Jumat, 14 November 2014

RESCUE ME

Bagian ke-5 bisa dibaca di sini.


Credit

Aku masih saja di sini, berusaha menandai pergantian gelap-terangnya langit dari celah ventilasi untuk menghitung hari. Sepertinya fajar kelima sudah hampir terlewati. Tubuhku rupanya memerlukan masa hibernasi lebih lama sebab ruhku yang baru akhirnya menolak untuk mendampingiku. Kata ayahku hal ini sangat berbahaya karena bagi kami, kaum Ennearhg, tubuh dan jiwa tidak boleh berlama-lama tanpa ruh. Materi kami bukan hanya akan tereduksi, tetapi juga jiwa kami bisa jadi terdestruksi, musnah. Lebih parah dari mantra Feure waktu musibah itu.

Ah, kenapa ingatanku tak bisa lepas dari musibah tu? Kebencianku rupanya begitu dalam padanya, ruh pengkhianat itu. Dialah yang menyebabkan aku harus mengalami semua keburukan ini. Pernikahanku yang gagal, sintesa tubuh yang menyakitkan, ruh baru yang meninggalkanku, dan kini entah kenapa ayahku, Jenderal Khrohne Yang Perkasa, berhari-hari mengurungku di dalam benteng imajinernya. Apakah begitu sulit mencari ruh pengganti? Tidakkah dia tahu bahwa bukan kondisi tanpa ruh yang akan melemahkanku, tetapi kesendirian inilah yang akan membunuhku pelan-pelan. Juga kerinduanku ini. Kerinduan pada mata teduh dan senyuman hangat dari Peter. Entah dimana dia sekarang. Sudah kucoba berbagai macam jalur frekuensi untuk bertelepati dengannya, tetapi entah kenapa koneksiku selalu terputus. Seperti diblokir atau terpental oleh gelombang imajiner ini. Membuatku pening tiap kali mencobanya, seperti saat ini. Mataku mulai kabur dan napasku terengah-engah, kupusatkan lagi pikiranku untuk terus mencoba, hingga tiba-tiba….

“Tak perlu kau teruskan Keyra,” suara dingin ayahku memecah sunyi. Aku terperanjat.

“Peter!” aku menghambur ke arah kekasihku. Mataku terbelalak mendapati tangannya terbelenggu. Sebuah sinar biru melingkupi kedua tangannya.

“Menjauh darinya Keyra!” hardik ayahku. Mataku menatapnya penuh tanda tanya.

“Dia itu hybrida. Hasil peranakan nista dari Bjork dan Ennearhg yang berkhianat. Berhari-hari aku memburunya sejak musibah itu. Hampir saja kumusnahkan ia seandainya saja aku tidak ingat bahwa dialah kunci menuju pembebasanmu.”

“Hybrida? Pembebasanku?” tanyaku tak mengerti.

“Aku mengurungmu di sini untuk melindungimu hingga masa itu tiba. Kaulah sang Putri Tunggal yang telah diramalkan akan menguasai galaksi ini. Untuk memenuhi ramalan itu semua kaum harus bersatu dan menyerahkan elemennya yang terpilih pada tubuh dan jiwamu yang sempurna : sang Ruh Sejati, Mata sang Budak, dan Hybrida terkuat…,” tangan ayahku seperti siap melecutkan sebuah mantra ke arah Peter.

“Jangan Ayah! Dia tidak bersalah! Ruh penghasut itulah yang harus Ayah habisi lebih dulu! Kalau Peter mati aku tidak tahu lagi bagaimana harus melanjutkan hidupku,” aku mulai menangis. Namun ayahku bergeming. Dari ujung tangannya mulai terpancar serabut sinar berwarna terang siap menyerang Peter. Kurapalkan mantra pelemah dengan hati patah. Kulawan serangan ayahku dengan sisa kekuatanku.

Tak kusangka perbuatanku itu menyebabkan belenggu di tangan Peter terurai. Seketika dia melumpuhkan ayahku dengan mudah dan menyihirnya menjadi batu.

“Ayaaaaaaaaaah!!!”

Gegas kuberlari menangkap tubuh ayahku yang mematung dan hampir roboh ke lantai, mencegahnya untuk hancur. Pelan kubaringkan dengan penuh kasih dan kutatap matanya yang membeku.

“Peter! Teganya kau!” air mataku berderai. Tak kusangka pria yang kucintai ternyata melakukan hal seburuk ini. Mungkin dulu Stephania tak pernah menyukainya karena telah mencium gelagat tak baik. Ah, kenapa di saat seperti ini aku malah memikirkannya? Di mana dia sekarang? Kupusatkan pikiranku menghubunginya, sebagaimana dulu biasa kulakukan. Stephania, tolonglah aku! Kembalilah padaku!!

“Sia-sia. Semua yang kau lakukan sia-sia. Akulah Hybrida terkuat. Mudah bagiku memblokir pikiranmu, sebagaimana dulu aku mudah mengendalikan pikiranmu,” dia terkekeh.

Kupusatkan pikiranku lebih keras. Ah, gagal! Tubuhku semakin lemah. Kedua tanganku bersinar, lalu samar menghilang. Rasanya seperti tulang-tulangku dicerabut paksa dari tubuh. Aku menjerit-jerit tetapi dia semakin membabi-buta.

“Hentikan!” terdengar suara yang sangat kukenal. Stephania!!

Dia dan Slakve merapalkan mantra bersama-sama sehingga membuat Peter terluka. Secepat kilat Peter menghilang setelah sebelumnya melemparkan sihir pelemah ke udara di ruangan ini.

“Sial! Kita kehilangan dia Lev! Sihirnya kuat sekali. Belum pernah aku menghadapi sihir sekuat itu. Dia dari jenis apa sih?”

“Aku tak tahu Steph. Yang jelas kalau kita tidak segera pergi maka kita yang akan binasa. Udara di sini sudah disihirnya!”

“Sudah, jangan banyak cing-cong yang penting kita selametin dulu Tuan Putri cantik ini, siapa namanya tadi? Anak Jenderal itu?” sebuah suara lelaki dengan logat aneh terdengar. Tiba-tiba tangan lelaki itu memegang lenganku, seperti ingin memapahku.

“Lepaskan tanganmu! Bau busuk! Kau bahkan lebih busuk dari bau para Slakve si budak!” hardikku. 

“Keyra, jaga ucapanmu!” Stephania menegurku.

“Semakin lama kita berpisah rupanya tak baik untukmu Steph, pergaulanmu semakin ngawur!” ujarku menjaga martabatku. Meski dalam kondisi sesulit apapun aku harus tetap menjaga harga diri, karena akulah calon penguasa galaksi ini.

“Jadi begini caramu berterima kasih huh? Menyesal aku mengikuti petunjuk darimu tadi….”

Eh, dia tadi menerima sinyalku? Apakah dia benar-benar mendengar permintaan tolongku?

“Udah-udah. Gak mau ditolong ya udah lah. Gue emang jarang mandi. Gini aja deh Keyra biar dipapah Stephania, eh, bukan-bukan Levi aja deh, daripada berantem….” lelaki bau itu akhirnya mengalah. Sebenarnya aku keberatan tubuhku ini tersentuh kaum budak yang kotor tapi apa boleh buat. Aku tak punya pilihan lain.

“Levi? Siapa…,” Slakve itu hendak protes.

“Sori Bro, namamu kepanjangan. Lagian itu nama merk jins kesayanganku kok, keren.”

“Jins? Kaum apa itu? Sudahlah, jangan panggil aku Levi lagi atau kumantrai kau sampai tak bisa kembali ke masa lalu. Dasar makhluk primitif! Bawa juga tubuh Jenderal Khrohne yang membatu itu. Kita harus membawanya ke Tuan Muffrowl untuk disembuhkan.”

“Haaaah? Itu tubuh Jenderal? Sett dah! gedhe gini kirain tadi patung doang!” dia terbelalak.

Apa? Jadi lelaki berlogat aneh itu dari masa lalu? Terlalu banyak kejadian hari ini membuatku shock. Badanku limbung dan jatuh menimpa Slakve.

“Keyra!” Stephania memekik dan dengan sigap membantuku berdiri. Samar kulihat wajah cantiknya terlihat muram. “Kupapah kau saja. Aku lebih kuat daripada dia. Kau, Levi..., bantu manusia purba itu memikul tubuh Jenderal. Ikuti jalanku. Kita teleport sekarang!”

“Levi…??”

“Manusia purba?”

Hanya suara-suara itu yang terakhir kudengar sebelum kesadaranku hilang. Rasanya seperti ada gelombang kekuatan besar yang menyedot tubuhku dan melemparkanku ke suatu lorong tak berujung.

Bagian ke-7 bisa dibaca di sini.

Bagian ke-8 bisa dibaca di sini.

2 komentar:

  1. lucu juga mbak dialognya Rudi disini :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya biar gak tegang mulu mbak. Lumayan kan bisa dibully hehehe

      Hapus

Bila berkenan sila tinggalkan jejak ya ^_^