Tampilkan postingan dengan label Muslimah Only. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Muslimah Only. Tampilkan semua postingan

Jumat, 11 Januari 2019

Superposisi

Intax Edisi Khusus November 2018

Oleh: Edmalia Rohmani
Editor: Riza Almanfaluthi

Hari-hari ini waktu menjadi sesuatu yang nisbi. Dia bisa menjadi seelastis karet gelang yang direntangkan anak-anak kecil yang bermain lompat-lompatan. Terutama bila jam di dinding belum menunjuk ke angka lima di sore hari. Tapi waktu juga tiba-tiba bisa menjadi mengerut bila jatuh tempo pekerjaan mendekati batas akhirnya.

Kadang, waktu bisa menjadi begitu murah dihabiskan di warung makan dan kedai kopi. Juga dihabiskan berjam-jam dalam percakapan di media sosial. Tak jarang menjadikan kita jenis manusia baru yang bisa jadi berbeda di dunia nyata.

Bagi beberapa orang, waktu menjadi sangat mahal, bahkan menjadi kemewahan untuk dihabiskan bersama orang-orang terkasih. Tak setiap saat mereka bisa mencurahkan rasa kesal, amarah, atau kesedihan yang menumpuk di hati. Sebab itu, mereka cenderung hanya menceritakan yang indah-indah saja dan merasa hanya perlu berbagi kegembiraan saja kepada belahan jiwanya. Sebab mereka sadar, hanya kisah manis yang layak menempati ruang kenangan itu. Selebihnya biarlah mereka yang menanggungnya.

Di antara mereka, ada yang masih bergulat dengan perasaan rindu, yang semakin lama terasa semakin mencekik. Ada pula yang telah berdamai dengan keadaan dan berjabat erat dengan kesabaran. Mereka mengalihkan rasa sesak itu pada perjalanan panjang yang dilaluinya sepanjang hari. Sambil terus menata langkah untuk menunaikan tugasnya. Dan setiap kali panggilan negara itu tiba, dengan ringan hati mereka bergegas menyambutnya. Cintanya pada Pertiwi lebih kental daripada darah.

Bukannya mereka robot atau manusia setengah dewa, tapi mereka sadar bahwa itu adalah konsekuensi lain dari rasa cinta. Semakin berkorban, bukankah rasa cinta itu akan makin membesar? Dan bukankah pengorbanan adalah nama lain dari cinta?

Bukannya pula mereka telah kehilangan rasa takut sebagai manusia. Kekhawatiran kadang menjelma menjadi mimpi buruk tiap kali anak-anak mereka sakit, atau pasangan mereka menelepon di malam buta sambil menangis. Sedang mereka tak bisa berbuat apa-apa. Jarak selalu menciptakan argarinya sendiri yang sulit diretas.

Tapi mereka tahu bahwa ada kekuatan lain yang Maha Besar dan sangat bisa diandalkan di saat genting dan dunia tak bisa dikendalikan. Kekuasaan Yang Maha Mengatur Segalanya. Maka mereka menggantungkan semua harapan pada-Nya. Menitipkan mereka pada Yang Maha Memiliki. Di titik itu mereka menyadari bahwa manusia itu lemah. Dan kekuatan jiwa yang sejati berasal dari Yang Maha Kuat.

Di dalam kesadaran itu, mereka tetap berikhtiar menjalankan kewajibannya sebagai bagian dari keluarga. Dengan komitmen penuh dan keteguhan hati. Akhir pekan yang bagi sebagian orang berlalu begitu saja, bagi mereka adalah momentum emas untuk memutus belenggu rindu. Meski diam-diam ada bahaya mengintai di situ.

Sebagian besar di antara dua hari di akhir pekan itu, mereka habiskan di jalanan, baik darat, laut, atau udara. Di saat-saat itu mereka seperti kucing dalam eksperimen Erwin Schrodinger. Eksperimen apakah itu?

Pada 1935, Erwin Schrodinger, seorang ilmuwan yang mendalami fisika kuantum, mengadakan percobaan yang menghasilkan sebuah paradoks. Ia menempatkan seekor kucing dalam sebuah ruangan baja bersama dengan perangkat yang berisi botol asam hidrosianat. Itu adalah zat radioaktif yang apabila satu atomnya saja meluruh selama periode pengujian, maka mekanisme estafet akan menggerakkan palu untuk memecahkan botol itu dan pada akhirnya akan membunuh kucing.

Pengamat tidak dapat mengetahui apakah zat atom tersebut telah meluruh atau tidak, tidak dapat mengetahui apakah palu telah memecahkan botol, tidak dapat mengetahui apakah asam hidrosianat telah menyebar, ataukah kucing telah mati. Menurut hukum kuantum, kucing itu dalam keadaan mati dan hidup, dan disebut superposisi.

Hanya jika membongkar kotak itu, keadaan superposisi akan menghilang dan kondisi kucing yang sebenarnya akan diketahui. Situasi ini disebut ketidakpastian kuantum atau paradoks pengamat: pengamatan atau pengukuran itu sendiri memengaruhi hasil, sehingga hasil seperti itu tidak ada, kecuali dilakukan pengukuran.

Beberapa orang bertanya-tanya, kenapa tidak membongkar saja kotaknya? Kenapa harus membuat serangkaian kerumitan dengan mengambil risiko dan mengorbankan nyawa si kucing? Pada akhirnya kita harus mengakui, ada beberapa orang yang tak bisa menghindari menjadi seperti kucing-kucing itu.

Itu bukanlah sebuah kesalahan. Itu juga bukan sebuah kekalahan. Meski mengetahui risikonya, mereka memilih tetap berada di situasi superposisi. Berada di ruang antara hidup dan mati. Atas nama cinta dan kesetiaan. Dan mereka tak pernah mau memilih mana cinta yang lebih besar, mereka pergi untuk kembali, dan esoknya mereka kembali untuk selanjutnya pergi.

Setiap kita sebenarnya juga kucing-kucing itu. Mungkin tidak dalam kotak baja yang tertutup. Mungkin tidak dengan zat radioaktif yang meluruh. Tapi setiap saat ada yang setia mengintai kita. Kita pun berada dalam kondisi superposisi.

Perbedaan dari kita dan mereka adalah kesadaran yang menyergap. Mereka sadar mereka ada dalam kondisi superposisi, kita tidak. Mereka sadar kesempatan tak selalu datang dua kali, kita tidak. Mereka sadar bahwa waktu adalah pedang, yang apabila kita tak sanggup menguasainya, seketika pedang itu akan menebas batang leher kita.

Kesadaran kadang datang terlambat. Kita baru menyadari ketika satu per satu dari mereka meninggalkan kita. Kotak baja itu telah terurai dengan sendirinya. Dan kita lalu menjadi ternganga, betapa cepatnya perjumpaan dan perpisahan itu tiba. Ia merenggut apa-apa yang seringkali kita kira menjadi milik kita. Padahal tak ada yang benar-benar milik kita.

Mereka yang lebih dulu pergi adalah sebenar-benarnya syuhada. Kepergiannya menyisakan harum mewangi yang menjejak dalam sejarah. Juga teladan dan pelajaran yang nyata. Mungkin kita perlu merenungkan perkataan Ibnu Mas’ud r.a., “Tiada yang pernah kusesali selain keadaan ketika matahari tenggelam, ajalku berkurang, namun amalanku tidak juga bertambah.”

