Jumat, 29 Desember 2017

Kembalinya Si Anak Hilang

“Anakmu bukanlah milikmu.
Mereka putra-putri kehidupan yang rindu pada dirinya.
Lewat kau mereka lahir, namun bukan dari engkau.
Meski mereka bersamamu, mereka bukan hakmu.”

-Kahlil Gibran-

Apakah arti menjadi seorang ibu? Apakah ketika seorang wanita berhasil menjadi perantara hadirnya seorang anak manusia ke dunia maka ia telah layak dipanggil ibu? Ataukah ketika dia sudah memberi makan dan memenuhi kebutuhan hidup putra-putrinya maka serta-merta berhak tersemat predikat itu?

Jikalau maknanya hanya sebatas pengertian di atas, maka tentulah kejadian pahit dua tahun yang lalu takkan kualami. Kala itu putra bungsuku telah selesai masa menyusu. Entah kapan tepatnya, tiba-tiba dia lebih memilih tidur bersama pengasuhnya daripada denganku, ibu kandungnya sendiri.

Kala itu, batinku koyak tercabik-cabik, kalau tak bisa dibilang hancur berkeping-keping. Tiap kali putraku menangis minta diantar ke kamar pengasuhnya, hatiku pun runtuh dan gerimis. Bagaimana bisa dalam kejapan mata ia abaikan perempuan yang rela menyabung nyawa ketika melahirkannya?

Musnah sudah semua ilmu pengasuhan anak dan idealisme yang kupelajari dan berhasil kuterapkan pada kakak sulungnya. Di usia batita, si buyung justru menunjukkan ketidakacuhannya padaku, bahkan mengusirku dari kamar pengasuhnya bila malam tiba.

Seketika itu juga, berbagai ketakutan dan bayangan buruk berkecamuk di jiwa. Bagaimana bila hal ini berlanjut terus dan mempengaruhi psikologisnya hingga ia dewasa? Apa jadinya jika dia menjadi anak yang sulit diatur sebab tiada ikatan batin dengan orang tua? Cemas hati luar biasa namun saat itu pikiranku gelap tanpa bisa mengetahui muasalnya.

Kucoba merunut lagi peristiwa demi peristiwa yang sekiranya melatarbelakangi kejadian ini. Apakah karena aku pekerja kantoran yang seringkali sampai di rumah larut malam? Atau karena ketika di rumah aku tak sanggup mengelola amarah sehingga dia sering melihatku emosi? Ataukah karena aku sering menonton drama seri Korea hingga larut malam alih-alih membacakan dongeng pengantar tidurnya?

Pada akhirnya harus kuakui, apapun penyebabnya, kenyataannya aku tak lebih baik dari pengasuh anakku yang bahkan tak tuntas mengenyam pendidikan dasar. “Tangki Emosi” anakku dipenuhi dengan memori dan kasih sayang dengan pengasuhnya, bukan denganku. Pendidikan dan semua teori parenting yang kupunya tak berguna ketika harus berhadapan dengan bocah keras kepala itu. Aku mati kutu. Tak berdaya ketika pelan-pelan dia tak mengindahkanku, sebagaimana dia merasa aku mengabaikannya pada saat itu. Hari-hari terasa gelap dan tak berujung, hanya tangis dan gulana yang menghiasi malam-malamku.

Hingga suatu ketika, hidayahNya menuntunku menghadiri seminar pendidikan anak yang diisi oleh Ustadz Irwan Rinaldi. “Bukan tanpa sebab seorang bayi dititipkan pada rahim kita. Ketika amanah itu hadir maka artinya kita memang dianggap mampu oleh Sang Pemilik Kehidupan, sebab tak semua orang bisa mendapatkan karunia itu. Setiap anak adalah istimewa, maka keyakinan untuk bisa mendidik dan mengantarkannya menuju surga haruslah terhunjam kuat di dalam dada,” kata-katanya begitu lugas, menampar dan menyentak kesadaranku.

Setelah mendapatkan tausiyah itu, kepercayaan diriku yang pudar mulai bangkit. Ya, aku harus bangkit! Sebab Allah tidak akan mengubah nasibku kecuali aku berupaya mengubahnya! Di luar acara kuberanikan diri menghubungi Ustadz pemeran utama film Sang Murabbi itu dan berkonsultasi secara pribadi. Beliau memberikan tips yang sederhana nan tak mudah: perbanyaklah istighfar dan shalawat. Pasrahkan semuanya pada Yang Maha Membolak-balikkan hati.

Wejangan beliau memaksaku mengevaluasi diri. Bagaimanakah hubunganku dengan Allah Ta'ala selama ini? Adakah kuikuti sunnah-sunnah RasulNya dengan sempurna? Ke manakah bacaan Quran peneduh jiwa dan shalat-shalat malam itu melesap? Di titik ini akhirnya kumengerti, bahwa ikatan batin kita dengan anak atau pasangan memang sangatlah bergantung dengan kualitas koneksi kita dengan Sang Pemilik Jiwa.

Rasulullah SAW bersabda ”Sayangilah yang ada di bumi, niscaya yang ada di langit akan menyayangimu.” (HR. At Thabrani dalam al Mu’jam al Kabir, Shahihul Jaami’ no. 896). Dalam riwayat lain Rasulullah SAW memberikan panduan, “Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah mereka yang paling baik budi pekertinya dan paling lemah-lembut perilakunya kepada ahli keluarganya” (HR Imam at-Tirmidzi, an-Nasa’i dan al-Hakim).

Maka kuputuskan untuk kembali padaNya. Bila cintaku memang tulus tak mengharap balasan maka inilah saatnya membuktikan. Kuusahakan selalu untuk memberi perhatian lebih pada si bungsu tanpa mengurangi porsi kewajibanku di kantor. Sebab ingin dia tumbuh menjadi pria yang shaleh, maka harus kupastikan kehalalan penghasilan yang kubawa pulang ke rumah. Tiada henti kusebut namanya dalam untaian doa yang menderas. Kutingkatkan lagi amalan-amalan sunnah yang dulu satu per satu telah kutinggalkan.

Lalu, ke manakah drama-drama Korea itu? Akhirnya kusadari bahwa Lee Min Ho dan Song Joong Ki tak mampu memberikan syafaat di hari akhir nanti. Tapi anakku, dan setiap amal kebaikan yang dilakukannya atas buah nasihat dariku kelak mampu menjadi pemberat mizan perhitungan hisabku.

