Jumat, 29 Mei 2015

Prompt Quiz #6 - Kepulangan Joko

Sumber


Joko memutuskan untuk pulang setelah lima tahun berlalu. Dia yakin kabar kepulangannya telah diketahui warga kampung. Dia juga sudah memperkirakan berbagai reaksi orang terhadap dirinya. Tapi dia tak peduli. 

Sudah lima tahun berlalu dan Joko masih merasa perih setiap kali mengingat peristiwa itu. Dia tak pernah menduga kepergiannya menyebabkan malapetaka. Bapak tewas akibat serangan jantung, tak lama kemudian menyusul ibunya terserang stroke hingga lumpuh. Hatinya sakit tiap kali memikirkan itu, tapi dia belum berani kembali sebab belum menemukan jawaban atas yang dicari. Kenapa tiba-tiba sekujur tubuhnya dipenuhi benjolan-benjolan aneh serupa kutil yang membusuk tepat sebelum malam pernikahannya; kenapa calon istrinya memutuskan untuk membatalkan pernikahan mereka seketika itu juga; dan kenapa-kenapa lainnya yang senantiasa mengusiknya.

Sudah lima tahun berlalu dan penyakit kulitnya belum sembuh juga. Tapi Joko tidak peduli. Mendiang ayahnya pernah berkata begini, “Kalau kamu malu, tutup saja matamu dan teruslah berjalan lurus, habis perkara.” Baru sekarang Joko berani mengamalkannya.

“Bagaimana, Nak. Apa sudah bulat tekadmu pulang kampung esok pagi?” tanya Kyai Shaleh. Joko mengangguk mantap. Dia memandang takzim guru mengajinya itu.

“Saya sudah siap dengan segala resikonya, Pak Kyai. Niat saya ikhlas ingin mengurus ibu saya yang lumpuh. Sebentar lagi adik saya satu-satunya akan menikah. Saya rasa inilah saatnya saya mengamalkan ilmu yang selama ini saya pelajari dari Pak Kyai.”

Kyai Shaleh menepuk-nepuk pundaknya. Lalu berkata, ”Ikhlas itu sesuatu hal yang sangat berat, Nak. Kamu siap dengan cobaan atas niatmu itu?”

Joko terdiam. Pantang baginya merasa jumawa atas hal yang belum tentu bisa dilewatinya. Dihelanya napas dengan berat, dan ditangkupnya kedua tangan gurunya.

“Saya tahu pasti akan berat, Pak Kyai. Saya tidak tahu apakah saya sanggup. Mohon doanya agar istiqomah….” Diciumnya kedua tangan itu penuh khidmat, seakan-akan tidak akan pernah dilepaskannya.

Setitik air mata turut menetes di sudut mata gurunya. Baginya Joko yang sekarang bukanlah Joko yang dulu, yang selalu menyalahkan Tuhan atas segala yang menimpa dirinya. Joko yang sekarang tak ubahnya seperti Nabi Ayub as yang senantiasa bersabar ditimpa ujian.

“Sebelum pergi besok pagi, jangan lupa mampir ke rumah. Ada titipan untuk ibumu,” pesan Kyai Shaleh. Pesan itu membuat Joko tak bisa tidur semalaman karena penasaran.

Esoknya, pagi-pagi sekali Joko sudah sowan ke rumah gurunya. Kebetulan beliau sedang mengajarkan kajian kitab Ihya’ Ulumuddin di ruang pendopo sejak sehabis shalat shubuh. Jantung Joko seakan mau copot saat tiba-tiba Kyai Shaleh memanggilnya di hadapan semua orang.

“Hari ini kutitipkan padamu, sesuatu yang paling berharga dalam hidupku. Kuharap dia akan memberikan bantuan yang besar dalam perawatan ibumu. Aku yakin kau akan amanah dalam menjaganya, Nak.”

Dada Joko semakin berdebar kencang ketika Kyai Shaleh tiba-tiba menjabat tangannya erat.

Ankahtuka wa zawwajtuka makhtubataka Binti Shaleh alal mahri shuratul Fatihah….”

Joko tersentak, buru-buru dijawabnya dengan bibir gemetar, “Qobiltu nikahaha wa tazwijaha alal mahril madzkuur wa radhiitu bihi, wallahu waliyut taufiq.”

“Sah?”

“Saaah,” jamaah menjawab lantang.

Semua orang mengangkat tangannya dan mengaminkan doa Kyai Shaleh.

Air mata Joko mengalir deras. Tubuhnya gemetar membayangkan amanah baru yang tiba-tiba diembannya. Namun dia lega, sangat lega meski putri Kyai Shaleh yang baru saja dinikahinya adalah seorang yang buta.

Jumlah kata : 500 kata.

8 komentar:

  1. keren

    bisa dibilang ini berkah buatt yang taat seperti joko ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yup, meski bagaimana pun keadaannya
      pernikahan itu adalah sebuah berkah

      Hapus
  2. Meski menyisakan misteri ttg kenapa penyakitnya bisa terjadi, tapi aku suka dg kisah ini, terutama setengah bagian akhir. Menebak-nebak namun tak tertebak, hehe. Cuma kalimat akhirnya yang agak mengganggu menurutku. Tetap konsisten dengan kisah 'bermuatan pesan' ya mbak. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Trims ya sudah berkunjung dan komen di mariii :D

      Hapus

Bila berkenan sila tinggalkan jejak ya ^_^