Kamis, 06 November 2014

Prompt #69 : Sebuah Lukisan Mata



Sumber


Ya*! Mi Young-ah*, akhirnya lukisan untukmu sudah selesai,” Kim Tae Hee memandang hasil karyanya puas.

Kamsahamnida Appa*…. Lama sekali baru selesai. Sudah berbulan-bulan ‘kan?” Kim Mi Young tersenyum senang. “Baguskah Appa?” dia bertanya lagi.

Senyum di bibir ayahnya langsung sirna. Didekatinya putri tunggalnya. Didekapnya erat dan lama.

Mianhae*. Karena Appa kamu jadi seperti ini. Appa janji setelah operasi besok kamu akan bisa melihat lagi. Bisa melukis lagi seperti dulu. Kelak kamu akan membuat Eomma* dan Appa-mu ini bangga,” ayahnya berkata sambil menatap lurus ke mata putrinya. Mata yang kehilangan cahaya karena kesalahannya dulu.

Kwaenchansseumnida* Appa. Jangan bersedih lagi. Sudah bertahun-tahun Appa menyiksa diri. Menyalahkan diri sendiri pun takkan dapat mengembalikan Eomma dan penglihatan Mi Young ‘kan? Lagipula selama ini Appa sudah bekerja keras mengumpulkan won demi won untuk operasi besok. Appa harusnya berbahagia,” hibur putrinya.

Mata ayahnya berkaca-kaca. “Apapun yang terjadi, setelah operasi besok Appa akan selalu bersamamu Mi Young-ah. Jadilah putriku yang kuat dan selalu menebar kebaikan ya!”

Putrinya mengangguk mantap.

***

Perban yang menutupi mata gadis itu telah dibuka. Dia mengerjap-ngerjapkan matanya. Dunianya yang gelap kini terang seketika. Dia memejamkan mata lagi, tak kuasa menahan sensasi yang lama dirindukannya. Penglihatannya mulai normal, pupil dan retinanya telah beradaptasi.

Pandangannya pelan menyapu ruangan. Senyumnya merekah ketika dilihatnya sesosok tubuh. Namun tak lama senyum itu sirna ketika dia sadar itu bukan ayahnya.

Samchon*…. Appa dimana?” 

Pamannya menatap dalam diam. Matanya sembap dan tangannya bergetar ketika mengangsurkan sepucuk surat. Sebuah surat dari ayahnya.

Mi Young membaca baris demi baris dengan alis berkerut. “Itu tak mungkin terjadi! Katakan padaku bahwa ini bohong…,” teriaknya diiring air mata yang berderai.

“Mengertilah Mi Young-ah, sangat sulit mencari donor mata untukmu. Appa-mu sudah berusaha terbaik, dia juga ingin menebus kesalahannya dulu….”

Samchon tahu kecelakaan itu terjadi karena Appa terkena serangan jantung mendadak. Samchon juga tahu Appa tak seharusnya dioperasi karena bisa terjadi komplikasi. Akibatnya bisa fatal! Sekarang Appa dimana?”

Pamannya sesenggukan. “Appa-mu…. Relakanlah Mi Young-ah, dia sudah berkumpul dengan Eomma-mu. Appa-mu juga telah menandatangani surat tidak akan menuntut pihak RS bila terjadi komplikasi atau kematian.”

Lutut gadis itu melemas. Dia berteriak sekeras-kerasnya. Begitu kencang seakan ingin meluapkan kepedihannya. Dirabanya kedua matanya. Mata ayahnya.

Gadis itu tergugu. Diingatnya lagi percakapan dengan ayahnya semalam.

“Appa, lukisan apakah itu?”

“Matamu yang indah, dan tangan-tangan Appa. Banyak sekali. Seandainya Appa bisa menambahkan lebih banyak tangan. Sayang sekali waktunya tak cukup.”

“Tangan? Untuk apa? Bukankah setelah aku bisa melihat nanti Appa akan terus melukis untukku?”

Ayahnya hanya tersenyum dan mengacak lembut rambut putrinya.

“Buatlah lukisan untukmu sendiri, Appa akan selalu bersamamu….”

Dia tersadar bahwa ayahnya memang akan selalu bersamanya.


Jumlah kata : 427 kata

Arti kata :

Ya = Hei

Mi Young-ah = akhiran -ah/-ya menunjukkan panggilan kesayangan

Kamsahamnida = Terima kasih (formal)

Appa = Ayah

Mianhae = Maaf (nonformal)

Kwaenchansseumnida = Tidak apa-apa (formal)

Samchon = Paman dari pihak ayah

2 komentar:

  1. Balasan
    1. Kadang nonton saja mbak, jadi terbiasa dengar, hehe
      Pengen belajar nulis dg setting budaya lain. Pelan-pelan
      Thanks sudah mampir dan komen :)

      Hapus

Bila berkenan sila tinggalkan jejak ya ^_^