Allah SWT berfirman, “Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluannya).” (QS Ath-Thalaq: 2-3)

Pepatah Arab menyebutkan, “man shabara zhafira”, barangsiapa bersabar maka akan mendapatkan keberuntungan. Di saat kepasrahanku mencapai puncaknya, putraku akhirnya berubah pikiran. "Aku mau bobo sama Ummi aja," ujarnya suatu ketika.

Masya Allah. Masya Allah. Putraku telah kembali ke pelukanku! Subhanallah walhamdulillah! Terima kasih ya Allah telah memberiku kesempatan yang kedua untuk membuktikan bahwa aku layak menyandang sebutan itu. Namun, perjuanganku belum berakhir, baru saja dimulai.

Pengalaman ini memberiku pelajaran berharga; melahirkan seorang anak tak serta merta menjadikan perempuan berhasil jadi seorang ibu seutuhnya. Dibutuhkan pembuktian dan pengabdian seumur hidup, pengorbanan dan keikhlasan sepanjang hayat. Kebutuhannya tak cukup sebatas materi, dan bukan tanpa sebab Allah SWT menjadikan kita sebagai pengemban amanah ini.

Yakinlah Anakku, Ibu akan antar engkau hingga ke pintu surga, dan kelak bersama-sama kita akan memasukinya, insya Allah.

"Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikit pun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya." (QS. Al-Thuur: 21)


* * * 


Alhamdulillah tulisan ini memenangkan Juara I Lomba Menulis Artikel Peringatan Hari Ibu 20 Desember 2017 DKM Al-Amin Kementerian Keuangan.



Saya bersama Mbak Cia (Ketua Panitia) dan Bu Suryani (Kabid Kewanitaan DKM)


Baca juga:

- Shirah Shahabiyah

- Kisah Nabi

- Tentang Hijab

- Artikel lain yang mendapat penghargaan

Jumat, 24 November 2017

Sebab Berhijab Tak Perlu Pakai Logika



Tulisan ini dibuat bukan semata-mata sebagai respon atas aksi lepas hijab seorang selebritas  (semoga Allah SWT memberikan hidayah kepadanya), meski kuakui hal itu memang memantik sebuah perenungan mendalam dan memaksaku terlempar kembali ingatan saat-saat awal berhijrah dulu.

Keputusan berhijab adalah sebuah lompatan terbesar dalam hidupku. Siapapun yang mengenalku di masa-masa remaja mungkin sebagian besar berpendapat bahwa berhijab adalah sebuah pelarian atau kemustahilan mengingat perilakuku di masa lalu. Tapi Allah SWT memang Maha Baik. Ketika Dia berkenan membukakan jalan maka sesungguhnya tak ada yang tak mungkin.

Tak semua sejawat menerima keputusan itu. Ibuku bahkan mengkhawatirkan kalau-kalau aku sulit mendapatkan jodoh. Sebuah gambaran nyata bahwa pada masa itu di kampungku hijab memang tak sepopuler sekarang, dan masih terbelenggu pemikiran bahwa hijab hanya untuk perempuan-perempuan tua atau yang sudah pernah ke tanah suci.

Apakah hijab hanya diperuntukkan bagi orang-orang suci? Adakah di dunia ini muslimah yang berjalan di muka bumi tanpa membawa setitik pun dosa di dalam hatinya? Sesungguhnya telah lama aku berlepas diri dari pemikiran seperti itu. Aku adalah seorang pendosa. Hari ini dan esok pun aku berdosa. Tapi aku sungguh enggan menjadikan dosa-dosa itu sebagai penghalang dari rahmat-Nya.

Satu-satunya hal yang bisa kulakukan adalah berupaya agar Dia selalu mencintaiku. Dan aku ingin membuktikan itu. Disebutkan dalam surat cinta-Nya, aku harus menutup aurat, agar terang perbedaan dalam hal keimanan dengan yang bukan muslimah. Dan untuk melindungiku dari pandangan yang jahat dan niat yang buruk. Keuntungan selebihnya adalah bonus, misalnya efek kulit yang lebih terlindungi dan tidak perlu repot-repot menata rambut, sehingga waktuku lebih efektif dan bisa digunakan untuk hal-hal bermanfaat lainnya.

Yang jelas dengan berhijab membuatku fokus pada karya yang dihasilkan dan menambah keyakinan bahwa seorang muslimah bisa tetap eksis tanpa semata-mata menonjolkan kelebihan fisiknya. Hijab memang menutupi fisikku, namun dia malah membuka semua kesempatan yang ada dan menunjukkanku pada jalan yang lebih terang.

Momen hijrah berikutnya yang paling berkesan adalah ketika ibuku juga memutuskan berhijab. Dan lompatan beliau lebih jauh lagi. Keputusan itu membuatnya belajar membaca quran di usia yang tak lagi belia. Dan beliau berhasil! Di usia kepala lima beliau juga berhasil menghapal juz 30. Subhanallah. Semoga Allah SWT menjaga hapalan beliau dan mencurahkan rahmat-Nya selalu kepada bundaku.

Sebab sesungguhnya hidayahku pun berasal dari orang tua. Dulu, ketika masih SD, ibu sering membawakan majalah Annida (semoga Allah SWT membalas jasa para redaktur dan kontributornya) untuk kubaca. Isinya penuh dengan keindahan Islam dan bagaimana menjalankan syariat Islam dengan penuh ketaatan. Itu adalah peletak dasar pondasi berpikirku di masa itu. Hidayah berikutnya menyusup ketika orang tuaku membeli kitab Riyadhus Shalihin dua jilid sekaligus. Di masa SMP aku sering membacanya di sela-sela waktu luang. Hingga semuanya menjadi sebuah monumen yang tersimpan di salah satu labirin kesadaranku, meski sempat kutinggalkan tenggelam dalam hura-hura masa muda dan kehidupan yang seakan berlangsung selamanya.

Tetapi aku salah. Dan keputusan berhijab menyelamatkanku. Mempertemukanku dengan seorang muslimah yang sangat lembut, berdakwah tanpa pemaksaan. Dengan cintanya aku mengenal Islam dalam sisi yang dulu kukenal. Sisi persaudaraan muslimah. Ukhuwah yang mengalir manis dan menghiasi hari-hari nan indah. Hingga kini aku masih berhubungan baik dengannya, dan saudara-saudara muslimah lainnyaa. Hingga di titik ini aku tak mampu menceritakannya lebih lanjut sebab hatiku sungguh bergetar dan mataku mulai menangis bila mengingat saat-saat perpisahan dengan mereka.