*Artikel ini telah ditayangkan pada majalah Intax (Internal Tax Magazine) Edisi Khusus November 2018 dalam rubrik "Refleksi"

Minggu, 18 November 2018

Selarik Sinar Merah di Dahinya

Wisam termangu. Matanya sesekali melirik ke bangku kosong di sebelahnya. Ia menghela napas. Nasir pasti sedang bergembira sekarang, pikirnya sejurus kemudian. Ia merindukan bocah kecil itu, teman sebangkunya yang rendah hati. 

Baginya Nasir selalu seperti mentari yang memancarkan cahayanya. Ia teringat momen-momen saat mereka belajar kelompok, atau saat ia bertanya tentang pelajaran yang tak dimengerti. Anak itu selalu punya jawabannya. Dia memang seperti kamus berjalan. Pantas jadi kesayangan semua murid dan guru.

Wisam suka bermain bola dan berlatih kung fu bersamanya. Juga menghapal Quran. Soal yang satu itu semangat Nasir sulit ditandingi. Tak habis-habis ia mengagumi sahabatnya itu.

* * *

“Assalamualaikum!” suara putranya seperti terngiang-ngiang di telinga Samah. Ia masih ingat betul tatapan matanya sebelum pamit berangkat.

Sebelum pergi Nasir masih menyempatkan membantu pekerjaan rumah. Punggung Samah yang bermasalah memang membuatnya agak kesulitan bergerak. Beruntung putra-putrinya benar-benar jadi penyejuk mata. Islam dan Duaa, kedua kakak perempuan Nasir rupanya memberikan teladan yang baik baginya. Lelaki kecilnya itu ringan tangan membantunya. Prestasi di sekolahnya juga membanggakan.

“Aku ingin ikut aksi, Bu,” ucapnya suatu ketika. Kala itu pawai kepulangan akbar akan digelar setiap Jumat. Islam dan Du’aa bergabung menjadi relawan medis. “Aku bisa membantu apapun yang dibutuhkan kakak, membawa tandu, menyiapkan obat-obatan, dan lainnya.”

Samah paham, keinginan putranya itu tak bisa dilawan. Saat itu ia teringat firman Allah SWT, ”Katakanlah: ‘jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, isteri-isterimu, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.’ Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (Quran Surat At-Taubah ayat 24)

Saat mengiyakan keinginan putranya, ia sempat meminta, “Berjanjilah padaku untuk berada di sekitar tenda!” Itu adalah tempat pos tenaga medis. Letaknya di sebelah timur kota Khan Younis, sekitar setengah kilometer dari perbatasan Israel. Samah merasa itu adalah tempat yang cukup aman, meski ia sadar dalam kondisi perang seperti itu tak ada tempat yang benar-benar aman.

Setiap orang bisa saja terbunuh dalam kondisi terbaring di atas ranjang sekalipun, entah karena serangan misil Israel atau ledakan gas beracun. Ia tahu putranya yang bercita-cita menjadi hafidz sudah mempelajari makna ayat: “Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” (Quran Surat At-Taubah ayat 41)

Maka ia mencoba membesarkan hati setiap kali pria kecilnya pergi. Seperti juga Jumat pagi di Bulan September itu. Dia akan pulang seperti biasanya ketika senja tiba. Lalu ia akan menceritakan pengalamannya seharian dengan mata berbinar, kadang dengan mata sendu ketika melihat para syahid. Dia memang bocah yang cerdas dan lebih cepat dewasa.

“Kalau besar nanti, aku akan jadi dokter. Aku akan menjadi relawan medis di perbatasan. Dan aku akan mengobati punggungmu juga, Ibu!” janjinya. Matanya menerawang jauh. Samah tersenyum lebar. Hatinya sejuk mengaminkan.

* * *

“Nasir! Ambilkan kotak P3K!” Islam berteriak di antara bunyi desingan peluru dan ledakan bom. Asap hitam mengepul di udara. Ban-ban bekas yang terbakar menggelinding di kejauhan. Layang-layang dan balon berisi gas membumbung tinggi ke udara.

“Nasir! Nasir!”

Bocah kecil itu tersentak. Gegas ia mengambil kotak P3K di lemari penyimpanan. Kaki kecilnya berlari kencang menuju arah suara kakaknya. Di antara kobaran api dan gulungan asap tebal, ia berhasil melihat sosok gadis itu. Seperti juga hari-hari sebelumnya, keringat dan ceceran darah mewarnai jas putihnya.

Nasir mengulurkan kotak itu kepada kakaknya. Islam tersenyum. Detik berikutnya ia sudah tenggelam dalam kesibukan merawat korban-korban yang terluka. Adiknya pasti sudah kembali ke tenda, pikirnya. Sudah berbulan-bulan ia membantu membawakan perlengkapan medis di perbatasan dan adiknya selalu baik-baik saja. Ia sudah berjanji pada ibunya akan selalu menjaga adiknya. Tapi ia tahu, di saat-saat seperti ini hanya Yang Maha Menjaga yang bisa dimintai pertolongan.

Ia baru terpikir untuk mencari adiknya setelah selesai merawat demonstran yang cidera. Janjinya kepada ibunya memburu. Perasaan aneh tiba-tiba menyergap. Setengah panik, ia berteriak-teriak memanggil Nasir. Du’aa pun turut membantunya.

Dua jam kemudian, ia menemukan adik bungsunya di Rumah Sakit Gaza Eropa.

* * *

“Assalamualaikum!” suara putranya seperti terngiang-ngiang di telinga Samah. Ia masih ingat betul tatapan matanya sebelum pamit berangkat.

Putranya telah kembali pulang. Dadanya gemuruh. Kepedihan berkecamuk di hatinya. “Innalillahi wa innailaihi raa ji’uun,” air matanya meleleh. Mereka telah menemukannya di ruang jenazah rumah sakit.

Peluru itu tidak menyasar sembarangan. Yasser Abu Khater, salah seorang pengunjuk rasa berkata, “Seberkas sinar laser melewati kami dan mengarah tepat ke kepala anak itu ketika dia berlari.” Sniper Israel rupanya sudah putus asa menarget pejuang dewasa dan paramedis. Anak-anak adalah sasaran paling empuk.

Maut menghampiri Nasir ketika dia hendak kembali ke tenda. Selarik sinar merah itu telah memandu penembak jitu Israel untuk menarik pemicunya dan mencabut nyawa bocah sebelas tahun itu.

* * *

“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezki. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati." (Quran Surat Ali Imran ayat 169-170)

Wisam termangu. Matanya sesekali melirik ke bangku di sebelahnya. Sebuah karangan bunga plastik diletakkan di situ. Selembar foto sahabatnya yang sedang tersenyum bertengger di atasnya. Tulisannya terpampang nyata, “Syahid: Nasir Azmi Mishbah”.

Sumber
(Tulisan ini diadaptasi dari kisah nyata syahidnya Nasir Mishbah yang menjadi target penembak jitu Israel pada 28 September 2018 lalu pada pawai kepulangan akbar. Aksi demonstrasi ini dimulai sejak 30 Maret 2018 lalu dan masih berlangsung hingga kini.)

