Kamis, 28 Januari 2016

#FFKamis - Dingin



“Sudah pulang? Mau jus apel?” tanya suamiku sambil melepas celemek.


Aku menggeleng. Kulemparkan tas dan blus sekenanya ke atas kasur. Buru-buru kuhempaskan tubuh, tulang-belulangku rasanya mau copot.


“Mau kupijat?” tawarnya bersemangat.


Gak usah.” Aku sudah tahu ujungnya kemana. Awalnya memijat…lama-lama pasti meminta “itu”.


“Ada makanan, gak? Anak-anak gimana?” tanyaku.


“Beres, Bos! Kusiapkan makanan, ya. Anak-anak sedang main di luar…,” dia ngeloyor ke dapur sambil terus bercerita. Sesekali suaranya ditingkahi dentingan perkakas dapur. 

Kubenamkan wajah makin dalam ke bawah bantal.

Sketch by Me

Hari ini sangat melelahkan. Macet luar biasa di jalanan, meeting maraton, dan vonis dokter yang menyatakan aku hamil lagi, keenam kalinya.

Jumlah kata : 100 kata.

Senin, 25 Januari 2016

Hello, Mantan


Dimanapun kamu, kuharap kamu baik karena aku juga begitu. Maaf aku tak bisa mengatakan semua ini secara langsung karena tak ada satu pun cara untuk itu. Aku tak ingin membangkitkan kenangan yang tak perlu atau membuat orang yang kau cintai saat ini salah paham. Aku hanya ingin menulisnya begini saja dan biarlah lengan takdir yang menyampaikan pesanku padamu. 

Ada satu cerita yang perlu kau tahu, kenapa aku memutuskan untuk mengakhiri hubungan kita. Sebab kupikir lebih mudah bercerita kini, saat tak berarti apa-apa.

Dulu, ketika aku bimbang saat mendengar kabar perselingkuhanmu, sebenarnya aku sudah memutuskan untuk bertahan. Ya, seperti wanita gila lainnya yang meruntuhkan harga diri dan mengemis cinta, karena merasa tak mampu hidup tanpa pria yang dicintainya. 

Hingga sebuah pesan singkat yang kaukirimkan pada malam itu mengubah keputusanku. Sebuah pesan dengan 160 karakter berisi pengakuanmu, betapa kamu sangat mencintainya dan tak bisa hidup tanpanya. Juga tentang kurangnya perhatianku dalam menyikapi hubungan jarak jauh kita, hingga dia mampu mengisi kesepianmu. Pada akhirnya aku menguatkan diri untuk memutuskan semuanya hanya dalam semalam. Tak ada lagi telepon untukmu. Saat itu yang kuinginkan hanya berlari, berlari sejauh mungkin, ke tempat dimana tak ada kenangan kita. Meskipun setiap jalan, gedung, rumah, dan pepohonan mengingatkanku pada dirimu.

Pernahkah kamu dengar apa yang Frank Sinatra bilang, bahwa balas dendam terbaik adalah ketika kita mampu meraih sukses yang besar? Kupastikan itulah yang terjadi. Aku bersumpah akan menjadi sukses dan terkenal hingga bahkan kau akan mengagumiku dari televisi. Ya, inilah aku sekarang. Mungkin belum bisa disebut selebritas, tapi sekali-dua memang aku menjadi pembicara tamu di berbagai media massa. Belum terhitung berapa ribu eksemplar novel dan buku motivasiku yang laris terjual.

Jadi, terima kasih padamu. Kalau bukan karena sakit hati itu mungkin aku juga takkan merasakan nikmatnya pacaran sesudah menikah. Ya, akhirnya aku menemukan pria yang baik. Dia seorang produser acara religi di televisi. Kami berkenalan melalui perantara teman, dan tak butuh waktu lama baginya melamarku, sebagaimana tak butuh waktu lama bagiku memutuskan. Cintanya tak menuntut, tanpa penghakiman, bahkan ketika dia tahu seberapa jauh hubungan kita. Baginya manusia yang baik bukanlah manusia yang tak pernah berbuat salah, tetapi manusia yang selalu mau bertaubat dan takkan mengulangi kesalahannya. Sulit sekali mendapatkan pria seperti itu saat sekarang ini, bukan?


