Minggu, 08 Mei 2016

Prompt #114 - Nyala untuk Yuyun



Seorang gadis bernyanyi-nyanyi riang menelusuri jalan setapak yang lengang. Jalan itu membelah perbukitan landai penuh kebun dan semak belukar rimbun yang menutupi jurang nan curam. Tak pernah sekalipun terbersit rasa takut di hatinya, sebab daerah itu setiap hari dilaluinya untuk pulang-pergi ke sekolah. Meskipun sore itu langit mendung dan saudara lelakinya tak menemaninya, dia santai saja. Toh beberapa kali dia pulang sendiri di waktu seperti itu tak pernah ada masalah.

Gadis itu begitu riang sebab hari ini lagi-lagi dia mendapat nilai sempurna. Hatinya tak sabar hendak menunjukkan kepada ibu-bapaknya. Karena nilai yang sempurna itu, dia tak perlu mengerjakan tugas tambahan seperti saudara kembarnya yang sekelas dengannya. Kepalanya sibuk membayangkan rencana-rencana apa yang mengasyikkan sesampainya di rumah.

“Ehemm!”

Gadis itu terkejut. Kepalanya seketika mencari-cari sumber suara itu. Bulu kuduknya meremang.

“Si-siapa....”

Sesosok pemuda bertubuh kerempeng mendekat.

“Ini aku, Dik. Kakak kelasmu. Lupa?”

Gadis itu memicingkan matanya, mencoba mengingat.

“Ah, Kak.... Apa kabar?” dia bertanya sopan sambil mencoba mengingat-ingat nama pemuda itu. 

Pria itu berjalan gontai ke arahnya setengah sempoyongan. Gadis itu mengerutkan alisnya. Dadanya tiba-tiba berdebar.

“Bisa bantu Kakak sebentar? Ada hal yang mau Kakak bicarakan.”

Gadis itu meragu. Aroma tuak yang menguar dari kemeja pemuda itu menggentarkan hatinya.

“Maaf ya, Kak, aku hendak pulang. Ini sudah mau maghrib.”

Gadis itu sudah akan membalikkan tubuhnya ketika tiba-tiba pemuda itu menangkap lengannya dan terkekeh.

“Mau kemana Adik manis?”

Ditepiskannya tangan pemuda itu, tapi tak kuasa. Cengkeramannya begitu kuat. Gadis itu bergidik melihat tatapan pemuda yang penuh berahi dan tubuhnya semakin gemetar.

Tidak...tidak...ini tidak mungkin! Gusti, tolong aku! Bapak....Ibu!

Lalu terdengar suara-suara lain. Suara pria-pria terkekeh dari balik pohon dan perdu. Lalu muncullah mereka satu per satu.

Wajah-wajah penuh nafsu. 

Melihat bahaya di depan matanya, gadis itu seketika mendorong pemuda yang pertama. Dia terus berlari ke arah puncak bukit. Dia tak peduli meski mereka semua mengejarnya. Napasnya terengah-engah, seragamnya koyak menerjang semak berduri. Kulitnya berdarah tergores di sana-sini. Tapi dia tak peduli. Lebih baik dia mati melindungi kehormatannya daripada menjadi santapan binatang-binatang buas itu.
 
“Ha! Mau lari kemana Adik kecil?” Seorang pria bertubuh kekar menghalangi jalannya. Gadis itu jatuh terjengkang. Lalu entah dari mana sebuah balok kayu terayun ke arahnya.

Bukk!

Setelah itu gelap. Dan binatang-binatang itu berpesta pora di atas tubuhnya.

* * *

Sumber


“Kau yakin sudah menutupi mayatnya dengan dedaunan?” bisik temannya pada pemuda pertama beberapa hari kemudian.

“Sudah, Bang. Kenapa?”

“Yakin kau dia sudah mati? Beberapa hari ini aku merasa melihat dia.”

Pemuda itu menghela napas. Ternyata bukan hanya dia yang merasa demikian. Berhari-hari dia tak pernah bisa tidur nyenyak sebab tiap kali memejamkan mata, wajah gadis itu terus saja menghantuinya. 

Malamnya dia memberanikan diri mengecek jurang tempat mereka membuang jasad gadis itu. Semakin mendekati tempat itu, bau busuk mayat makin memenuhi penciumannya. 

Dari tubir jurang dilihatnya seorang gadis menangis sesenggukan di balik tumpukan dedaunan. Tubuhnya sudah tak utuh digerogoti belatung dan dipenuhi lalat beterbangan.

Pemuda itu tiba-tiba menangis tersedu. “Maafkan Kakak, Dik. Maafkan Kakak....”

Dia lalu melompat ke dalam jurang. Tubuhnya menyatu dengan gadis yang diam-diam pernah dicintainya dulu.

Jumlah kata : 500 kata.