Tentang aksi pawai kepulangan akbar selengkapnya bisa dibaca di sini.

Sabtu, 03 November 2018

Helium

Oleh: Edmalia Rohmani
Editor: Riza Almanfaluthi

Penjual balon itu tak menyadari bahwa sedari tadi sepasang mata selalu mengawasi gerak-geriknya. Trik cerdiknya melepas beberapa balon untuk menarik perhatian pelanggan kecilnya ternyata cukup berhasil. Tinggal tersisa beberapa balon saja. Saat ia memutuskan untuk berkemas-kemas, seorang bocah berkulit hitam menghampirinya.

"Tak adakah balon hitam yang bisa diterbangkan? Apakah balon berwarna hitam tak bisa terbang ke angkasa?" ia bertanya dengan mata berkaca-kaca. Saat itu akhir dekade 60-an, diskriminasi ras masih lestari di beberapa negara bagian Amerika.

Mendengar pertanyaan itu sang penjual tersenyum. Seketika ia mengambil sebuah balon berwarna hitam, memompanya penuh-penuh dan mengikatkan seutas benang pada pangkalnya.

"Kenapa berpikir ia tak bisa terbang karena berwarna hitam? Yang membuatnya terbang adalah isinya, bukan warnanya," hiburnya sambil memindahkan balon hitam ke tangan mungil itu. Mata anak itu bersinar-sinar. Baginya, jawaban itu sangat tak tepermanai.



Beberapa dasawarsa sebelumnya, tepat setelah masa perang dunia pertama, para ilmuwan masih menjadikan metode Stanford-Binet sebagai standar penilaian kecerdasan. Parameter tunggal yang saat itu digandrungi oleh sebagian besar masyarakat Amerika, terutama karena pengaruh Lewis Terman, seorang profesor muda dari Stanford University. Ide ekstrimnya kadang mengundang kontroversi, seperti melarang seseorang ber-IQ rendah untuk memiliki anak dan pemberian jabatan penting semata-mata dari skor inteligensi yang tertinggi.

Suatu ketika, ia mengamati seorang anak laki-laki yang bekerja sebagai pramubakti di sebuah sekolah dekat universitasnya. Henry Cowell, nama anak itu, diam-diam sering menyelinap ke ruang seni musik sehabis jam bekerja untuk memainkan piano dengan alunan musik sangat indah, yang dipelajarinya secara otodidak.

Ketika mendapati skor IQ Cowell 140, sebuah kesadaran menyergap Terman. Berapa juta mutiara terpendam berserakan di luar sana yang akan tersia-sia? Cemas dengan hal itu, ia bertekad melakukan sesuatu.

Selama puluhan tahun kemudian, ia mendedikasikan diri untuk mengumpulkan anak-anak semacam Cowell dan mempelajari kehidupan mereka. Lebih dari seribu anak dengan rentang IQ 140-200 menjadi subjek penelitiannya yang bersejarah.   

Para "Termites", sebutan mereka, senantiasa diawasi, diuji, dan dianalisis hasil penilaiannya. Berbagai capaian akademisnya dicatat, begitu pula dengan kehidupan pribadinya. Kesehatan fisik dan psikisnya selalu dipantau, dengan tabel dan beragam catatan. Terman bahkan menuliskan surat rekomendasi saat mereka mencari pekerjaan atau kuliah pascasarjana.

Ia mendokumentasikan jurnalnya dalam sebuah buku tebal berjudul Genetic Studies of Genius. Dalam pandangan visionernya, para "Termites" akan menjadi kelompok elit yang menguasai berbagai lini kehidupan dan mengubah wajah dunia. 

Faktanya, ketika para subjek penelitian itu dewasa, hanya beberapa saja yang mempunyai pengaruh nasional. Tidak ada satupun yang berhasil memenangkan hadiah Nobel. Bahkan, Terman sendiri menilai beberapa dari mereka menemui kegagalan.

"Kita telah melihat," ungkapnya kecewa, "bahwa kecerdasan intelektual dan keberhasilan sangat jauh hubungannya." Kesimpulan ini menutup penelitiannya dan menahbiskan lindapnya lema "jenius" pada buku Genetic Studies of Genius jilid keempat.

Hipotesis Terman yang patah seakan memaksa kita kembali ke kisah pertama. Apakah "isi" dari balon yang sebenarnya menjadi bahan kesuksesan? Benarkah keunggulan hereditas atas inteligensi bukan tiket satu-satunya dalam melambungkan hidup seseorang?

Bahkan setelah hampir dua puluh tahun sejak pergantian milenial, kita masih terpesona dengan paradigma lama tentang faktor pencetus keberhasilan. Ketergesaan dalam mengecap seseorang berdasar satu atau dua penilaian tentu berbahaya, apalagi coba-coba meramal masa depannya berdasarkan satu atau dua digit angka. 

* * *

Mungkin kita bisa belajar sedikit dari kisah hidup Oprah Winfrey. Tumbuh dengan latar belakang orang tua yang bercerai, membuatnya terlibat kenakalan remaja dan gemar kabur dari rumah. Menjadi objek pelecehan seksual kerabatnya selama lima tahun membuatnya hamil di usia muda. Pada umur 14 tahun ia melahirkan bayi yang hanya mampu bertahan hidup dua pekan saja.

Hampir frustrasi dan pesimis melihat masa depan putrinya, sang ibu lalu mengirimnya pada sang ayah yang mantan militer. Sejak itu ia menjalani hidup seperti tentara. Tak ada waktu bersantai. 

Didikan yang keras memaksanya bertransformasi. Berhasil meraih predikat pelajar teladan, ia mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan kuliah. Debutnya bermula saat menjadi penyiar radio lokal di usia 17 tahun. Dua tahun kemudian, sebuah stasiun televisi mengorbitkannya sebagai wanita berkulit hitam pertama yang menjadi penyiar berita di stasiun televisi itu.

Medio 2017, Forbes mencatat kekayaannya mencapai Rp38 triliun, menjadikannya wanita Afro-Amerika terkaya di dunia. Ia adalah ratu acara bincang-bincang di TV, pemilik jaringan TV kabel, penerbitan majalah, rumah produksi, program TV, dan satelit radio sendiri.  

Ketika ditanya rahasianya ia membocorkan, "Rahasia terbesar dari kehidupan adalah tak ada rahasia. Apapun tujuannya kamu akan bisa mencapainya bila tak pernah berhenti berusaha."

The Giving Back Fund Foundation memberinya gelar selebritas paling dermawan. Tak kurang dari Rp536 miliar digelontorkannya untuk program pendidikan dan perlindungan wanita dan anak-anak. Hingga kini badan amal yang didirikannya telah menghabiskan jutaan dolar untuk membiayai sekolah di negara miskin di Afrika.

Baginya, berbuat baik adalah satu cara untuk membawa kebaikan bagi diri sendiri, sekaligus berdamai dengan masa lalu. Ia telah berhasil mengisikan "helium" bagi kehidupannya. Sesuatu yang seringkali luput dari penilaian kita.