Sumber

Tuhan begitu baik padaku, sebab Dia tak mengizinkanku membaca lanjutan pesan singkat darimu. Lanjutan? Iya, malam itu kau mengirimkan pesan dengan jumlah sekitar 300 karakter. HP jadulku dulu harus menyimpannya menjadi dua pesan masuk dan karena kapasitas yang terbatas, maka hanya pesan bagian pertama yang terbaca.

Bagian kedua kubaca kira-kira setahun kemudian, saat aku mampu mengganti HP-ku dengan model yang lebih canggih. Isinya sangat mengejutkan. Kaubilang pada akhirnya kau tetap ingin bersamaku dan menepati janjimu. Kaubilang kalau itu lebih penting dan kau mampu melemparkan perasaanmu padanya sebab janjimu lebih berharga. Lengan takdir begitu lucu mempermainkan kita, membuatku tertawa terbahak-bahak, begitu kencangnya, hingga meneteskan air mata. Kuharap kau bisa ikut tertawa bersamaku. Sebab kupastikan kita  berpisah bukan karena pengkhianatanmu, tetapi jelas karena aku memilih mengikuti kemana lengan takdir menunjukkanku. Ke arah yang lebih baik tentu. 


Jumlah kata : 500 kata pas!

Selamat ulang tahun MFF yang ke-3! Semoga kebersamaan kita menjadikan semua member lebih semangat dan makin berkualitas dalam berkarya. Apapun itu, menjadi bagian darimu adalah salah satu hal terbaik yang terjadi bagiku. Cheers!

Rabu, 13 Januari 2016

Tes Sidik Jari untuk Anak, Perlu Gak, Sih?

Saya mau sharing sedikit nih tentang Tes Sidik Jari (Fingerprint Test/FT) yang saya ketahui dan pernah lakukan. FT yang pertama yaitu tes terkait Multiple Intelligence (Kecerdasan Majemuk) dan yang kedua yaitu tes terkait kecenderungan perilaku motivasi. Nah, sebelum kita bahas satu-satu, saya kasih informasi sedikit tentang keunikan sidik jari ini, ya.

Di dalam Buku Harun Yahya yang berjudul Indahnya Islam Kita, terdapat salah satu bab yang mengulas tentang Keajaiban Al-Quran dan memaparkan tentang penjelasan ayat dalam Quran Surat Al-Qiyamah: 3-4 yang diterjemahkan sebagai berikut: "Apakah manusia mengira bahwa Kami tidak akan mengumpulkan (kembali) tulang-belulangnya? Ya, bahkan Kami mampu menyusun (kembali) ujung jari-jarinya dengan sempurna." Ayat ini memberikan dalil bahwa mudah bagi Allah SWT untuk menghidupkan manusia setelah kematiannya (merujuk pada peristiwa hari kiamat) dan mengindikasikan jari-jari manusia dijadikan Allah SWT untuk mengindentifikasi tubuh manusia yang telah hancur di tanah kubur.

Bagi kita yang hidup di zaman modern, pesan tentang sidik jari yang dibawa Al-Quran pada abad ke-7 M ini sangat mudah kita terima. Padahal, di masa lampau sidik jari ini bukanlah sebuah hal yang istimewa karena baru ditemukan di akhir abad ke-19 M. Sejak itu, berkembanglah ilmu yang mempelajari tentang sidik jari, yaitu Dermatoglyphics dan Daktiloskopi. Ilmu ini digunakan bukan hanya untuk pengembangan di bidang forensik dan sejarah, tetapi juga dalam bidang psikologi dan pengembangan kepribadian. 

