sendiri. 

Udara di sini masih terasa ringan, tanda aman dari pengaruh sihir putih. Latar semburat warna-warni menghiasi langit di ujung dini hari, menambah sikap awasku. Kutegakkan badan dan kujejakkan kaki bersiaga ketika kutangkap sesosok tubuh wanita mendekat dari balik asap. Akhirnya dia datang juga, wanita yang dulu selalu kurindukan….

“Stephania”

Wajahnya yang cantik seperti ditelan murka. Inilah wajah sang Ruh yang dulu memikatku dan menjatuhkanku dalam luka. Luka karena dia memilih setia pada jiwa yang didampinginya. Luka yang membakar dendamku dan membuatku gelap mata.

“Sudah kuduga kau akan memakai segala cara untuk menghancurkan Keyra. Rupanya begitu kronisnya kebusukan hatimu menjalar. Aku tak peduli kau dari jenis Bjork atau Ennearhg. Tujuanku kali ini untuk mengakhiri semuanya. Semuanya Peter!”

Seulas senyum licik tersungging di bibirku. Datanglah cinta, menjemput mautmu. Tak ada yang tahu bahwa ada sebuah rahasia tentang mantra Feamremorphia. Sebuah rahasia yang kutahu dari Zorphan, dan kupegang erat sebagai kunci untuk memusnahkan wanita yang dulu kupuja ini.



Bagian ke-11 bisa dibaca di sini.



Bagian ke-12 bisa dibaca di sini.

Jumat, 14 November 2014

RESCUE ME

Bagian ke-5 bisa dibaca di sini.


Credit

Aku masih saja di sini, berusaha menandai pergantian gelap-terangnya langit dari celah ventilasi untuk menghitung hari. Sepertinya fajar kelima sudah hampir terlewati. Tubuhku rupanya memerlukan masa hibernasi lebih lama sebab ruhku yang baru akhirnya menolak untuk mendampingiku. Kata ayahku hal ini sangat berbahaya karena bagi kami, kaum Ennearhg, tubuh dan jiwa tidak boleh berlama-lama tanpa ruh. Materi kami bukan hanya akan tereduksi, tetapi juga jiwa kami bisa jadi terdestruksi, musnah. Lebih parah dari mantra Feure waktu musibah itu.

Ah, kenapa ingatanku tak bisa lepas dari musibah tu? Kebencianku rupanya begitu dalam padanya, ruh pengkhianat itu. Dialah yang menyebabkan aku harus mengalami semua keburukan ini. Pernikahanku yang gagal, sintesa tubuh yang menyakitkan, ruh baru yang meninggalkanku, dan kini entah kenapa ayahku, Jenderal Khrohne Yang Perkasa, berhari-hari mengurungku di dalam benteng imajinernya. Apakah begitu sulit mencari ruh pengganti? Tidakkah dia tahu bahwa bukan kondisi tanpa ruh yang akan melemahkanku, tetapi kesendirian inilah yang akan membunuhku pelan-pelan. Juga kerinduanku ini. Kerinduan pada mata teduh dan senyuman hangat dari Peter. Entah dimana dia sekarang. Sudah kucoba berbagai macam jalur frekuensi untuk bertelepati dengannya, tetapi entah kenapa koneksiku selalu terputus. Seperti diblokir atau terpental oleh gelombang imajiner ini. Membuatku pening tiap kali mencobanya, seperti saat ini. Mataku mulai kabur dan napasku terengah-engah, kupusatkan lagi pikiranku untuk terus mencoba, hingga tiba-tiba….

“Tak perlu kau teruskan Keyra,” suara dingin ayahku memecah sunyi. Aku terperanjat.

“Peter!” aku menghambur ke arah kekasihku. Mataku terbelalak mendapati tangannya terbelenggu. Sebuah sinar biru melingkupi kedua tangannya.

“Menjauh darinya Keyra!” hardik ayahku. Mataku menatapnya penuh tanda tanya.

“Dia itu hybrida. Hasil peranakan nista dari Bjork dan Ennearhg yang berkhianat. Berhari-hari aku memburunya sejak musibah itu. Hampir saja kumusnahkan ia seandainya saja aku tidak ingat bahwa dialah kunci menuju pembebasanmu.”

“Hybrida? Pembebasanku?” tanyaku tak mengerti.

“Aku mengurungmu di sini untuk melindungimu hingga masa itu tiba. Kaulah sang Putri Tunggal yang telah diramalkan akan menguasai galaksi ini. Untuk memenuhi ramalan itu semua kaum harus bersatu dan menyerahkan elemennya yang terpilih pada tubuh dan jiwamu yang sempurna : sang Ruh Sejati, Mata sang Budak, dan Hybrida terkuat…,” tangan ayahku seperti siap melecutkan sebuah mantra ke arah Peter.

