Rabu, 26 November 2014

Prompt #72 : Duka Clara



“Api nyala begitu rupa
Membelit-belit luka
Mulut nyinyir bau anyir
Tak kuasa melawan takdir
Takdirku, takdirmu
Berpeluh kelu tergelincir di lorong waktu
Menghempas kita di ujung masa
Memaksa cinta menguruk duka
Dalam
Kelam
Buram
Seburam matamu di pinggir senja
Menatap lekat jiwaku yang meranggas
Habis kau bakar dalam gelas”
Satu-satu kusesap habis minuman itu. Pahit. Biarlah, aku tak peduli. Berharap pahitnya mengalahkan derita selepas dia pergi.
“Claraaaa….,” panggilan ibu menggema dari balik pintu. Sesekali gedorannya menggetarkan mejaku, namun tetap tak mampu membuatku beranjak.
“Sudah malam, obatnya jangan lupa diminum!” ibu menyerah akhirnya. Meninggalkanku dalam ritual setiap malam, menghempaskan sebutir lagi pil harapannya ke tong sampah. Aku tersenyum lega. Satu hari berlalu lagi tanpa perlu menenggaknya.

Sumber
Lalu kuteruskan lagi ritualku berikutnya. Mengukir sebuah nama di atas kertas-kertas yang berserakan, puluhan mungkin ratusan. Sesekali kutorehkan prosa atau puisi, mengenangnya sebelum pergi. Lalu kutambahkan bergelas-gelas lagi hingga tuangan terakhir. Berharap minuman ini bisa melarutkanku dalam mimpi. Sayangnya mataku tak kunjung lena dan waktu terus saja merangkak. Desau angin di luar jendela merangak.
Bosan.
Clara, minum obatnya.
Clara, jangan bikin ulah.
Clara, kerjakan tugas kuliah-mu.
Clara, jangan minum-minum lagi.
Clara, sana pergilah terapi.
Bukan terapi yang kuperlukan, Ibu. Tapi belaian dan kasih sayangmu. Bosan aku berputar-putar di dunia ini seperti siput. Menanggung beban di punggungku. Beban itu bernama ibu.
Bukan, bukan mendiang ibu yang namanya kupatri di kertas-kertas tadi. Tapi ibu baru yang hanya bisa menyeretku ke ruang psikiatri.

Jumlah kata : 233 kata

Notes : Untuk semua ibu di dunia, ingatlah putrimu adalah mutiara :)

6 komentar:

Bila berkenan sila tinggalkan jejak ya ^_^