Tapi hidup harus tetap berjalan. Menjalani pernikahan dan menjadi seorang ibu adalah tantangan berikutnya. Bagaimana aku bisa menjadi sosok panutan bagi putri sulungku? Sejak awal kuputuskan untuk tidak memaksakan dia untuk berhijab. Aku ingin dia mengikuti fitrahnya, menemukan jalannya sendiri untuk menggapai hidayah sebab rasanya memang lebih indah. Bahkan hingga umur 6 tahun dia masih enggan berhijab.

Status sebagai seorang karyawati yang menghabiskan sebagian besar waktu di kantor membuatku tiada henti berdoa. Terutama ketika putriku bertanya kenapa ibu-ibu di sekitar rumah tidak berhijab sepertiku. Terselip kekhawatiran apakah dia akan terpengaruh dengan lingkungan atau bersedia mengikuti jejakku.

Hingga akhirnya Allah SWT berkenan memberikan jawaban. Di suatu hari yang cerah putriku berkata, "Aku mau pakai jilbab seperti Ummi...." Subhanallah. Momen masya Allah yang takkan pernah kulupa.

Ibu adalah sekolah pertama putrinya. Panutan. Teladan. Memang hidayah untuk berhijab bukanlah sesuatu yang bisa dicapai akal dengan logika. Itu adalah sebuah rumusan magis, antara ikhtiar kita mencarinya, doa diam-diam orang tua, maupun bersungguh-sungguh memelihara konsistensinya. Sungguh tak mudah.

Semoga Allah SWT berkenan menjaga keistiqomahan bagi diriku, ibu, putriku, dan seluruh muslimah di dunia untuk tetap teguh di jalan-Nya. Sebab perintah berhijab adalah bentuk kasih sayang Allah SWT kepada wanita, makhluk teristimewa di dunia.

Rabu, 04 Oktober 2017

Update EFaktur Baru Untuk Pengguna Macbook

Anda pengguna Macbook? Berikut ini tutorial update eFaktur baru versi V.2.0 :

1. Salin file berbentuk zip dari Kantor Pelayanan Pajak (KPP) dan ekstrak.

2. Drag file hasil ekstrak tadi ke folder aplikasi lama. Bila muncul opsi tindakan selanjutnya maka pilih "Merge" agar file baru bisa menggantikan file lama. Bila opsi ini tidak dipilih kemungkinan besar proses update gagal dilakukan. Menurut petunjuk di sini, agar opsi "Merge" muncul maka kita harus menahan tombol Option saat menyeret dan menjatuhkan folder ke lokasi yang sama.


 3. Klik ETaxInvoice pada menu detil efaktur.


  4. Selanjutnya akan terjadi proses update sampai akhirnya muncul dialog seperti ini:


 5. Klik menu "Shell", pilih "New Window", selanjutnya pilih "New Window with Settings-Basic".


6. Jalankan aplikasi baru sebagaimana biasa dengan mengetik direktori tujuan di kotak dialog seperti ini:


Tulisan ini merupakan kontribusi dari Bapak Marthin yang sudah sukses menjalankan aplikasi barunya. Semoga menjadi amal jariyah beliau. 

Berikutnya saya akan share cara update efaktur di Macbook yang lain:

1. Silahkan download aplikasi e-faktur Macintosh 64 bit

2. Extract atau unzip file EFaktur_Mac64.zip, disarankan untuk menempatkan folder e-faktur yang telah di unzip tersebut di Desktop,

3. Jalankan aplikasi Terminal (pada Mac OS, untuk menjalankan e-faktur ini akan selalu menggunakan aplikasi Terminal)

     • terdapat di folder Application – Utilities

4. Pada jendela Terminal tersebut ketikkan berturut-turut sbb:

     • cd Desktop

     • cd EFaktur_Mac64 (sesuai dengan nama folder hasil unzip)

5. Lanjutkan ketik perintah berikut untuk mengganti permission file ETaxInvoice:

    • chmod u+x ETaxInvoice

6. Terakhir, jalankan aplikasi e-faktur dengan mengetikkan:

   • ./ETaxInvoice
 

7. Tunggu proses update selesai (bila ada), tutup aplikasi dan jalankan kembali dengan mengetik ./ETaxInvoice

Keterangan lebih lanjut silakan menghubungi KPP atau Kring Pajak 1500200 ya.

Selasa, 03 Oktober 2017

Anda PKP Baru? Begini Cara Install Efaktur Versi V.2.0!

Bagi Pengusaha Kena Pajak yang baru terdaftar setelah tanggal 1 Oktober 2017, berikut tata cara instalasi aplikasi eFaktur Versi V.2.0 untuk Windows:

1.Cek spesifikasi windows, apakah menggunakan sistem 32 Bit atau 64 Bit.
Caranya: Klik kanan folder Computer/My Computer/This PC, klik "Properties", selanjutnya akan muncul informasinya.

2.Copy aplikasi versi baru dari flashdisk/cd sesuai jenisnya (32 Bit atau 64 Bit) ke folder baru di laptop/PC. File berbentuk Rar/Zip. Extract ke folder baru tersebut. Selanjutnya akan terbentuk file EtaxInvoice.exe.

3.Extract file EtaxInvoice.exe dengan cara mengklik dua kali. Akan terbentuk satu file baru berisi aplikasi baru.

4.Jalankan file EtaxInvoiceUpd.exe dengan cara mengklik dua kali. Akan muncul tampilan untuk registrasi awal aplikasi eFaktur. Proses berikutnya memerlukan koneksi internet.

5.Isi kolom NPWP. Browse file sertifikat digital (bisa diunduh di website efaktur.pajak.go.id) dan masukkan passphrase yang diminta. Isi kolom kode aktivasi desktop (bisa dilihat di surat yang dikirim via pos oleh KPP atau di website eNofa/www.efaktur.pajak.go.id), klik “Register”.

6.Selanjutnya akan muncul permintaan captcha dan password eNofa (bisa dicek di email perusahaan). Klik “Submit”.

7.Berikutnya kita lakukan pengisian kotak “Register User Lokal”. Isi kolom Username dengan nama yang kita buat sendiri (misal “Admin”, nama pengguna, nama perusahaan, dsb). Isi kolom nama penanda tangan.