Para peneliti menemukan epidermal ridge (garis-garis pada permukaan kulit, jari-jari, telapak tangan, hingga kaki) memiliki hubungan yang bersifat ilmiah dengan kode genetik dari sel otak dan potensi inteligensi seseorang. Pola yang dibentuk oleh garis-garis itu ternyata memiliki korelasi dengan sistem hormon pertumbuhan sel pada otak. Teori-teori mengenai struktur otak yang diungkap para ahli beberapa dekade kemudian telah memberikan informasi yang dapat menjadikan interpretasi karakter dan potensi bakat seseorang secara genotif (diturunkan dari induk). Sidik jari bersifat permanen, unik, dan tidak akan pernah sama. Oleh karena itu, tes analisa sidik jari bersifat objektif tanpa dipengaruhi unsur kondisi fisik atau psikologis.

Tes analisa sidik jari ini dapat dilakukan secara kasat mata oleh pakar di bidangnya atau dapat pula menggunakan sebuah alat khusus pembaca sidik jari (Fingerprint Reader/FR) yang dihubungkan ke sebuah komputer bersoftware khusus yang dapat melakukan analisa berdasarkan titik-titik yang menjadi acuan.

Nah, tes analisa yang kedua inilah yang pernah saya lakukan. Saya pernah melakukan FT untuk mengetahui Multiple Intelligence (MI) untuk diri saya sendiri, dan saya juga pernah melakukan FT untuk mengetahui kecenderungan perilaku motivasi untuk putri saya, Zukhrufa, ketika dia berumur sekitar tiga tahun.

MULTIPLE INTELLIGENCE
 
Teori ini pertama kali diperkenalkan oleh pakar pendidikan dari Universitas Havard, yaitu Howard Gardner. Dalam bukunya yang berjudul Frame of Mind: The Theory of multiple Intelligences (1985), Gardner membagi kecerdasan anak menjadi delapan jenis, yaitu word smart (kecerdasan linguistik), number smart (kecerdasan logika atau matematis), self smart  (kecerdasan intrapersonal), people smart (kecerdasan interpersonal), musik smart (kecerdasan musikal), picture smart (kecerdasan spasial), body smart (kecerdasan kinetik), dan nature smart (kecerdasan naturalis). Seiring dengan perkembangan zaman, teori ini menambahkan satu jenis kecerdasan lagi yaitu kecerdasan eksistensial (kemampuan seseorang untuk menjawab persoalan -persoalan terdalam eksistensi atau keberadaan manusia). Jenis kecerdasan ini bisa bertambah terus, sepanjang syarat yang diajukan dalam teori Gardner terpenuhi.

Teori ini mematahkan Kecerdasan Intelektual (IQ) sebagai kecerdasan tunggal yang telah memonopoli teori kecerdasan. Sebelum teori ini ditemukan, kecerdasan seseorang hanya diukur lewat hasil tes inteligensi yang bersifat logis-matematis, kuantitatif, dan linear. Akibatnya, sisi-sisi kecerdasan manusia yang lainnya terabaikan. Teori ini mengungkapkan bahwa tidak ada anak yang bodoh, setiap anak terlahir dengan berbagai macam kecerdasan dan keunikan masing-masing, dan dapat menentukan keberhasilan anak di masa depan tergantung sejauh mana orang tua mampu mengenali, menggali, dan mengoptimalkan kemampuan itu sesuai minat dan bakatnya.

Dalam ilmu pendidikan anak, dijelaskan bahwa bakat merupakan kemampuan yang melekat pada diri seseorang (bawaan) sejak lahir dan terkait dengan struktur otaknya. Menurut penelitian, bakat peserta didik 60% berasal dari orang tuanya, sedangkan selebihnya dari lingkungan. Sedangkan kecerdasan merupakan hasil perkembangan semua fungsi otak manusia sebagai hasil interaksi dengan lingkungannya. Tingkat intelektual anak berbakat biasanya cenderung di atas rata-rata, namun peserta didik yang mempunyai intelektual tinggi tidak selalu menunjukan anak yang berbakat. Kesimpulannya, kecerdasan dan bakat ini tidak selalu berkorelasi positif, dan keduanya merupakan hasil kombinasi antara sifat genotif (bawaan) dan rangsangan dari lingkungan (fenotif). Makanya, dalam kehidupan nyata ada musisi, misalnya, yang mempunyai kecerdasan matematika yang tinggi, ada pula yang tidak.