Lalu, alih-alih memenuhi "balon" dengan segenap kemampuan yang ada, kita seringkali menjadi permisif; mencari seribu satu alasan untuk memaklumi diri dan memaafkan untuk tidak mengisinya dengan paripurna. (ER/RZ)

Artikel ini telah ditayangkan pada majalah Intax DJP edisi April 2018.

Baca juga : Sosok Pegawai Teladan DJP

Kamis, 31 Mei 2018

Pawai

Empat belas Mei 2018. Hari itu akan selalu terpatri dalam ingatan saya. Malamnya beberapa anak dan remaja melakukan pawai, lewat di depan rumah sambil menabuh galon air, panci, dan rupa-rupa alat musik dadakan lainnya sambil berdendang.

"Sambut, sambut, sambut Ramadhan, sambut Ramadhan dengan gembira!" riuh nyanyian mereka memodifikasi syair dengan nada lagu "Menanam Jagung", menggema ke sudut-sudut kampung. Syiar Ramadan seketika terasa, menyelipkan rasa sendu alih-alih syahdu ke dalam benak saya.

Ya, hari itu adalah hari pembukaan Kedutaan Besar Amerika Serikat di Yerusalem. Ivanka Trump, putri Donald Trump, memimpin langsung seremoni inaugurasi dan memberikan ucapan selamat datang ke Kedutaan Besar di kota yang disebutnya sebagai ibukota Israel.

Meskipun rencana kepindahan Kedutaan Besar AS telah menuai kecaman dari berbagai pihak sejak diumumkan pada 6 Desember tahun lalu, nyatanya Trump tetap bergeming. Padahal, rencana itu telah ditentang 128 negara dalam pengambilan suara yang dilakukan oleh Majelis Umum PBB pada 21 Desember 2017.

Kepindahan Kedutaan Besar dari Tel Aviv ke Yerusalem (Al Quds) adalah sebuah pelanggaran terhadap resolusi Dewan Keamanan PBB di tahun 1980 yang melarang setiap negara untuk menggelar misi diplomatik di Kota Suci Tiga Agama tersebut. Hal ini juga pelanggaran atas resolusi PBB yang terbit di tahun 1967 yang menyepakati bahwa status akhir Yerusalem harus diputuskan lewat negosiasi langsung Palestina dan Israel yang seharusnya masih berlaku hingga detik ini.

Namun resolusi tinggal resolusi. Trump semakin jumawa dengan tekadnya. Bahkan dalam salah satu pidatonya, ia menegaskan dengan penuh kemenangan, "Sementara beberapa presiden sebelumnya menjadikan ini sebagai agenda utama kampanye mereka, tapi mereka gagal. Hari ini saya berhasil memenuhi janji itu."

Sejak 7 Mei 2018 lalu, sejumlah papan penunjuk jalan menuju kedutaan telah terpampang. Masih dalam rangka persiapan pembukaan kedutaan itu, sejumlah Murabitoun (penjaga masjid) dilarang masuk ke dalam Masjid Al Aqsa, kiblat pertama umat Islam, sementara warga Israel semakin mudah berlenggang kaki memasuki kawasan suci.

Empat belas Mei 2018, sehari sebelum peringatan tujuh puluh tahun peristiwa Nakba, dipilih sebagai tanggal pembukaan resmi Kedutaan Besar AS bukan tanpa sebab. Nakba sendiri bermakna malapetaka, yaitu bencana besar bagi warga Palestina. Peristiwa ini terjadi ketika pada tanggal 15 Mei 1948, Israel melakukan pengusiran besar-besaran sehingga menyebabkan lebih dari 850 ribu warga Palestina harus mengungsi, ribuan korban jiwa berjatuhan, dan lebih dari satu juta warga Palestina menjadi tahanan Israel. Sejatinya, rencana kepindahan ini akan dilaksanakan pada tanggal 15 Mei, namun rupanya penguasa Negeri Paman Sam itu sudah tak sabar.

Di tengah kondisi PBB yang tak berkutik di bawah cengkeraman Amerika, dan negara-negara Timur Tengah yang tak lagi nyaring bersuara, perjuangan rakyat Palestina terus menggelora. "Pawai Kepulangan Akbar" digelar dari 30 Maret hingga 15 Mei 2018. Tak kurang tujuh belas ribu warga Palestina, menggelar aksi unjuk rasa dengan mendirikan setidaknya lima tenda di sepanjang perbatasan Gaza-Israel selama enam pekan tersebut.

Ada dua tujuan utama diselenggarakannya aksi ini. Pertama, menuntut hak para pengungsi untuk kembali ke tanah air dan mengambil kembali hak mereka atas yang dirampas pemerintah Israel dengan UU Kepemilikan Tanah Tak Bertuan Tahun 1950 dan menerapkan Poin 11 Resolusi PBB nomor 194. Kedua, menghentikan blokade Gaza yang telah berlangsung selama 12 tahun sejak 2006.

Peserta pawai besar-besaran ini berasal dari semua elemen masyarakat termasuk wanita dan anak-anak. Mereka menggelar berbagai bentuk aksi damai seperti orasi tokoh dan mogok makan. Aksi ini rupanya dianggap sebagai upaya menebarkan teror bagi pihak Israel sehingga memicu konfrontasi. Bom meledak di wilayah Gaza dan jet-jet tempur diarahkan untuk menyerang pos-pos milisi bersenjata Gaza Utara. Beberapa bentrokan pun tak dapat dihindarkan. Militer Israel melepaskan tembakan dengan peluru panas saat beberapa peserta aksi berusaha menerobos pagar pembatas di perbatasan.

Gas air mata pun disebarkan, hingga menyebabkan syahidnya seorang balita di Gaza Timur. Laila Anwar Ghandur, demikian nama bayi berusia delapan bulan yang tewas akibat menghirup gas beracun itu. Ia hanyalah satu dari 113 warga Palestina yang tewas selama pawai akbar. Tak terhitung 12 ribu korban yang menderita luka-luka, 700 di antaranya adalah anak-anak. Jelas, Konvensi Jenewa tak pernah dianggap ada oleh pemerintah Israel.

Dalam perjuangannya, peserta aksi menggunakan batu, ketapel, layang-layang yang menerbangkan bahan yang mudah terbakar, dan sepuluh ribu ban bekas yang dibakar untuk melawan militer Israel. Mereka tak berhenti mengadakan perlawanan untuk mengebiri ide Trump terkait isu "Kesepakatan Abad Ini" di mana Palestina hanya akan diberikan "jatah" wilayah Jalur Gaza dan Tepi Barat. Ide tersebut akan berkembang ke arah yang lebih mengerikan: Jalur Gaza akan dianeksasi oleh Mesir, sementara Tepi Barat akan diambil alih oleh Yordania. Dengan skenario tersebut, negeri Palestina hanya akan tinggal sejarah dan selama-lamanya akan lenyap dari muka bumi.

Lalu, di posisi manakah umat Islam di Indonesia kini berada? Belum sempat saya memikirkan jawabannya, pada tanggal yang sama dengan dibukanya Kedutaan Besar AS itu, terjadi beberapa peristiwa yang menyentak nurani. Kali ini pawai kematian yang tak kalah mengerikan, pengeboman terjadi di tiga titik tempat di Surabaya.