8.Buat password sesuai keinginan kita. Boleh disamakan dengan passphrase atau password eNofa (untuk menghindari kebingungan karena terlalu banyak password). Klik “Daftarkan User”.

9.Bila muncul kotak Login, silakan isi kolom username dan password sesuai yang dibuat tadi. Klik “Login”.

10.Proses registrasi awal selesai. Untuk selanjutnya, tiap kali akan menjalankan aplikasi baru, klik
EtaxInvoice.exe atau create shortcut file ini ke desktop/pin to taskbar  untuk memudahkan mengaksesnya. 

Jangan lupa untuk membenamkan sertifikat digital perusahaan ke dalam aplikasi dengan membuka menu "Referensi" lalu klik menu "Administrasi Sertifikat". Browse ke direktori sertifikat digital dan masukkan passphrase. Ikuti proses sampai selesai. 

Info lebih lanjut silakan menghubungi Kring Pajak 1500200 atau layanan Helpdesk Kantor Pelayanan Pajak terdekat.

Selamat mencoba.

Sebelumnya: Cara update aplikasi eFaktur Versi V.2.0 untuk PKP lama.

Selanjutnya: Cara update aplikasi eFaktur Versi V.2.0 untuk Macbook.

Jumat, 29 September 2017

Penting: Update Aplikasi EFaktur Desktop Baru!

Pada hari Kamis, 28 September 2017, DJP merilis Pengumuman Tentang Pemberitahuan Down-Time Aplikasi e-Nofa dan e-Faktur yang akan dimulai pada hari Jumat 29 September 2017 pukul 17.00 WIB sampai dengan hari Minggu tanggal 1 Oktober 2017 pukul 07.00 WIB. Dengan demikian, selama masa down-time tersebut Pengusaha Kena Pajak (PKP) tidak dapat mengakses aplikasi tersebut, terutama untuk pelayanan permintaan Nomor Seri Faktur Pajak secara online dan permintaan persetujuan (upload) e-Faktur. Namun, aplikasi e-Faktur Desktop tetap dapat digunakan untuk membuat SPT Masa PPN 1111.

Down-Time Aplikasi e-Nofa dan e-Faktur ini adalah dampak dari proses update aplikasi e-Faktur Desktop dan persiapan peluncuran aplikasi baru pada 1 Oktober 2017 nanti. Hal ini dilaksanakan dalam rangka penyempurnaan aplikasi e-Faktur Desktop yang ada dan perluasan channeling e-Faktur untuk meningkatkan pelayanan kepada PKP sebagai pengguna aplikasi.

Aplikasi e-Faktur tersebut adalah:
a. Aplikasi e-Faktur Desktop versi v.2.0 (menggantikan versi yang telah ada saat ini);
b. Aplikasi e-Faktur Web-based;
c. Aplikasi e-Faktur Host-to-Host;

Untuk aplikasi pada poin b dan c, disebutkan bahwa PKP yang akan menggunakan aplikasi tersebut harus memperoleh izin tertulis dari Direktorat Jenderal Pajak yang tata caranya akan diatur kemudian.

Maka untuk saat ini, PKP dapat mulai meng-update aplikasi e-Faktur Desktop versi v.2.0 yang dapat diakses pada halaman https://efaktur.pajak.go.id mulai tanggal 25 September 2017. 

Berkenaan dengan penyempurnaan aplikasi e-Faktur Desktop versi v.2.0, terdapat beberapa fitur tambahan antara lain:
a. Pembatalan Faktur Pajak yang bisa dilakukan setelah lawan transaksi menyetujuinya;
b. Pembatalan Retur Faktur Pajak;
c. Peringatan pada saat nilai transaksi yang direkam melebihi Rp1.000.000.000,00;
d. Notifikasi untuk mencantumkan Nomor Induk Kependudukan (NIK) pada kolom Referensi untuk Pembeli yang tidak memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak atau 00.000.000-0.000.000;
e. Perbaikan bugs pada saat cetak nota retur;
f. Penambahan Cap "PPN TIDAK DIPUNGUT BERDASARKAN PP NOMOR 96 TAHUN 2015”;
g. Penambahan Cap "PPN DIBEBASKAN SESUAI PP NOMOR 74 TAHUN 2015”;
h. Penambahan Cap "PPN TIDAK DIPUNGUT BERDASARKAN PP NOMOR 106 TAHUN 2015”.

Bagaimanakah tata cara back-up database efaktur dan update manual Aplikasi e-Faktur Desktop versi v.2.0? Mudah, kok. Begini caranya:

1. Sebelum melakukan back-up database, pastikan aplikasi e-Faktur tidak sedang berjalan. Silakan kompres folder db menjadi backup_db_efaktur.zip (atau dalam bentuk file rar) kemudian pindahkan file back-up tersebut ke tempat lain (harddisk/flashdisk/DVD). Ini perlu dilakukan untuk antisipasi bila sewaktu-waktu terjadi kerusakan pada aplikasi di masa mendatang.

2. Cek spesifikasi windows, apakah menggunakan sistem 32 Bit atau 64 Bit.
Caranya: Klik kanan folder Computer/My Computer/This PC, klik "Properties", selanjutnya akan muncul informasinya. Copy aplikasi baru
(silakan ke Kantor Pelayanan Pajak (KPP) untuk meminta file tersebut atau unduh dari laman resmi DJP) sesuai dengan jenis Bit-nya.
3. Extract aplikasi e-Faktur v.2.0 yang baru  ke folder baru yang terpisah dari aplikasi lama. File dari KPP berbentuk rar, silakan extract, hasilnya adalah file berbentuk exe. Silakan klik dua kali lalu salin folder db dari aplikasi e-Faktur lama ke dalam folder aplikasi e-Faktur baru yang terbentuk dari extract file exe tadi.

4. Jalankan EtaxInvoiceUpd.exe. Setelah selesai proses update silakan rename menjadi EtaxInvoiceUpd_Old.exe.

5. Klik EtaxInvoice.exe untuk menjalankan aplikasi e-Faktur seperti biasa.

6. Apabila aplikasi baru memerlukan sertifikat digital, silakan unggah ke aplikasi dengan membuka menu "Referensi" lalu klik menu "Administrasi Sertifikat". Browse ke direktori sertifikat digital dan masukkan passphrase.

7. Apabila ketika dicek di rincian faktur pajak keluaran halaman berikutnya (setelah halaman 1) tidak dapat dibuka, silakan klik kotak "Hitung Total Record" di pojok kiri bawah lalu silakan coba klik icon halaman selanjutnya.

Selamat mencoba, semoga sukses. Apabila ada hal yang ingin ditanyakan silakan menghubungi Layanan Informasi dan Pengaduan Kring Pajak 1500200 atau KPP terdekat.

Sumber :
http://www.pajak.go.id/content/pengumuman-tentang-pemberitahuan-down-time-aplikasi-e-nofa-dan-e-faktur-dan-peluncuran

Selanjutnya : Cara instalasi eFaktur untuk PKP Baru.

Minggu, 13 Agustus 2017

Sekelumit Kisah dari Pajak Bertutur

“Education is the most powerful weapon that you can use to change the world” 
Pendidikan adalah senjata terkuat yang bisa Anda gunakan untuk mengubah dunia
~Nelson Mandela~

Tanggal 11 Agustus 2017 merupakan hari yang sangat bersejarah bagi dunia perpajakan di Indonesia. Direktorat Jenderal Pajak (DJP) telah menerima piagam penghargaan MURI atas rekor Edukasi Pajak Bertutur secara serentak kepada 127.459 siswa di 2.182 sekolah se-Indonesia. 

Credit: P2Humas DJP

Saya merasa beruntung dapat menjadi bagian kecil dalam momen ini, sebab mendapatkan amanah menyampaikan materi di SMKN 20 Jakarta. Sekolah ini adalah salah satu sekolah unggulan di Jakarta Selatan. Senang sekali mendapat kesempatan bekerja sama dengan sekolah ini sebab dari kelima sekolah yang menjadi target kegiatan kami, murid-murid di sekolah ini paling antusias mengikuti lomba foto dengan “like” terbanyak yang kami adakan di Instagram beberapa hari menjelang Hari H. Selidik punya selidik, rupanya guru-gurunya sangat memotivasi mereka untuk mengikuti lomba. Dalam hal ini saya sangat takjub dengan support mereka bahkan sebelum kegiatan utama berlangsung.

Beberapa menit sebelum acara dimulai, saya berkesempatan berdiskusi dengan salah satu Wakil Kepala Sekolah Bidang Kehumasan, yaitu Ibu Defi. Banyak sekali informasi yang membuka wawasan saya tentang berbagai macam tantangan yang dihadapi para pendidik di dunia pendidikan saat ini. Mulai dari lingkungan keluarga yang kurang mendukung pembelajaran siswa, kurangnya perhatian orang tua sehingga berujung pada kenakalan remaja, penyalahgunaan narkoba, dan bagaimana upaya dari pihak sekolah dalam menyelesaikan permasalahan-permasalahan tersebut.

Sistem penerimaan siswa baru dengan sistem online juga dinilai terdapat kekurangan di dalamnya, yaitu siswa diterima dari satu parameter saja (angka NEM). Sistem ini membuat pihak sekolah tidak diberikan kewenangan dalam menolak siswa yang mempunyai permasalahan kenakalan remaja sehingga berpotensi menjadi penyebar pengaruh negatif bagi teman-temannya di kemudian hari. Hal ini pada akhirnya menyebabkan pihak sekolah harus ekstra melakukan pengawasan pada beberapa siswa baru yang ditengarai membawa bibit-bibit kenakalan remaja dan melakukan pembinaan secara intensif.

Kerja sama dengan pihak lain, BNN misalnya, kadang perlu dilakukan. Semata-mata agar apabila terjadi penyalahgunaan narkoba di lingkungan sekolah dapat terdeteksi sejak awal dan dapat diberikan penanganan khusus. Soal narkoba ini memang membuat saya cukup terkejut, sebab menurut cerita Bu Defi, para siswa dapat dengan mudah janjian dengan bandar di tempat olahraga umum untuk menghisap narkoba dengan sebutan populer “Kingkong” Rp5 ribu rupiah saja sekali isap! Ini miris sekali, sebab begitu mudah sekali barang haram ini menjerat dan merusak masa depan mereka.

Hampir menangis rasanya ketika mendengar kisah-kisah tentang para siswa yang ketahuan memakai sebab mulai menunjukkan keanehan ketika belajar di sekolah. Mereka biasanya terlihat kusut, bola matanya tidak bisa fokus, gelisah, dan bahkan sering salah kostum sebab lupa hari dan seragam apa yang harus dipakai. Sedih rasanya bila hal ini menimpa generasi muda kita. Bagaimana nasib bangsa ini kelak?

Diskusi kami selesai beberapa menit sebelum acara Pajak Bertutur dimulai. Alhamdulillah Plt. Kepala Kantor kami berkenan membuka acara. Kedatangan beliau disambut dengan pertunjukan gamelan dari para siswa (yang menurut Ibu Defi berinisiatif ingin menunjukkan kemampuan mereka, salut!). Di bagian pembukaan mereka juga mempersembahkan tarian tradisional yang berasal dari Betawi. Para siswi ini rupanya juga berprestasi dengan menyabet juara satu dalam lomba tari tingkat SMA dan sederajat se-Jakarta Selatan. Hal yang membuat saya terharu adalah mereka berinisiatif untuk tampil dan berdandan sendiri tanpa diminta oleh pihak sekolah. Kontribusi yang luar biasa!

Credit: Tim Medsos KPP Pratama Jakarta Cilandak
Hari itu saya bertugas sebagai salah satu narasumber yang menyampaikan materi kesadaran pajak dengan tema “Pajak sebagai Tulang Punggung Negara”. Sesuai instruksi dari Kantor Pusat, waktu yang diberikan kepada kami selama satu jam latihan (yang kurang dari 60 menit) dimulai sejak pukul 9 pagi. Para siswa sebanyak 50 orang kami bagi menjadi 5 kelompok. Dengan sistem ini kami berharap kegiatan berlangsung interaktif dan semua peserta mau ambil bagian dalam diskusi. Sistem reward berupa poin dan tebar hadiah sepanjang acara mampu mengungkit semangat dan antusiasme peserta.