Nah, tujuan saya melakukan FT terkait MI ini awalnya untuk mengetahui potensi kecerdasan dan bakat Zukhrufa (Zufa) secara genotif. Sayangnya pada saat tes itu akan dilakukan, Zufa yang waktu itu masih belum genap dua tahun tiba-tiba menolak untuk melakukan tes. Daripada penasaran, akhirnya saya mencoba tes menggunakan mesin scanner ini. Hasilnya bisa ditebak, nilai tes saya cukup tinggi hampir di semua kecerdasan kecuali kecerdasan intrapersonal (ketahuan, kan, saya memang kurang self-contemplation). Hal yang membuat saya kaget adalah nilai kecerdasan yang paling lumayan ada di kecerdasan matematis, padahal dalam kenyataannya saya sangat alergi dengan pelajaran yang satu ini, bahkan saya pernah dapat nilai enam di Ujian Akhir Nasional! (Omo!)

Sempat nyesel juga, sih. Coba orang tua saya dulu kenal tes beginian, mungkin saya akan lebih termotivasi untuk belajar matematika, karena saya tahu lebih dulu potensi kecerdasan diri saya. Tapi waktu tidak bisa diputar mundur, ya. Saya harus jadi orang tua yang lebih baik, yang mau serius menggali potensi anak-anaknya (iya, jangan gali potensi Wajib Pajak terus, dwoong!!).

Salah satu hal yang perlu digarisbawahi dari FT berbasis MI ini adalah hasil nilai dan analisanya hanya berlaku untuk subjek yang dites dan tidak bisa dijadikan pembanding dengan subjek lainnya. Maksudnya, misalkan anak kita mendapat nilai 8 untuk kecerdasan matematikanya, dan anak teman kita juga mendapat nilai 8, maka kedua nilai itu tidak sepadan. Bisa jadi nilai 8 anak teman kita sama dengan nilai 4 anak kita, demikian pula sebaliknya. Nilai 8 pada kecerdasan itu adalah pembanding bagi nilai kecerdasan lainnya pada satu subjek, bukan untuk dibandingkan dengan subjek lainnya.

Nah, setelah saya dapat referensi lainnya, selain potensi kecerdasan dan bakat, ternyata minat seseorang bisa jadi sangat menentukan keberhasilannya di masa depan. Meskipun seorang anak mempunyai kecerdasan dan bakat yang banyak dan di atas rata-rata, tetap saja minatnya lah yang menentukan ke arah manakah dia akan mengoptimalkan usahanya untuk menjadi ahli di satu bidang yang disukainya, alih-alih menjadi ahli di semua bidang (yang nampaknya mustahil terjadi). Nah, di sinilah peran besar orang tua setelah mengenali dan menggali potensi anak-anaknya, untuk kemudian mengarahkan dan memberikan fasilitas, motivasi, dan dorongan positif bagi minat anak tersebut.

Inilah tipe orang tua idaman di mata saya, orang tua yang selalu menjadi “rumah” tempat anak-anaknya selalu “kembali” dan bebas menjadi dirinya sendiri, tanpa beban dan kekhawatiran untuk dibanding-bandingkan. Inilah visi saya di masa depan, yang sedikit demi sedikit ingin saya wujudkan.

Zufa dan Zufi sedang asyik main :)

Nah, selanjutnya saya akan menulis tentang FT terkait kecenderungan perilaku motivasi berdasarkan Teori Otak Triune yang pernah dicoba oleh Zufa. Tapi nanti, ya, nunggu saya agak luang. Selain itu saya akan mengulas tentang tipe-tipe pengasuhan orang tua dan tentang cara-cara kreatif yang diperlukan otak agar memudahkan belajar si Kecil (teasernya mangstap, kan?)

Silakan stay tune di blog saya sambil jalan-jalan, atau boleh juga main ke referensi berikut ini: