Senin, 24 November 2014

Prompt #72 : Chandelier


Kata ibu aku seperti chandelier yang tergantung di langit-langit, tak pernah bisa diam. Bergerak-gerak lincah selalu penuh semangat. Persis seperti kelakuannya waktu kecil. Supel dan menarik perhatian. Ya, aku setuju. Buah memang jatuh tak pernah jauh dari pohonnya.

Kata ibu aku seperti chandelier yang tertiup angin. Bergoyang-goyang mengikuti ke mana arah hembusannya membawaku. Persis seperti ia di masa muda. Berfoya-foya. Berpindah dari satu klub ke klub lainnya. Dari satu gelas ke gelas lainnya.

Mungkin ibu lupa, aku ini seperti bayangan, selalu mengikuti tanpa ia sadari. Apa yang dia minum juga kuminum. Apa yang dia rasa aku pun merasakannya. Juga mendengar semuanya : sumpah serapah ibu dan ayah di setiap pagi, caci dan maki di setiap siang dan sore. Ditutup dengan hingar-bingar dan musik yang menghentak-hentak di malam hari. Kemudian di esok pagi ibu dapati matanya lebam membiru dan lekuk tubuhnya tak indah lagi. Tapi kenapa ibu masih tak peduli? Esoknya dia ulangi lagi, kali ini dengan pria yang berbeda.

Kata ibu chandelier itu sebenarnya berfungsi untuk menaruh lilin. Ah, aku tak mau menjadi tempat lilin. Untuk apa menerangi orang lain bila diri kita harus terbakar? Tapi dia tak peduli. Ibu terus saja membakar tenggorokan dan organ-organ dalam tubuhnya dengan minuman keras segala rupa. Mungkin itulah caranya melarikan diri dari luka.

Kata ibu chandelier di ruang tamu kami sangat indah. Besar dan menyala terang sekali. Puluhan lampu terbuat dari kristal menghiasinya. Syukurlah tak perlu ada lilin. Kau tahu aku tak suka lilin, panasnya mengingatkanku pada saat minuman keras itu membakar sarafku, juga organ-organ dalamku. Membuatku merasa leleh dan tenggelam dalam duka ibu.

Kau tahu, aku selalu ingin melihat chandelier itu. Sayangnya ibu tak memberiku cukup waktu. Usiaku belum genap enam bulan ketika itu. Tubuhku luruh bersama semua keinginanku untuk menghapus duka ibu.

Sumber



Jumlah kata : 291 kata


Notes : prompt yang benar-benar cetar membahana *lap keringet di jidat*

20 komentar:

  1. ten thumbs up!!!! diksinya keren mbaaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oya? Trims utk sudah singgah dan komen yaaa *kedip2

      Hapus
  2. Tulisannya ngalir mbak, kayaknya saya pernah baca ff dengan gaya penulisan seperti ini :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Trims mbak Rini...salam kenal
      Tentu saja FF ini masih banyak kekurangannya
      Jangan bosan singgah ya :))

      Hapus
  3. Sedih :( etapi itu gambarnya lucuu pisaann

    BalasHapus
    Balasan
    1. *Pukpuk pundak mbak Helda
      Iyyaa itu namanya bayi Marzipan. Bisa dimakan loh :)

      Hapus
  4. keren banget mbak. bagus cerpennya. :)

    BalasHapus
  5. selalu suka tulisannya mba...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Duh mas Ryan, trimakasiiiii :))
      *tersapu-sapu

      Jangan bosan mampir dan komen ya....

      Hapus
  6. Endingnya ga nyangka. Masih janin rupanya, hiksss

    BalasHapus
    Balasan
    1. Padahal udah kukasih gambar bayi Marzipan yang lutuuu banget y, hehe
      Thanks ya mbak Efi sudah singgah dan komen :)

      Hapus
  7. Keren! Aku suka diksinya mba :)

    BalasHapus
  8. hem... ceritanya dikemas dgn halus walopun gaada dialog :)
    followback ya mbaa di onix-octarina.blogspot.com
    thx :))

    BalasHapus
  9. koreksi dikit : ke mana, bukan kemana. Udah.. :)

    BalasHapus

Bila berkenan sila tinggalkan jejak ya ^_^