Sebagian besar peserta angkat bicara ketika diberikan kesempatan, memberikan opini dan menjawab pertanyaan yang diberikan. Meskipun semua peserta telah mendapatkan pelajaran perpajakan (sebab berasal dari jurusan akuntansi dan perbankan syariah), namun belum serta-merta memahami betapa pentingnya pajak dalam kehidupan berbangsa dan implementasinya dalam kehidupan sehari-hari. Itulah bedanya pengetahuan dengan pemahaman. Tahu sesuatu belum tentu mampu mengubah perilaku. Namun dengan pemahaman dan kesadaran yang menyentuh hati, karakter yang baik akan terbentuk dan mampu mengubah sebuah bangsa.

Setelah materi diberikan, terlihat wajah-wajah cerah yang semringah, senang karena menerima banyak hadiah, dan siap berkomitmen untuk menjadi duta pajak yang akan meneruskan materi ini kepada lingkungan sekitarnya. Diri saya yang tadinya sempat pesimis melihat permasalahan kenakalan remaja, seketika terpantik harapan yang menyala, tentang masa depan Indonesia yang lebih cerah setelah mendengar komitmen mereka. Misi kami mungkin selesai untuk hari itu, tapi perjalanan panjang masih menanti dalam program inklusi kesadaran pajak dalam dunia pendidikan di Indonesia.

Pada tanggal 11 Agustus 2017 juga telah ditandatangani Perjanjian Kerja Sama antara DJP dengan Kemendikbud sebagai lanjutan dari MoU yang telah dilaksanakan pada tahun 2014 lalu. Ini adalah suatu pencapaian yang luar biasa. Penulis berharap hal ini dapat segera memberikan dampak positif dalam dunia pendidikan di Indonesia.

Penyampaian materi kesadaran pajak kepada siswa akan sejalan dengan program Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) yang dicanangkan Kemendikbud dan memperkuat nilai-nilai utama karakter yaitu Religius, Nasionalis, Mandiri, Integritas, dan Gotong-Royong. Kedua pihak akan bersinergi dalam mengkaji bagaimana sistem pembelajaran yang tepat agar materi kesadaran pajak dapat ter-inklusi dengan baik dan menjadi salah satu senjata dalam mengubah karakter bangsa. Semoga kerja sama ini dapat berjalan dengan baik dan berhasil dalam mewujudkan generasi emas di tahun 2045. Generasi yang hebat, sadar pajak, dan kelak mampu berkontribusi dalam membangun negara, meneruskan perjuangan para pahlawan bangsa.

Dirgahayu Indonesiaku, berbanggalah pada generasi yang tiada pernah berhenti mencintaimu. Merdeka!


Sumber:

Minggu, 06 Agustus 2017

Pajak Bertutur, Momen Kebangkitan Sadar Pajak di Indonesia

Credit: P2Humas DJP

"Sebuah perjalanan ribuan mil dimulai dari satu langkah kecil." ~Lao Tse~

Ada sebuah kisah tentang curahan hati seorang guru di Australia yang lebih khawatir muridnya tidak pandai mengantre daripada tidak pandai Matematika. Ketika ditanya mengapa, beliau menjawab, "Sebab agar seorang anak pandai Matematika kita hanya perlu melatihnya selama 3 bulan secara intensif, sedangkan untuk melatih agar anak mau mengantre dibutuhkan 12 tahun, bahkan lebih!" Menurut guru tersebut, menanamkan kesadaran mau mengantre sebagai salah satu pendidikan karakter membutuhkan waktu belasan tahun sebab sungguh bukan pekerjaan mudah membuat seorang anak memahami dan menghayati pelajaran berharga di balik mengantre. Namun, ketika pendidikan tersebut telah berhasil ditanamkan pada mereka, lihatlah hasil luar biasa yang mampu diberikan kepada negaranya. Dengan memahami pelajaran berharga di balik mengantre dan mengamalkannya sejak dini, masyarakat bangsa tersebut menjadi masyarakat disiplin yang menghargai waktu, menghormati sesamanya, menaati peraturan, dan yang terpenting akan malu apabila mengambil hak-hak orang lain.

Pendidikan kesadaran pajak tentu tidak kalah pentingnya bila dibandingkan dengan pelajaran mengantre. Seandainya anak-anak di negara kita dididik untuk memahami bahwa semua fasilitas umum yang mereka nikmati sebagian besar dananya berasal dari pajak dan negara ini juga suatu saat bisa terbebas dari hutang bila semua warga negaranya taat membayar pajak, bukan tidak mungkin di masa mendatang Indonesia akan menjadi negara dengan Tax Ratio tertinggi dan angka kemiskinan terendah. Ini bukan hanya tugas Direktorat Jenderal Pajak (DJP) semata. Perlu upaya berkelanjutan melalui proses pembelajaran sejak dini, yang disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan para siswa. Menyadari hal tersebut, DJP bekerja sama dengan Kemendikbud dan Kemenristek Dikti telah mencanangkan program "Inklusi Kesadaran Pajak". Program ini merupakan upaya untuk menanamkan kesadaran pajak kepada tenaga pendidik dan para peserta didik melalui integrasi materi kesadaran pajak dalam kurikulum dan dunia pendidikan. Hal ini menjadi sebuah batu pijakan yang luar biasa, buah kerja keras dan ketekunan dari semua pihak dalam bersinergi menyatukan visi dan misi yang ada. Sebuah langkah awal yang sangat bersejarah bagi dunia pendidikan dan dunia perpajakan di Indonesia.

Namun, ketika mendengar berita tersebut, reaksi sebagian orang mungkin akan mengernyitkan dahi dan berkata, "Buat apa sih mengajari anak sekolah membayar pajak, bukankah itu terlalu sulit? Orang dewasa saja tidak paham tentang pajak." Reaksi semacam ini cukup wajar bila muncul di tengah masyarakat yang pengetahuan perpajakannya masih rendah. 


Beberapa Wajib Pajak yang pernah berkonsultasi dengan penulis  mengaku mereka berpikir bahwa sistem perpajakan di negara kita adalah official assessment, yaitu negara yang memperhitungkan dan menetapkan berapa pajak yang harus dibayar. Hal ini sungguh miris, mengingat bahwa negara kita sudah tidak lagi menganut sistem tersebut sejak Reformasi Perpajakan pertama di tahun 1984. Sebagian Wajib Pajak juga masih belum bisa membedakan mana pajak pusat dan  pajak daerah. Sebagiannya lagi masih berpikir bahwa membayar pajak itu ke kantor pajak dan akan dikorupsi pegawai pajak. Yang lebih menyedihkan lagi, masih ada saja tenaga pendidik yang juga berpikiran seperti ini. Bila tenaga pendidiknya saja demikian, maka pendidikan seperti apakah yang akan diberikan kepada peserta didiknya? 

Kondisi seperti inilah yang menjadi tantangan agar program Inklusi Kesadaran Pajak dalam dunia pendidikan mampu menciptakan generasi baru yang lebih baik daripada generasi sebelumnya. Generasi yang bukan sekadar menggunakan fasilitas umum tetapi juga ikut merawatnya sebab menyadari bahwa fasilitas tersebut sebagian besar sumber dananya berasal dari pajak; generasi yang peduli dengan berbagai permasalahan di sekitarnya dan memandang pajak bukan sebagai beban sebagai warga negara tetapi lebih sebagai sebuah bentuk kontribusi kepedulian dengan sesama; generasi yang tidak pernah mau mengikuti perilaku negatif pendahulunya dan rela berkorban kepada negara sebab menyadari bahwa dengan membayar pajak berarti telah ikut mempertahankan kemerdekaan bangsa dan meneruskan perjuangan para pahlawannya. Generasi emas yang dalam target pemerintah kita akan dicapai pada tahun 2045 nanti.

Untuk menandai dimulainya program ini, pada tanggal 11 Agustus 2017 nanti DJP akan mengadakan program "Pajak Bertutur" dengan target peserta 110.000 siswa dari SD hingga Perguruan Tinggi. Mereka akan diajak untuk mengikuti kegiatan dalam satu jam latihan yang akan diselenggarakan oleh masing-masing unit kerja DJP. Akhir-akhir ini gaungnya mulai terlihat di media cetak dan sosial media. Berbagai macam kegiatan kreatif dirancang untuk mengemas acara tersebut, mulai dari yang konvensional seperti lomba cerdas cermat, lomba membuat poster, lomba gerak dan lagu, lomba majalah dinding, hingga yang kekinian seperti lomba foto selfie dengan photobooth yang telah disediakan panitia, gameboard, game kahoot, dan sebagainya. 


Kegiatan yang berjalan semarak dan menyenangkan tentu saja akan memberikan kesan yang mendalam dan bermakna positif bagi para pesertanya. Kesan tersebut diharapkan mampu menjadi stimulan awal untuk antusiasme dalam implementasi program Inklusi Kesadaran Pajak, yang selanjutnya akan diteruskan dengan integrasi dalam mata pelajaran dan pembiasaan nilai-nilai dalam keseharian sekolah. Metode seperti ini dirasa lebih efektif dan secara alamiah mampu memberikan penanaman nilai-nilai kesadaran perpajakan yang lebih kuat dalam membentuk karakter siswa, sehingga kelak ketika mereka terjun ke masyarakat akan mampu berperan sebagai seorang warganegara yang baik dan menaati peraturan perpajakan yang ada.

"Pajak Bertutur" seakan menjadi secercah cahaya harapan yang membuka jalan bagi keberlangsungan program "Inklusi Kesadaran Pajak" dalam dunia pendidikan di Indonesia. Sebuah momen yang menandai bangkitnya kesadaran perpajakan bangsa dan lahirnya generasi baru yang lebih baik dari generasi sebelumnya. Penulis berharap agar semua pihak yang terlibat mampu berkolaborasi dalam kegiatan ini sehingga dapat berlangsung dengan sukses dan mencapai tujuannya. Satu langkah awal dalam ribuan mil perjalanan panjang penuh tantangan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa yang sadar pajak. Mari kita dukung dan sukseskan bersama!

Selasa, 01 Agustus 2017

11 Hari Menjelang Pajak Bertutur, Ngapain Aja Sih?

Sudah beberapa hari ini, kami, para petugas yang ikut dalam panitia persiapan kegiatan Pajak Bertutur 11 Agustus nanti, dibuat heboh dengan persiapannya. Rapat demi rapat sering diadakan, dan ini selalu punya dua efek. Efek positifnya, kami jadi punya visi dan misi yang sama dalam pelaksanaan kegiatan nanti, sinergi lebih erat, dan yang jelas tambah semangat dalam merancang acara di Hari H. Efek negatifnya, snack dan perpaduan kopi-teh yang senantiasa menggempur badan membuat nambah BB dan gak terlalu bagus buat Hari H nanti (yah beginilah nasib jadi calon pembicara, harus jaga bodi *kibas poni).

Hari ini, sebelas hari menjelang Pajak Bertutur, adalah jadwal kami ke sekolah yang akan dituju, yaitu SMK 20 Jakarta. Saya dan satu rekan AR Seksi Ekstensifikasi (Bang Andre) ditugaskan mewakili kantor untuk menyelesaikan misi ini. Lokasi sekolah yang tidak begitu jauh membuat perjalanan yang ditempuh tak lebih dari setengah jam. Target kami cukup mudah, melanjutkan koordinasi terkait pelaksanaan kegiatan di Hari H dan menanyakan sarana dan prasarana apa saja yang ada di sana.

Saya sebenarnya agak penasaran juga kira-kira bagaimana tanggapan dari pihak sekolah tentang Pajak Bertutur. Kemungkinan besar pihak sekolah akan beranggapan bahwa Pajak Bertutur ini adalah ajang sosialisasi materi perpajakan kepada para siswa di sana yang memang kebetulan sebagian besar ada mata pelajaran administrasi perpajakan. Dan ternyata ketika dikonfirmasi, tebakan saya ini benar!

Kami disambut dengan sangat ramah oleh Bapak Iqbal, Wakil Kepala Sekolah SMK 20 Jakarta. Yang membuat kami makin semangat, ternyata pihak sekolah telah menyiapkan nama-nama calon peserta kegiatan. Luar biasa sekali responnya *angkat topi.

Sekolah telah menyiapkan nama calon peserta sebanyak 50 orang dari jurusan yang ada mata pelajaran Akuntansi sebab menganggap bahwa yang akan disosialisasikan adalah materi teknis perpajakan. Anggapan ini tidak sepenuhnya salah sih. Namun sebenarnya yang perlu digarisbawahi, kegiatan Pajak Bertutur ini akan lebih banyak menyajikan materi tentang kesadaran pajak, jadi lebih banyak transfer materi softskill daripada hardskill. Kami mencoba mengkomunikasikan hal tersebut dan menginformasikan tentang inklusi materi kesadaran pajak dalam silabus kurikulum di dunia pendidikan, dan alhamdulillah responnya positif. Pihak sekolah sangat mendukung. Bahkan ke depannya akan siap membantu bila ada kegiatan Tax Goes to School.