Terlepas dari berbagai polemik yang ada, kali ini para pelakunya telah teridentifikasi. Dan lagi-lagi umat Islam di negeri ini menghadapi ujiannya. Istilah-istilah semacam ekstremis, radikalis, dan penyematan negatif terhadap atribut pengajian dan pesantren mulai menghangat. Sebagian orang tua merasa khawatir apabila anaknya ikut kelompok mengaji, mungkin lebih takut daripada terjangkit narkoba.

Dan lagi-lagi isu tentang tanah wakaf umat Islam sejak zaman Khalifah Umar Al Faruq Ibn Khattab seperti terbawa angin lalu. Mimbar-mimbar pencetus semangat kebangkitan umat tak lagi laku. Semuanya hanyut dalam euphoria ketakutan dan kewaspadaan, tanpa jelas benar dikenali takut pada siapa dan waspada akan apa. Ibadah ritual dan ceramah agama hanyalah seremonial belaka.

Keadaan ini persis seperti yang dinubuatkan Rasulullah SAW belasan abad lalu. Dari Abu Umamah berkata: Rasulullah SAW bersabda, "Akan ada sekelompok umatku yang memegang teguh agamanya mengalahkan musuh-musuh mereka. Orang yang menentang mereka tidak akan membahayakan mereka hingga datang kehendak Allah SWT dan mereka sama sekali tidak berubah. Mereka berkata, 'Di mana mereka ya Rasulullah?' Beliau menjawab, 'Di Baitul Maqdis dan sekitarnya'" (HR Ahmad).

Betapa mulianya mereka. Betapa sengsaranya kita. Sementara kita bersuka cita menyambut bulan penuh ampunan tanpa sedikit pun mengingat perjuangan mereka. Padahal yang mereka lakukan tak sedikit pun menggantikan posisi kita. Padahal mereka menjaga apa yang seharusnya kita jaga.

Sementara kita dengan mudah menunjuk menu apa saja untuk berbuka puasa, saudara-saudara kita di Palestina berbagi jatah beras yang dikirimkan melalui kapal kemanusiaan, entah dengan lauk apa. Sementara kita menikmati siraman lampu terang benderang di pusat perbelanjaan berskala internasional, pelajar mereka bersusah payah menyelesaikan tugas sekolah dan menghapal Quran dengan listrik yang menyala 3-4 jam saja sehari. Dan tiap tahun ribuan penghapal Quran tetap saja ditahbiskan di Negeri Para Nabi.

Kita memang perlu merenungkan kembali makna Ramadan di tahun ini. Sambil mereka-reka jawaban apa yang bisa kita berikan kelak ketika Allah Azza wa Jalla bertanya, "Usaha apa yang telah kita lakukan untuk membebaskan Palestina dan Masjid Al Aqsa?"

Boleh jadi kita telah lupa firman-Nya, "Hai orang-orang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu" (QS. Muhammad:7). Barangkali goyahnya pijakan kaki kita selama ini adalah sebab kealpaan kita yang menganggap pembebasan tanah Isra' dan Mi'raj semata-mata berhukum fardhu kifayah.

Pawai-pawai menjelang Ramadan ini menyisipkan rasa rindu yang begitu sendu, seperti penggalan puisi Taufik Ismail:

Tanahku jauh, bila diukur kilometer, beribu-ribu.

Tapi adzan Masjidil Aqsha yang merdu, serasa terdengar di telingaku.

Palestina, bagaimana bisa aku melupakanmu?

* * *

Alhamdulillah tulisan ini memenangkan Juara I Lomba Tulisan Islami Masjid Shalahuddin DJP Ramadhan 1439 H.

Saya bersama Dr. Amal Khalifa, peneliti sejarah Palestina

Jumat, 29 Desember 2017

Kembalinya Si Anak Hilang

“Anakmu bukanlah milikmu.
Mereka putra-putri kehidupan yang rindu pada dirinya.
Lewat kau mereka lahir, namun bukan dari engkau.
Meski mereka bersamamu, mereka bukan hakmu.”

-Kahlil Gibran-

Apakah arti menjadi seorang ibu? Apakah ketika seorang wanita berhasil menjadi perantara hadirnya seorang anak manusia ke dunia maka ia telah layak dipanggil ibu? Ataukah ketika dia sudah memberi makan dan memenuhi kebutuhan hidup putra-putrinya maka serta-merta berhak tersemat predikat itu?

Jikalau maknanya hanya sebatas pengertian di atas, maka tentulah kejadian pahit dua tahun yang lalu takkan kualami. Kala itu putra bungsuku telah selesai masa menyusu. Entah kapan tepatnya, tiba-tiba dia lebih memilih tidur bersama pengasuhnya daripada denganku, ibu kandungnya sendiri.

Kala itu, batinku koyak tercabik-cabik, kalau tak bisa dibilang hancur berkeping-keping. Tiap kali putraku menangis minta diantar ke kamar pengasuhnya, hatiku pun runtuh dan gerimis. Bagaimana bisa dalam kejapan mata ia abaikan perempuan yang rela menyabung nyawa ketika melahirkannya?

Musnah sudah semua ilmu pengasuhan anak dan idealisme yang kupelajari dan berhasil kuterapkan pada kakak sulungnya. Di usia batita, si buyung justru menunjukkan ketidakacuhannya padaku, bahkan mengusirku dari kamar pengasuhnya bila malam tiba.

Seketika itu juga, berbagai ketakutan dan bayangan buruk berkecamuk di jiwa. Bagaimana bila hal ini berlanjut terus dan mempengaruhi psikologisnya hingga ia dewasa? Apa jadinya jika dia menjadi anak yang sulit diatur sebab tiada ikatan batin dengan orang tua? Cemas hati luar biasa namun saat itu pikiranku gelap tanpa bisa mengetahui muasalnya.

Kucoba merunut lagi peristiwa demi peristiwa yang sekiranya melatarbelakangi kejadian ini. Apakah karena aku pekerja kantoran yang seringkali sampai di rumah larut malam? Atau karena ketika di rumah aku tak sanggup mengelola amarah sehingga dia sering melihatku emosi? Ataukah karena aku sering menonton drama seri Korea hingga larut malam alih-alih membacakan dongeng pengantar tidurnya?

Pada akhirnya harus kuakui, apapun penyebabnya, kenyataannya aku tak lebih baik dari pengasuh anakku yang bahkan tak tuntas mengenyam pendidikan dasar. “Tangki Emosi” anakku dipenuhi dengan memori dan kasih sayang dengan pengasuhnya, bukan denganku. Pendidikan dan semua teori parenting yang kupunya tak berguna ketika harus berhadapan dengan bocah keras kepala itu. Aku mati kutu. Tak berdaya ketika pelan-pelan dia tak mengindahkanku, sebagaimana dia merasa aku mengabaikannya pada saat itu. Hari-hari terasa gelap dan tak berujung, hanya tangis dan gulana yang menghiasi malam-malamku.

Hingga suatu ketika, hidayahNya menuntunku menghadiri seminar pendidikan anak yang diisi oleh Ustadz Irwan Rinaldi. “Bukan tanpa sebab seorang bayi dititipkan pada rahim kita. Ketika amanah itu hadir maka artinya kita memang dianggap mampu oleh Sang Pemilik Kehidupan, sebab tak semua orang bisa mendapatkan karunia itu. Setiap anak adalah istimewa, maka keyakinan untuk bisa mendidik dan mengantarkannya menuju surga haruslah terhunjam kuat di dalam dada,” kata-katanya begitu lugas, menampar dan menyentak kesadaranku.

Setelah mendapatkan tausiyah itu, kepercayaan diriku yang pudar mulai bangkit. Ya, aku harus bangkit! Sebab Allah tidak akan mengubah nasibku kecuali aku berupaya mengubahnya! Di luar acara kuberanikan diri menghubungi Ustadz pemeran utama film Sang Murabbi itu dan berkonsultasi secara pribadi. Beliau memberikan tips yang sederhana nan tak mudah: perbanyaklah istighfar dan shalawat. Pasrahkan semuanya pada Yang Maha Membolak-balikkan hati.

Wejangan beliau memaksaku mengevaluasi diri. Bagaimanakah hubunganku dengan Allah Ta'ala selama ini? Adakah kuikuti sunnah-sunnah RasulNya dengan sempurna? Ke manakah bacaan Quran peneduh jiwa dan shalat-shalat malam itu melesap? Di titik ini akhirnya kumengerti, bahwa ikatan batin kita dengan anak atau pasangan memang sangatlah bergantung dengan kualitas koneksi kita dengan Sang Pemilik Jiwa.

Rasulullah SAW bersabda ”Sayangilah yang ada di bumi, niscaya yang ada di langit akan menyayangimu.” (HR. At Thabrani dalam al Mu’jam al Kabir, Shahihul Jaami’ no. 896). Dalam riwayat lain Rasulullah SAW memberikan panduan, “Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah mereka yang paling baik budi pekertinya dan paling lemah-lembut perilakunya kepada ahli keluarganya” (HR Imam at-Tirmidzi, an-Nasa’i dan al-Hakim).

Maka kuputuskan untuk kembali padaNya. Bila cintaku memang tulus tak mengharap balasan maka inilah saatnya membuktikan. Kuusahakan selalu untuk memberi perhatian lebih pada si bungsu tanpa mengurangi porsi kewajibanku di kantor. Sebab ingin dia tumbuh menjadi pria yang shaleh, maka harus kupastikan kehalalan penghasilan yang kubawa pulang ke rumah. Tiada henti kusebut namanya dalam untaian doa yang menderas. Kutingkatkan lagi amalan-amalan sunnah yang dulu satu per satu telah kutinggalkan.

Lalu, ke manakah drama-drama Korea itu? Akhirnya kusadari bahwa Lee Min Ho dan Song Joong Ki tak mampu memberikan syafaat di hari akhir nanti. Tapi anakku, dan setiap amal kebaikan yang dilakukannya atas buah nasihat dariku kelak mampu menjadi pemberat mizan perhitungan hisabku.

Allah SWT berfirman, “Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluannya).” (QS Ath-Thalaq: 2-3)

Pepatah Arab menyebutkan, “man shabara zhafira”, barangsiapa bersabar maka akan mendapatkan keberuntungan. Di saat kepasrahanku mencapai puncaknya, putraku akhirnya berubah pikiran. "Aku mau bobo sama Ummi aja," ujarnya suatu ketika.

Masya Allah. Masya Allah. Putraku telah kembali ke pelukanku! Subhanallah walhamdulillah! Terima kasih ya Allah telah memberiku kesempatan yang kedua untuk membuktikan bahwa aku layak menyandang sebutan itu. Namun, perjuanganku belum berakhir, baru saja dimulai.

Pengalaman ini memberiku pelajaran berharga; melahirkan seorang anak tak serta merta menjadikan perempuan berhasil jadi seorang ibu seutuhnya. Dibutuhkan pembuktian dan pengabdian seumur hidup, pengorbanan dan keikhlasan sepanjang hayat. Kebutuhannya tak cukup sebatas materi, dan bukan tanpa sebab Allah SWT menjadikan kita sebagai pengemban amanah ini.

Yakinlah Anakku, Ibu akan antar engkau hingga ke pintu surga, dan kelak bersama-sama kita akan memasukinya, insya Allah.

"Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikit pun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya." (QS. Al-Thuur: 21)


* * * 


Alhamdulillah tulisan ini memenangkan Juara I Lomba Menulis Artikel Peringatan Hari Ibu 20 Desember 2017 DKM Al-Amin Kementerian Keuangan.



Saya bersama Mbak Cia (Ketua Panitia) dan Bu Suryani (Kabid Kewanitaan DKM)


Baca juga:

- Shirah Shahabiyah

- Kisah Nabi

- Tentang Hijab

- Artikel lain yang mendapat penghargaan

Jumat, 24 November 2017

Sebab Berhijab Tak Perlu Pakai Logika



Tulisan ini dibuat bukan semata-mata sebagai respon atas aksi lepas hijab seorang selebritas  (semoga Allah SWT memberikan hidayah kepadanya), meski kuakui hal itu memang memantik sebuah perenungan mendalam dan memaksaku terlempar kembali ingatan saat-saat awal berhijrah dulu.

Keputusan berhijab adalah sebuah lompatan terbesar dalam hidupku. Siapapun yang mengenalku di masa-masa remaja mungkin sebagian besar berpendapat bahwa berhijab adalah sebuah pelarian atau kemustahilan mengingat perilakuku di masa lalu. Tapi Allah SWT memang Maha Baik. Ketika Dia berkenan membukakan jalan maka sesungguhnya tak ada yang tak mungkin.

Tak semua sejawat menerima keputusan itu. Ibuku bahkan mengkhawatirkan kalau-kalau aku sulit mendapatkan jodoh. Sebuah gambaran nyata bahwa pada masa itu di kampungku hijab memang tak sepopuler sekarang, dan masih terbelenggu pemikiran bahwa hijab hanya untuk perempuan-perempuan tua atau yang sudah pernah ke tanah suci.

Apakah hijab hanya diperuntukkan bagi orang-orang suci? Adakah di dunia ini muslimah yang berjalan di muka bumi tanpa membawa setitik pun dosa di dalam hatinya? Sesungguhnya telah lama aku berlepas diri dari pemikiran seperti itu. Aku adalah seorang pendosa. Hari ini dan esok pun aku berdosa. Tapi aku sungguh enggan menjadikan dosa-dosa itu sebagai penghalang dari rahmat-Nya.

Satu-satunya hal yang bisa kulakukan adalah berupaya agar Dia selalu mencintaiku. Dan aku ingin membuktikan itu. Disebutkan dalam surat cinta-Nya, aku harus menutup aurat, agar terang perbedaan dalam hal keimanan dengan yang bukan muslimah. Dan untuk melindungiku dari pandangan yang jahat dan niat yang buruk. Keuntungan selebihnya adalah bonus, misalnya efek kulit yang lebih terlindungi dan tidak perlu repot-repot menata rambut, sehingga waktuku lebih efektif dan bisa digunakan untuk hal-hal bermanfaat lainnya.

Yang jelas dengan berhijab membuatku fokus pada karya yang dihasilkan dan menambah keyakinan bahwa seorang muslimah bisa tetap eksis tanpa semata-mata menonjolkan kelebihan fisiknya. Hijab memang menutupi fisikku, namun dia malah membuka semua kesempatan yang ada dan menunjukkanku pada jalan yang lebih terang.

Momen hijrah berikutnya yang paling berkesan adalah ketika ibuku juga memutuskan berhijab. Dan lompatan beliau lebih jauh lagi. Keputusan itu membuatnya belajar membaca quran di usia yang tak lagi belia. Dan beliau berhasil! Di usia kepala lima beliau juga berhasil menghapal juz 30. Subhanallah. Semoga Allah SWT menjaga hapalan beliau dan mencurahkan rahmat-Nya selalu kepada bundaku.

Sebab sesungguhnya hidayahku pun berasal dari orang tua. Dulu, ketika masih SD, ibu sering membawakan majalah Annida (semoga Allah SWT membalas jasa para redaktur dan kontributornya) untuk kubaca. Isinya penuh dengan keindahan Islam dan bagaimana menjalankan syariat Islam dengan penuh ketaatan. Itu adalah peletak dasar pondasi berpikirku di masa itu. Hidayah berikutnya menyusup ketika orang tuaku membeli kitab Riyadhus Shalihin dua jilid sekaligus. Di masa SMP aku sering membacanya di sela-sela waktu luang. Hingga semuanya menjadi sebuah monumen yang tersimpan di salah satu labirin kesadaranku, meski sempat kutinggalkan tenggelam dalam hura-hura masa muda dan kehidupan yang seakan berlangsung selamanya.

Tetapi aku salah. Dan keputusan berhijab menyelamatkanku. Mempertemukanku dengan seorang muslimah yang sangat lembut, berdakwah tanpa pemaksaan. Dengan cintanya aku mengenal Islam dalam sisi yang dulu kukenal. Sisi persaudaraan muslimah. Ukhuwah yang mengalir manis dan menghiasi hari-hari nan indah. Hingga kini aku masih berhubungan baik dengannya, dan saudara-saudara muslimah lainnyaa. Hingga di titik ini aku tak mampu menceritakannya lebih lanjut sebab hatiku sungguh bergetar dan mataku mulai menangis bila mengingat saat-saat perpisahan dengan mereka.

Tapi hidup harus tetap berjalan. Menjalani pernikahan dan menjadi seorang ibu adalah tantangan berikutnya. Bagaimana aku bisa menjadi sosok panutan bagi putri sulungku? Sejak awal kuputuskan untuk tidak memaksakan dia untuk berhijab. Aku ingin dia mengikuti fitrahnya, menemukan jalannya sendiri untuk menggapai hidayah sebab rasanya memang lebih indah. Bahkan hingga umur 6 tahun dia masih enggan berhijab.

Status sebagai seorang karyawati yang menghabiskan sebagian besar waktu di kantor membuatku tiada henti berdoa. Terutama ketika putriku bertanya kenapa ibu-ibu di sekitar rumah tidak berhijab sepertiku. Terselip kekhawatiran apakah dia akan terpengaruh dengan lingkungan atau bersedia mengikuti jejakku.

Hingga akhirnya Allah SWT berkenan memberikan jawaban. Di suatu hari yang cerah putriku berkata, "Aku mau pakai jilbab seperti Ummi...." Subhanallah. Momen masya Allah yang takkan pernah kulupa.

Ibu adalah sekolah pertama putrinya. Panutan. Teladan. Memang hidayah untuk berhijab bukanlah sesuatu yang bisa dicapai akal dengan logika. Itu adalah sebuah rumusan magis, antara ikhtiar kita mencarinya, doa diam-diam orang tua, maupun bersungguh-sungguh memelihara konsistensinya. Sungguh tak mudah.

Semoga Allah SWT berkenan menjaga keistiqomahan bagi diriku, ibu, putriku, dan seluruh muslimah di dunia untuk tetap teguh di jalan-Nya. Sebab perintah berhijab adalah bentuk kasih sayang Allah SWT kepada wanita, makhluk teristimewa di dunia.

Rabu, 13 Januari 2016

Tes Sidik Jari untuk Anak, Perlu Gak, Sih?

Saya mau sharing sedikit nih tentang Tes Sidik Jari (Fingerprint Test/FT) yang saya ketahui dan pernah lakukan. FT yang pertama yaitu tes terkait Multiple Intelligence (Kecerdasan Majemuk) dan yang kedua yaitu tes terkait kecenderungan perilaku motivasi. Nah, sebelum kita bahas satu-satu, saya kasih informasi sedikit tentang keunikan sidik jari ini, ya.

Di dalam Buku Harun Yahya yang berjudul Indahnya Islam Kita, terdapat salah satu bab yang mengulas tentang Keajaiban Al-Quran dan memaparkan tentang penjelasan ayat dalam Quran Surat Al-Qiyamah: 3-4 yang diterjemahkan sebagai berikut: "Apakah manusia mengira bahwa Kami tidak akan mengumpulkan (kembali) tulang-belulangnya? Ya, bahkan Kami mampu menyusun (kembali) ujung jari-jarinya dengan sempurna." Ayat ini memberikan dalil bahwa mudah bagi Allah SWT untuk menghidupkan manusia setelah kematiannya (merujuk pada peristiwa hari kiamat) dan mengindikasikan jari-jari manusia dijadikan Allah SWT untuk mengindentifikasi tubuh manusia yang telah hancur di tanah kubur.

Bagi kita yang hidup di zaman modern, pesan tentang sidik jari yang dibawa Al-Quran pada abad ke-7 M ini sangat mudah kita terima. Padahal, di masa lampau sidik jari ini bukanlah sebuah hal yang istimewa karena baru ditemukan di akhir abad ke-19 M. Sejak itu, berkembanglah ilmu yang mempelajari tentang sidik jari, yaitu Dermatoglyphics dan Daktiloskopi. Ilmu ini digunakan bukan hanya untuk pengembangan di bidang forensik dan sejarah, tetapi juga dalam bidang psikologi dan pengembangan kepribadian. 

Para peneliti menemukan epidermal ridge (garis-garis pada permukaan kulit, jari-jari, telapak tangan, hingga kaki) memiliki hubungan yang bersifat ilmiah dengan kode genetik dari sel otak dan potensi inteligensi seseorang. Pola yang dibentuk oleh garis-garis itu ternyata memiliki korelasi dengan sistem hormon pertumbuhan sel pada otak. Teori-teori mengenai struktur otak yang diungkap para ahli beberapa dekade kemudian telah memberikan informasi yang dapat menjadikan interpretasi karakter dan potensi bakat seseorang secara genotif (diturunkan dari induk). Sidik jari bersifat permanen, unik, dan tidak akan pernah sama. Oleh karena itu, tes analisa sidik jari bersifat objektif tanpa dipengaruhi unsur kondisi fisik atau psikologis.