“Jangan Ayah! Dia tidak bersalah! Ruh penghasut itulah yang harus Ayah habisi lebih dulu! Kalau Peter mati aku tidak tahu lagi bagaimana harus melanjutkan hidupku,” aku mulai menangis. Namun ayahku bergeming. Dari ujung tangannya mulai terpancar serabut sinar berwarna terang siap menyerang Peter. Kurapalkan mantra pelemah dengan hati patah. Kulawan serangan ayahku dengan sisa kekuatanku.

Tak kusangka perbuatanku itu menyebabkan belenggu di tangan Peter terurai. Seketika dia melumpuhkan ayahku dengan mudah dan menyihirnya menjadi batu.

“Ayaaaaaaaaaah!!!”

Gegas kuberlari menangkap tubuh ayahku yang mematung dan hampir roboh ke lantai, mencegahnya untuk hancur. Pelan kubaringkan dengan penuh kasih dan kutatap matanya yang membeku.

“Peter! Teganya kau!” air mataku berderai. Tak kusangka pria yang kucintai ternyata melakukan hal seburuk ini. Mungkin dulu Stephania tak pernah menyukainya karena telah mencium gelagat tak baik. Ah, kenapa di saat seperti ini aku malah memikirkannya? Di mana dia sekarang? Kupusatkan pikiranku menghubunginya, sebagaimana dulu biasa kulakukan. Stephania, tolonglah aku! Kembalilah padaku!!

“Sia-sia. Semua yang kau lakukan sia-sia. Akulah Hybrida terkuat. Mudah bagiku memblokir pikiranmu, sebagaimana dulu aku mudah mengendalikan pikiranmu,” dia terkekeh.

Kupusatkan pikiranku lebih keras. Ah, gagal! Tubuhku semakin lemah. Kedua tanganku bersinar, lalu samar menghilang. Rasanya seperti tulang-tulangku dicerabut paksa dari tubuh. Aku menjerit-jerit tetapi dia semakin membabi-buta.

“Hentikan!” terdengar suara yang sangat kukenal. Stephania!!

Dia dan Slakve merapalkan mantra bersama-sama sehingga membuat Peter terluka. Secepat kilat Peter menghilang setelah sebelumnya melemparkan sihir pelemah ke udara di ruangan ini.

“Sial! Kita kehilangan dia Lev! Sihirnya kuat sekali. Belum pernah aku menghadapi sihir sekuat itu. Dia dari jenis apa sih?”

“Aku tak tahu Steph. Yang jelas kalau kita tidak segera pergi maka kita yang akan binasa. Udara di sini sudah disihirnya!”

“Sudah, jangan banyak cing-cong yang penting kita selametin dulu Tuan Putri cantik ini, siapa namanya tadi? Anak Jenderal itu?” sebuah suara lelaki dengan logat aneh terdengar. Tiba-tiba tangan lelaki itu memegang lenganku, seperti ingin memapahku.

“Lepaskan tanganmu! Bau busuk! Kau bahkan lebih busuk dari bau para Slakve si budak!” hardikku. 

“Keyra, jaga ucapanmu!” Stephania menegurku.

“Semakin lama kita berpisah rupanya tak baik untukmu Steph, pergaulanmu semakin ngawur!” ujarku menjaga martabatku. Meski dalam kondisi sesulit apapun aku harus tetap menjaga harga diri, karena akulah calon penguasa galaksi ini.

“Jadi begini caramu berterima kasih huh? Menyesal aku mengikuti petunjuk darimu tadi….”

Eh, dia tadi menerima sinyalku? Apakah dia benar-benar mendengar permintaan tolongku?

“Udah-udah. Gak mau ditolong ya udah lah. Gue emang jarang mandi. Gini aja deh Keyra biar dipapah Stephania, eh, bukan-bukan Levi aja deh, daripada berantem….” lelaki bau itu akhirnya mengalah. Sebenarnya aku keberatan tubuhku ini tersentuh kaum budak yang kotor tapi apa boleh buat. Aku tak punya pilihan lain.

“Levi? Siapa…,” Slakve itu hendak protes.

“Sori Bro, namamu kepanjangan. Lagian itu nama merk jins kesayanganku kok, keren.”

“Jins? Kaum apa itu? Sudahlah, jangan panggil aku Levi lagi atau kumantrai kau sampai tak bisa kembali ke masa lalu. Dasar makhluk primitif! Bawa juga tubuh Jenderal Khrohne yang membatu itu. Kita harus membawanya ke Tuan Muffrowl untuk disembuhkan.”

“Haaaah? Itu tubuh Jenderal? Sett dah! gedhe gini kirain tadi patung doang!” dia terbelalak.

Apa? Jadi lelaki berlogat aneh itu dari masa lalu? Terlalu banyak kejadian hari ini membuatku shock. Badanku limbung dan jatuh menimpa Slakve.

“Keyra!” Stephania memekik dan dengan sigap membantuku berdiri. Samar kulihat wajah cantiknya terlihat muram. “Kupapah kau saja. Aku lebih kuat daripada dia. Kau, Levi..., bantu manusia purba itu memikul tubuh Jenderal. Ikuti jalanku. Kita teleport sekarang!”

“Levi…??”

“Manusia purba?”

Hanya suara-suara itu yang terakhir kudengar sebelum kesadaranku hilang. Rasanya seperti ada gelombang kekuatan besar yang menyedot tubuhku dan melemparkanku ke suatu lorong tak berujung.

Bagian ke-7 bisa dibaca di sini.

Bagian ke-8 bisa dibaca di sini.

Kamis, 06 November 2014

THE SPIRIT

Bagian ke-1 bisa dibaca di sini.




Credit


Aku mencintainya. Dari awal aku selalu mencintainya. Tubuh apapun yang dia gunakan aku selalu mencintainya. Kebebasannya dalam bertindak, kebengalannya yang tengik, dan kebodohannya yang bertubi-tubi. Meski aku hanya sebuah ruh tanpa arti. Sedikit lebih tinggi dari kaum Slakve. Tapi di ekosistem ini aku takkan bisa menggapainya.

Aku selalu berusaha menutupinya, meski sulit. Tapi beda cinta dan benci memang hanya setipis ari. Entah kapan rasa itu berubah sehingga aku tak bisa mengendalikan diri. Mungkin karena sadar tak mungkin bisa memiliki. Mungkin pula karena dia tak kunjung menyadari. Ternyata menjadi ruh bisa sesulit ini.

Pada masa-masa itu aku selalu mencari Zorphan, Slakve yang sudah lama mengabdi padaku. Setelah menghabiskan waktu bersamanya biasanya hatiku menjadi lega. Energiku serasa menjadi penuh dan siap menghadapi Jiwa-ku itu. Namun biasanya hal itu tak bertahan lama. Keyra akan membuatku lelah dan tergerus karena amarah. Berkali-kali terjadi dan aku sudah tidak tahan lagi.

Hari itu aku sudah akan pergi seandainya saja Zorphan tidak menahanku dan mengabarkan sebuah berita yang mengejutkan…. 

“Keyra besok akan mati. Kaum Bjork akan mengambil alih. Tepat di hari pernikahannya!” bisiknya. 

Aku tersentak tak percaya. “Bjork sudah punah. Jenderal Khrohne sudah menumpasnya. Jangan membual Zorph atau kutebas lehermu!” 

“Aku tak membual. Semalam aku mendapat visi. Lagi. Ini lebih buruk dari yang kemarin….”

“Dia tak butuh aku lagi. Sudah ada Peter yang akan mendampinginya.”

“Kuberitahu satu hal : Peter adalah salah satu dari mereka….”

Aku terjengit. Ngeri sekali rasanya membayangkan Jiwa-ku akan mati di tangan orang yang dia cintai.

“Apa yang harus kulakukan Zorph?”

Lalu skenario itupun dibuat. Seperti itulah musibah itu harus terjadi. Aku harus meninggalkan Jiwa-ku yang kucintai. Mantra Feure memang membakar tubuhnya. Tapi juga menghalanginya dari petaka. Selama Peter tak menyentuhnya, Keyra akan tetap selamat, meski akhirnya aku harus pergi.

Zorphan memang jenius. Dia tahu aku akan melakukan apapun untuk Keyra. Ah, ternyata aku masih juga mencintainya. 

“Kau harus menemui Jenderal Khrohne dan memberi peringatan tentang Bjork!” perintah Zorphan suatu hari.

“Beraninya kau menyuruhku Slakve!” hardikku. Dia cepat-cepat merunduk.

“Demi Keyra, demi menghindari kehancuran yang lebih besar…,” bujuknya lagi.

“Dia sudah punya tubuh yang baru. Ruh yang baru juga pastinya lebih kuat. Jenderal Khrohne akan memberi pengawal yang lebih banyak dan penjagaan yang lebih ketat. Kukira hingga selesai masa hibernasinya, Peter takkan berani menyentuhnya. Biarkan aku mengawasi dari luar saja Zorph. Aku sudah lelah….”

“Peter lebih kuat dari perkiraanmu Steph. Aku mendapat visi lagi…. Lebih mengerikan dari kemarin…,” dia membujuk lagi. 

Aaaaaargh! Aku tak percaya ini! Visi-visi Slakve tua itu lama-kelamaan akan membinasakanku!

“Katakanlah Zorph…,” aku menyerah. Slakve tua itu tersenyum tipis.

***

Sakit! Sakit luar biasa ketika mantra itu bekerja. Sialan! Sialan benar kau Slakve tua bangka! Kalau bukan karena Keyra, mungkin aku takkan mau melakukannya!

“Bertahanlah Stephania! Sebentar lagi penderitaanmu akan berakhir!” teriaknya di sela-sela merapal mantra. Mantra Feamremorphia, mantra langka yang hampir punah. Hanya sedikit Slakve yang bisa menggunakannya. Selama berabad-abad mungkin akulah ruh pertama yang ketiban sial karena merasakannya.

“Setelah ini kamu tak perlu tubuh tak perlu jiwa!!” teriaknya lagi.

Aaaaaaaaaaargh!! Slakve siaaaal!!!

Saat terjaga aku mendapati diriku tak lagi sama. Ucapan Zorphan benar. Aku memang menjadi makhluk yang berbeda. “Tak perlu tubuh tak perlu jiwa…,” ucapannya terngiang-ngiang di kepalaku.

Semenjak itu aku tak pernah melihatnya lagi. Zorphan lenyap bersama mantra terakhir yang dirapalkannya. Tiba-tiba air mataku menetes, tanpa kuketahui dengan jelas apa penyebabnya.

***

“Jadi…. Bjork itu akan kembali? Dengan Peter sebagai komandannya?” Jenderal Khrohne menyelidik.

“Mungkin bukan komandan. Mungkin hanya agen saja,” jawabku sedikit ragu.

“Haruskah aku menerimamu lagi Steph? Setelah apa yang kau lakukan pada putriku?”

“Saya tak punya pilihan Jenderal. Anda tahu, putri anda sungguh keras kepala….”

“Tapi bukan kau yang menentukan bagaimana akhirnya. Apalagi bila harus melibatkan Slakve rendahan seperti itu. Kau tahu betapa sulitnya proses sintesis tubuh dan ruh yang baru?”

“Saya ke sini bukan untuk kembali, Jenderal. Hidup saya seharusnya sudah tamat kemarin. Mantra Feure juga menyakiti saya. Materi saya juga tereduksi….”

“Jangan membesar-besarkan. Kulihat Slakve kotor itu sudah merapalkan mantra baru padamu. Feamremorphia hah?!”

Aku sudah tak tahan lagi mendengarnya menjelek-jelekkan Zorphan. “Jadi Jenderal akan memberiku kesempatan atau tidak?” tantangku.

Jenderal itu menggertakkan giginya tanda tak senang. Sepertinya aku berhasil.

***

“Maumu apa?” Keyra bertanya dingin. Dia terlihat tenang dan bermartabat.

“Mari kita bicarakan hal itu, ada beberapa hal yang harus kita berdua sepakati, ucapku tenang.

“Baa…ik…, dia tak mampu menutupi kegugupannya. Aku kembali ke tempat dudukku. Dia menjaga jarak di antara kami. Sebuah pisau lipat ditodongkannya dengan tangan gemetar.

“Jangan lanjutkan pernikahanmu dengan Peter. Jangan berganti-ganti pasangan lagi. Jangan mengkhianati ruhmu yang baru dan turutilah apapun keinginannya. Apapun yang terjadi. Maka aku berjanji akan pergi dari kehidupanmu. Selamanya.”

Dia terlihat tak terkejut.

“Dalam mimpimu, Steph. Pergilah!”

Aku sudah tahu akan begini jadinya. Bodoh dan keras kepala, perpaduan yang sangat sempurna untuk menghancurkan sebuah jiwa. Ah, sepertinya aku harus memakai rencana kedua.

***

Kutelusuri jalanan sunyi di perkampungan ini. Kotor dan kumuh. Perkampungan Slakve sesungguhnya bukanlah tempat favoritku.

“Berhenti, Stephania…,”

Suara itu, mirip benar dengan Zorphan.

“Lev… Levroniah?” kubalikkan badanku. Kutatap wajahnya. Ya, sesuai benar dengan visi Zorphan si Slakve tua itu.

“Akan datang masa, semua legiun bersatu merebut tahta. Tiada lagi ras dan kasta. Sang Penyelamat telah tiba. Songsonglah Stephania. Terimalah takdirmu bersamanya. Jadikanlah ia matamu, tanganmu, dan kekuatanmu yang baru…. Sambutlah Levroniah!” ucapan terakhir Zorphan terngiang-ngiang di kepalaku.

Apa dia gila? Kekuatanku yang baru Slakve si budak?


Bagian ke-3 bisa dibaca di sini.