Acara kami lanjutkan dengan cek sarana dan prasarana yang akan disediakan, mencari spot photobooth yang nanti akan digunakan untuk selfie para siswa (iya dong, namanya juga sosialisasi ke anak SMA, mesti kekinian lah...), dan mengkoordinasikan performance band sekolah untuk Hari H (belum mulai aja sudah kebayang kan serunya acara nanti!).

Tanpa terasa misi kami selesai dan di akhir acara tak lupa saya berfoto di depan sekolah sambil berjanji akan membuat Pajak Bertutur nanti sangat berkesan bagi para peserta. Insya Allah, semoga semuanya lancar dan sukses!

Credit: Bang Andre

Note: abaikanlah lengan saya yang menggembung ini yaa!


Kepoin apa itu Pajak Bertutur di sini.

Selasa, 25 April 2017

MENGATASI CSV TIDAK DAPAT DIBUKA PADA VIEWER E-SPT PPH BADAN


Ini adalah langkah-langkah yang dapat dilakukan ketika file CSV dari Wajib Pajak tidak dapat dibuka menggunakan viewer e-SPT PPh Badan:

Ada 2 penyebab file CSV tidak dapat dibuka:

a. File CSV dibentuk dari aplikasi e-SPT pph Badan versi 1.0 (jenis aplikasi e-SPT 1771 2009).

Ciri dari file CSV ini adalah 2 digit terakhir dari nama CSV ini adalah -10 dan bukan -11.

Secara normal, file CSV merupakan gabungan dari beberapa kode. Lima digit terakhir dari nama file menunjukkan jenis e-SPT dan dari aplikasi PPh Badan tahun berapa, yaitu:

XXXXXXXXXXXX000011220XXXF1132140110 dibentuk dari e-SPT 1771 2009 Rupiah

XXXXXXXXXXXX000011220XXXF1132140111 dibentuk dari e-SPT 1771 2010 Rupiah

XXXXXXXXXXXX000011220XXXF1132150110 dibentuk dari e-SPT 1771 2009 Dollar

XXXXXXXXXXXX000011220XXXF1132150111 dibentuk dari e-SPT 1771 2010 Dollar

Nah, apabila 2 digit terakhir dari nama CSV ini adalah -10 dan bukan -11, maka yang dapat dilakukan adalah:

- Minta file database dari Wajib Pajak;

- Konfigurasi database tersebut agar dapat dibuka melalui aplikasi e-SPT 1771 2010 versi 1.2 yang ada di komputer kita (yang ini tidak saya jelaskan di situs ini ya, sebab sudah banyak yang membahas caranya). Apabila aplikasi yang ada di komputer kita masih aplikasi versi 1.0 maka aplikasi kita harus di-update dulu;

- Create file CSV dari aplikasi kita. Apabila berhasil terbentuk file CSV dengan 2 digit terakhir -11, maka insya Allah file CSV akan bisa dibuka.


b. File CSV dapat dibuka sebagian, sebagian besar tidak dapat dibuka.

Kemungkinan besar terjadi karena Wajib Pajak melakukan copy-paste ketika menginput data e-SPT PPh Badan.

Biasanya salah pengisian data ini ada di Lampiran IV bagi Wajib Pajak yang mengisi kolom PPh Final PP 46 atau Lampiran V ketika mengisi Daftar Pemegang Saham dan Daftar Pengurus.

Kesalahan menginput data terjadi karena Wajib Pajak melakukan copy data berikut spasi setelah karakter data tersebut, sehingga menyebabkan error pada file CSV yang dibentuk.

Cara mengidentifikasinya:

- Buka viewer e-SPT Badan, kemudian cari file CSV yang tidak bisa dibuka. Biarkan saja meskipun tidak bisa dibuka, sebab kita akan lakukan view decrypt file CSVnya dengan cara:

1. Buka C -> Users -> Nama User -> AppData -> Local -> Virtual Store -> Program File atau Program File (x86) -> DJP -> Viewer eSPT Badan 2010 -> Temp -> XXXXXXXXXXXX000011220XXXF1132140111Decrypt.csv -> klik kanan file ini -> Open with Notepad. Maka akan terlihat file di Notepad dengan tulisan seperti ini:

<--;123; PROFIL;........

<--;123;........

<--;123;........

<--;123;........

Silakan cari baris data yang anomali alias tidak rapi, tidak seperti di atas, kemungkinan baris data inilah yang mengandung kelebihan spasi penyebab error.

Misalnya seperti ini:
<--;123;.......
<--;123;.......
;XX;.............
<--;123;.......
Baris ketiga contoh di atas tidak rapi, kemungkinan data inilah penyebab error-nya

2. Setelah teridentifikasi penyebabnya, silakan login ke dalam aplikasi e-SPT PPh Badan kita (yang telah ditambahkan database dari Wajib Pajak), untuk dilakukan pengeditan secara manual pada data yang telah diinput. Cara mengeditnya cukup mudah yaitu kita hapus saja spasi setelah karakter terakhir yang ada di dalam data Wajib Pajak yang menyebabkan error sesuai hasil view decrypt tadi.

3. Setelah kita hapus spasi hasil copy-paste di akhir karakter yang menyebabkan error tadi, silakan simpan perubahannya.

4. Perhatian: untuk pengeditan data Pengurus Wajib Pajak di Lampiran V biasanya tidak dapat dilakukan kecuali dengan cara menghapus data lama dan melakukan penginputan ulang sebab akan ada notifikasi file tidak dapat diubah.

5. Silakan create CSV baru apabila sudah simpan.

6. Apabila masih ada error silakan ulang langkah dari angka 1, kemungkinan masih ada data yang belum dibetulkan.

Catatan tambahan: Misalnya folder "AppData" tidak muncul ketika membuka folder "User" di C komputer, silakan beri tanda centang pada kolom "unhide file and folder" dulu di Control Panel.

Semoga artikel ini bermanfaat ya. Selamat berjuang dan pantang menyerah! Bila merasa lelah maka ingatlah Firman Allah SWT:

“Dan Katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (At-Taubah [9]: 105)