Tes analisa sidik jari ini dapat dilakukan secara kasat mata oleh pakar di bidangnya atau dapat pula menggunakan sebuah alat khusus pembaca sidik jari (Fingerprint Reader/FR) yang dihubungkan ke sebuah komputer bersoftware khusus yang dapat melakukan analisa berdasarkan titik-titik yang menjadi acuan.

Nah, tes analisa yang kedua inilah yang pernah saya lakukan. Saya pernah melakukan FT untuk mengetahui Multiple Intelligence (MI) untuk diri saya sendiri, dan saya juga pernah melakukan FT untuk mengetahui kecenderungan perilaku motivasi untuk putri saya, Zukhrufa, ketika dia berumur sekitar tiga tahun.

MULTIPLE INTELLIGENCE
 
Teori ini pertama kali diperkenalkan oleh pakar pendidikan dari Universitas Havard, yaitu Howard Gardner. Dalam bukunya yang berjudul Frame of Mind: The Theory of multiple Intelligences (1985), Gardner membagi kecerdasan anak menjadi delapan jenis, yaitu word smart (kecerdasan linguistik), number smart (kecerdasan logika atau matematis), self smart  (kecerdasan intrapersonal), people smart (kecerdasan interpersonal), musik smart (kecerdasan musikal), picture smart (kecerdasan spasial), body smart (kecerdasan kinetik), dan nature smart (kecerdasan naturalis). Seiring dengan perkembangan zaman, teori ini menambahkan satu jenis kecerdasan lagi yaitu kecerdasan eksistensial (kemampuan seseorang untuk menjawab persoalan -persoalan terdalam eksistensi atau keberadaan manusia). Jenis kecerdasan ini bisa bertambah terus, sepanjang syarat yang diajukan dalam teori Gardner terpenuhi.

Teori ini mematahkan Kecerdasan Intelektual (IQ) sebagai kecerdasan tunggal yang telah memonopoli teori kecerdasan. Sebelum teori ini ditemukan, kecerdasan seseorang hanya diukur lewat hasil tes inteligensi yang bersifat logis-matematis, kuantitatif, dan linear. Akibatnya, sisi-sisi kecerdasan manusia yang lainnya terabaikan. Teori ini mengungkapkan bahwa tidak ada anak yang bodoh, setiap anak terlahir dengan berbagai macam kecerdasan dan keunikan masing-masing, dan dapat menentukan keberhasilan anak di masa depan tergantung sejauh mana orang tua mampu mengenali, menggali, dan mengoptimalkan kemampuan itu sesuai minat dan bakatnya.

Dalam ilmu pendidikan anak, dijelaskan bahwa bakat merupakan kemampuan yang melekat pada diri seseorang (bawaan) sejak lahir dan terkait dengan struktur otaknya. Menurut penelitian, bakat peserta didik 60% berasal dari orang tuanya, sedangkan selebihnya dari lingkungan. Sedangkan kecerdasan merupakan hasil perkembangan semua fungsi otak manusia sebagai hasil interaksi dengan lingkungannya. Tingkat intelektual anak berbakat biasanya cenderung di atas rata-rata, namun peserta didik yang mempunyai intelektual tinggi tidak selalu menunjukan anak yang berbakat. Kesimpulannya, kecerdasan dan bakat ini tidak selalu berkorelasi positif, dan keduanya merupakan hasil kombinasi antara sifat genotif (bawaan) dan rangsangan dari lingkungan (fenotif). Makanya, dalam kehidupan nyata ada musisi, misalnya, yang mempunyai kecerdasan matematika yang tinggi, ada pula yang tidak.

Nah, tujuan saya melakukan FT terkait MI ini awalnya untuk mengetahui potensi kecerdasan dan bakat Zukhrufa (Zufa) secara genotif. Sayangnya pada saat tes itu akan dilakukan, Zufa yang waktu itu masih belum genap dua tahun tiba-tiba menolak untuk melakukan tes. Daripada penasaran, akhirnya saya mencoba tes menggunakan mesin scanner ini. Hasilnya bisa ditebak, nilai tes saya cukup tinggi hampir di semua kecerdasan kecuali kecerdasan intrapersonal (ketahuan, kan, saya memang kurang self-contemplation). Hal yang membuat saya kaget adalah nilai kecerdasan yang paling lumayan ada di kecerdasan matematis, padahal dalam kenyataannya saya sangat alergi dengan pelajaran yang satu ini, bahkan saya pernah dapat nilai enam di Ujian Akhir Nasional! (Omo!)

Sempat nyesel juga, sih. Coba orang tua saya dulu kenal tes beginian, mungkin saya akan lebih termotivasi untuk belajar matematika, karena saya tahu lebih dulu potensi kecerdasan diri saya. Tapi waktu tidak bisa diputar mundur, ya. Saya harus jadi orang tua yang lebih baik, yang mau serius menggali potensi anak-anaknya (iya, jangan gali potensi Wajib Pajak terus, dwoong!!).

Salah satu hal yang perlu digarisbawahi dari FT berbasis MI ini adalah hasil nilai dan analisanya hanya berlaku untuk subjek yang dites dan tidak bisa dijadikan pembanding dengan subjek lainnya. Maksudnya, misalkan anak kita mendapat nilai 8 untuk kecerdasan matematikanya, dan anak teman kita juga mendapat nilai 8, maka kedua nilai itu tidak sepadan. Bisa jadi nilai 8 anak teman kita sama dengan nilai 4 anak kita, demikian pula sebaliknya. Nilai 8 pada kecerdasan itu adalah pembanding bagi nilai kecerdasan lainnya pada satu subjek, bukan untuk dibandingkan dengan subjek lainnya.

Nah, setelah saya dapat referensi lainnya, selain potensi kecerdasan dan bakat, ternyata minat seseorang bisa jadi sangat menentukan keberhasilannya di masa depan. Meskipun seorang anak mempunyai kecerdasan dan bakat yang banyak dan di atas rata-rata, tetap saja minatnya lah yang menentukan ke arah manakah dia akan mengoptimalkan usahanya untuk menjadi ahli di satu bidang yang disukainya, alih-alih menjadi ahli di semua bidang (yang nampaknya mustahil terjadi). Nah, di sinilah peran besar orang tua setelah mengenali dan menggali potensi anak-anaknya, untuk kemudian mengarahkan dan memberikan fasilitas, motivasi, dan dorongan positif bagi minat anak tersebut.

Inilah tipe orang tua idaman di mata saya, orang tua yang selalu menjadi “rumah” tempat anak-anaknya selalu “kembali” dan bebas menjadi dirinya sendiri, tanpa beban dan kekhawatiran untuk dibanding-bandingkan. Inilah visi saya di masa depan, yang sedikit demi sedikit ingin saya wujudkan.

Zufa dan Zufi sedang asyik main :)

Nah, selanjutnya saya akan menulis tentang FT terkait kecenderungan perilaku motivasi berdasarkan Teori Otak Triune yang pernah dicoba oleh Zufa. Tapi nanti, ya, nunggu saya agak luang. Selain itu saya akan mengulas tentang tipe-tipe pengasuhan orang tua dan tentang cara-cara kreatif yang diperlukan otak agar memudahkan belajar si Kecil (teasernya mangstap, kan?)

Silakan stay tune di blog saya sambil jalan-jalan, atau boleh juga main ke referensi berikut ini: