Kamis, 13 November 2014

Prompt #70 : Secangkir Wedhang Uwuh



Pucuk cemara sudah merunduk menyongsong malam. Yang menunggu penjemputan sudah meninggalkan pekarangan dengan puji syukur setinggi langit. Tinggal aku sendiri yang masih mencangkung di pojok sambil terus melotot ke pintu pagar, berharap kalau-kalau ada yang mendekat. Yang ada cuma angin senja, menerbangkan bau rerumputan bercampur debu, memperberat kecemasanku.


"Mas Koyo," orang yang sebentar-sebentar melemparkan pandang ke arahku dari pagar kawat berduri, tiba-tiba menghampiri, merapat, membuatku tegak. "Saya Kiswoyo, masih ada hubungan darah dengan Mbak Uci," katanya menyebutkan nama akrab istriku. Aku merunduk dibuat ucapannya itu. Istri! Bisikku dalam hati. Ada duka di balik kata itu. "Sudah gelap. Kelihatannya dia tak bakalan datang. Kalau Mas tak keberatan, ikut saya saja. Nginap dulu di rumah saya. Tak jauh dari sini," sambungnya.

Kutatap wajahnya lekat-lekat, mencoba membaca kejujuran dari sorot matanya. Sekian lama hidup di lapas membuatku tak mudah mempercayai kebaikan orang. Apalagi bila orang itu tak kukenal benar. Ragu-ragu kuanggukkan kepalaku.

Kiswoyo…. Kiswoyo. Nama itu sepertinya familiar. Dalam diam kuikuti langkahnya sambil mencari-cari secuil saja ingatan tentang nama itu. Nihil. Badan penat mungkin mengurangi kemampuanku berpikir.

“Sudah sampai Mas,” ucapannya menyentakku dari lamunan sepanjang perjalanan.

Aku tertegun. Rumah itu bentuknya mirip dengan rumahku di kampung. Bentuknya seperti rumah desa pada umumnya, berbentuk joglo, beratap genteng dan berdinding anyaman bambu. Rumah itu terlihat menyolok karena dikelilingi hutan bambu kecil dan tanaman perdu yang membuatnya terkesan angker. Suasananya benar-benar mirip rumahku dulu.

“Monggo Mas,” tangannya menyilakanku duduk.

Kuhenyakkan badan ke lantai beralas tikar dan kuhempaskan satu-satunya buntelan yang kubawa di sudut ruangan. Kuedarkan pandangan ke sekelilingku. Mungkin Kiswoyo sedang di dapur. Beberapa menit kemudian dia menghidangkan secangkir minuman beraroma khas di depanku. Mataku langsung berbinar.

Sumber

“Wah, wedhang uwuh* ya? Kok Mas tahu saya suka minuman ini?” Tanpa ba-bi-bu langsung kuserbu minuman itu. Panasnya terasa membakar lidahku. Tak apalah sebagai pengobat rindu. Kuseruput pelan-pelan sampai tandas.

“Saya perhatikan Mas dari tadi seperti bingung melihat saya. Mas Koyo masih belum ingat saya ya?”

Aku menggeleng.

“Saya masih saudara sepupu dengan Mbak Uci dari garis keturunan kakek saya. Anak saya dulu juga sekolah di SMP tempat Mas Koyo mengajar….”

Deg! Jantungku seakan mau berhenti mendengarnya. Jangan-jangan….

“Dulu dia pernah bercerita punya guru kimia favorit, namanya Warkoyo. Dia ngefans sekali dengan guru itu dan bercita-cita kalau sudah besar nanti ingin seperti gurunya itu. Suatu hari saya temukan bercak darah di celananya tetapi ketika saya tanyakan penyebabnya dia bersikeras tidak mau cerita. Beberapa kali. Hal ini terjadi sampai hari kelulusannya. Bertahun-tahun kemudian akhirnya terungkap bahwa guru itu melakukan hal yang bejat terhadap ratusan murid lelakinya. Mungkin termasuk anak saya. Hal itu rupanya menjadi penyebab dia mengalami kelainan orientasi seksual ketika dewasa. Dia suka melakukan hal yang sama pada anak-anak lelaki di sekitar sini. Di rumah ini. Bertahun-tahun tanpa saya ketahui karena saya terlalu sibuk bekerja di ladang. Akhirnya dia mengalami hal yang sama dengan gurunya itu. Dibui karena tindakan asusila. Hari ini, tepat sebulan anak saya mendekam di penjara tadi Mas. Saya sudah mengenali wajah Sampeyan sejak kunjungan sebelumnya. Wajah guru favorit anak saya.”

Tiba-tiba kepalaku menjadi pening, dunia seakan berputar dan tenggorokanku terasa terbakar. Nyeri luar biasa di ulu hatiku seperti ditusuk ratusan sembilu. Kumuntahkan isi perutku yang bergolak di atas tikar. Sial! Arsenik!

“Predator seksual sepertimu memang pantas mati setelah meminum minuman sampah…,” ujarnya terkekeh.

Jumlah kata : 419 kata

*Wedhang uwuh adalah jenis minuman dari Jawa Tengah dengan bahan-bahan yang berupa dedaunan mirip dengan sampah. Dalam bahasa Jawa, wedhang berarti minuman, sedangkan uwuh berarti sampah. Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Wedang_uwuh

14 komentar:

  1. arsenik itu murah ya?..
    arsenik itu gampang di dapat ya?
    Selamat hari Jumat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sudah saya edit mas Arif. Suwun nggih sudah jeli dan berkenan singgah :)

      Hapus
  2. duh.... ada yang mati lagi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mas, saya juga heran, kok tragis-tragis amat gitu.
      Jangan-jangan ada yang salah dari kepala saya hehee
      Trims sudah singgah dan komen :)

      Hapus
  3. Balasan
    1. Trims mbak Tika sudah baca dan komen.
      Salam kenal juga :D

      Hapus
  4. bang Jampang bikin yg roman doong, nyaingin yang mati2 hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mbak, saya bikin lagi endingnya gak pakai mati :)
      Ini linknya http://edmaliarohmani.blogspot.com/2014/11/prompt-70-mengurai-rindu-ibu.html
      Silakan mampir ya kalau sempat...

      Hapus
  5. sudah bisa ditebak mbak, tapi bagus :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak, idenya standar memang, masih terus belajar
      Trims sudah mampir dan komen :)

      Hapus
  6. Balasan
    1. Trims mbak, saya juga suka cerita2nya mbak Gloria :)

      Hapus
  7. arseniknya masih disebut tuh... ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mas, biar jelas racunnya apa. Eh, apa ndak perlu ya?

      Hapus

Bila berkenan sila tinggalkan jejak ya ^_^