Rabu, 08 Oktober 2014

Prompt #65 : Lelaki Tua di Tengah Gerimis



Meski lelah setelah berjam-jam melalui perjalanan di atas mobil, kupaksakan diri meluangkan waktu mengelilingi desa ini. Sumberjati, demikian tulisan yang terpampang di gerbang masuknya. Meski demikian, tak satupun kulihat ada hutan jati di sekitar daerah ini. Hanya ada beberapa pohon jati berbaris di tepi jalan masuk desa. Selebihnya sawah yang luas dan hamparan padi menguning dengan bulir-bulirnya yang gemuk. Seperti gambar yang ada di lukisan-lukisan beraliran romantisme.

Sayangnya gerimis turun, memaksaku untuk bergegas mencari tempat berteduh. Sungguh beruntung aku dapat menemukan sebuah dangau kosong. Dinding dan atapnya terbuat dari sirap lumayan melindungiku dari angin dan hujan. Kuhenyakkan badan di sebuah dipan reyot dengan hati-hati dan mengeratkan dekapan tubuhku sendiri. Sial! Aku lupa membawa jaket.

Nuwun sewu Mas…,” sebuah suara mengagetkanku. Seorang bapak tua yang menuntun sepeda tersenyum padaku.
 
Sumber: Dokumentasi Pribadi Rinrin Indrianie

“Bapak mau berteduh juga? Silakan duduk Pak, hati-hati dipannya agak reyot.”

Bapak itu lalu menyandarkan sepedanya yang berkarat di sebuah pohon dan meletakkan capingnya di atas dipan. Kasihan sekali, bapak tua itu pasti kelelahan mengayuh sepeda dengan beban tumpukan rumput yang menggunung, pikirku.

“Dapat banyak Pak rumputnya?”

“Alhamdulillah Mas.”

“Buat pakan ternak Bapak ya?”

“Iya mas, tapi bukan ternak saya. Saya cuma angon saja, sambil buruh tani sesekali. Sudah tua begini, jarang ada yang mau menyuruh saya….”

Aku mengangguk-angguk, lalu jeda lama tercipta. Rintik hujan mendera atap daun sirap.

“Desanya makmur ya Pak,” gumamku memecah kesunyian.

“Sayangnya di desa ini sedang dibangun pabrik baru Mas. Banyak penduduk yang menolak tapi mau bagaimana lagi, sepertinya suara kami ini memang tidak berarti….”

“Kenapa harus ditolak Pak? Bukankah dengan adanya pabrik ini akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitarnya?”

“Sejahtera bagi siapa? Sebentar lagi sawah-sawah itu akan menghilang, sebagaimana dulu area persawahan menggerus hutan-hutan jati di daerah ini. Ketenangan di desa ini akan terusik oleh gaduhnya mesin-mesin pabrik, belum lagi limbah dari pabrik itu akan mencemari tanah dan sungai yang jernih. Saya kadang tidak mengerti pola pikir mereka yang katanya modern itu. Maklum lah Mas, saya cuma wong cilik….”

Bapak itu mendesah sambil mendongakkan kepalanya ke langit. Matanya sayu seakan menanggung beban yang amat berat. Kuperhatikan gurat-gurat otot di lengannya yang kurus dan keriput. Seharusnya di usia senja seperti ini dia menikmati hidup dengan santai setelah bertahun-tahun bekerja keras.

“Anaknya dimana Pak?”

Bapak itu tersenyum samar. Matanya seperti menyimpan perih.

“Anak saya sudah meninggal Mas. Beberapa bulan yang lalu saat bekerja membangun pabrik itu, dia mengalami kecelakaan yang cukup parah. Sayangnya pemilik pabrik itu tidak mau bertanggung jawab. Anak saya meninggal tanpa sempat dibawa ke rumah sakit,” matanya menerawang.

Hatiku seperti ditusuk sembilu. Mataku menjadi sembap tanpa jelasnya penyebab. Rasanya sejuta rintik hujan menjelma jarum yang menusukkan racunnya ke kulitku. Seandainya saja aku bisa menghilang saat itu, tentu tak perlu menghadapi saat seperti ini.

“Oya, dari tadi ngobrol saya malah belum tahu Mas ini siapa ya?” akhirnya pertanyaan pamungkas itu terlontar juga.

Aku tak mampu menjawabnya. Seribu godam seperti dihentakkan ke kepalaku. Haruskah aku berbohong atau kukatakan saja bahwa akulah pemilik pabrik itu?

Hujan menderas dan hatiku mendura.


Jumlah kata : 499 kata

13 komentar:

  1. mudah2an nggak jadi bikin pabriknya :D

    BalasHapus
  2. Sepertinya mas-mas si empunya pabrik masih punya hati. Nice story Mbak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Trims mbak, salam kenal :)

      Memang terkadang seseorang bisa melakukan kesalahan tanpa disadarinya ya....

      Hapus
  3. mbak, tolong perhatikan tanda baca, ya.

    korelasi antara pertanyaan “Oya, Mas ini bukan penduduk sini kan? Dari mana ya?” sama bimbangnya si aku tentang aku itu siapa, rasanya agak nggak nyambung. kenapa harus bimbang? kan cuma ditanya asalnya, bukan apa pekerjaannya, kerja di mana atau apa usahanya dia.

    itu aja, mbak. terus nulis, ya! :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oke mbak trims masukannya:)
      Trims sudah singgah dan komen ya
      Sudah kuedit kok

      Hapus
  4. suka sama ceritanya. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Trims mbak :) Trims yaaa sudah berkenan singgah :)

      Hapus
  5. kalem ceritanya! trenyuh ;..;(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Trims Mas Andi, trims sudah berkenan mampir :)

      Hapus
  6. cerita sederhana yang menyentuh,.,, :)

    BalasHapus
  7. terima kasih, sebagai inspirasi membuka usaha di kampung

    BalasHapus

Bila berkenan sila tinggalkan jejak ya ^_^