Minggu, 24 April 2016

Prompt #112 - Keris Mpu Gandring


“Tin!” panggil ibuku dari dapur.


“Antarkan air dan nasi putih buat Bapak ke ruang belakang.”


Gegas kulaksanakan titah ibuku. Kuketuk pelan daun pintu jati berwarna hitam itu.


“Pak, dhahar dulu, nggih. Tini taruh di meja samping pintu, ya.”


Hanya deheman Bapak yang menyahut. 


Meski telah terbiasa dengan lelakunya di tiap bulan purnama tiba, hatiku masih terasa sesak tiap kali Bapak menghabiskan siang dan malam di dalam ruangan itu. 


Hanya Arfan, suamiku, yang paling memahami kegelisahanku.


“Sabarlah, Dek. Suatu saat nanti insya Allah Bapak akan sadar dan menghentikan ritualnya.”


“Tapi kapan, Mas? Hatiku sakit tiap kali harus mengantarkan makan dan minum buat Bapak. Bukankah kalau kita membantu kemusyrikan, dosa kita sama saja dengan pelakunya? Semua gara-gara keris terkutuk itu!”


“Iya, tapi kan kita tidak pernah berniat membantu Bapak dalam berbuat musyrik, Dek. Kita sudah cukup sering mengingatkan beliau secara halus. Melawan beliau secara frontal dan meninggalkan rumah ini bisa jadi malah akan menimbulkan mudharat yang lebih besar. Setidaknya bila kita tinggal di sini, kita bisa mengajak Ibu dan adik-adik mengaji, sambil terus mengajar Quran untuk anak-anak tetangga....”


“Apa bukan karena Mas gak mau pindah dan sudah merasa nyaman tinggal di rumah orang tuaku yang mewah ini?” entah dari mana datangnya ucapan yang keluar dari mulutku itu. Sedetik kemudian aku sadar namun terlambat, wajah suamiku memerah. Setelah menghela napas dan berbalik badan, dia meninggalkanku sendirian di dalam kamar.


Duh Gusti...kenapa aku berkata seperti itu? Semua pasti gara-gara pengaruh benda terkutuk itu! Keris itu telah memberikan pengaruh negatif bagi keluargaku. Ini tidak bisa dibiarkan! Besok lusa, ya, begitu ritual Bapak selesai aku harus segera bertindak!


Sumber


Ruangan belakang itu dipenuhi aroma dupa yang menyengat dan sisa-sisa bunga sesajen layu, membuatku mual. Sudah kepalang basah memasukinya, langkahku tak boleh surut meski tubuhku gemetar. Rasa takut sempat menyelinap sebab otakku telah dipenuhi dengan kisah-kisah Bapak tentang kehebatan keris yang konon buatan Mpu Gandring itu.


“Keris ini bukan keris sembarangan, Nduk! Barangsiapa yang memilikinya, kelak akan menjadi pewaris dari kesaktian Ken Arok dan juga memiliki kemuliaan dalam hidupnya,” sayup suara Bapak bergaung di kepalaku.


Persetan! Benda terkutuk itu harus dilenyapkan! Sorot mataku berkeliling mencari tempat penyimpanan keris itu. Pasti ada di dalam lemari, atau di dalam sebuah peti. 


Tapi...di manakah sebenarnya Bapak menyimpan keris itu? Setengah jam kulalui dengan hasil nihil. 


Tiba-tiba semilir angin dingin seakan menyelusup ke tengkukku, membuat bulu kudukku meremang. Sebuah benda bercahaya serta-merta melayang di udara, lalu menukik ke arahku tanpa kuduga. Ujungnya yang tajam berkilat seakan-akan hendak dihunjamkan ke arahku, entah oleh siapa.


Sendi-sendiku kaku, rasa gentar menyelimuti tubuhku.


Brakk! Daun pintu yang terlepas sebab dibuka paksa memecah ketakutanku. 


“Astaghfirullah, Dek!” teriakan histeris suamiku adalah suara terakhir yang kudengar sebelum aku pingsan.


* * *


“Jadi di mana sebenarnya Bapak sekarang, Mas?” tanyaku berhari-hari kemudian setelah sadar.


“Semenjak itu, Bapak pergi dari rumah. Bapak takut keris itu akan memakan korban lagi. Maka Bapak memutuskan membawa keris itu dan menyarungkannya sendiri....”


Air mataku tiba-tiba mengalir deras ketika menyadari, konon kabarnya keris itu memerlukan seorang tumbal untuk menjadi sarungnya yang abadi.



Jumlah kata: 500 kata.


Sumur inspirasi tulisan ini dari https://id.wikipedia.org/wiki/Keris_Mpu_Gandring

Minggu, 20 Maret 2016

Prompt #107 - Akibat Nazar



Sumber

Rayhan berkali-kali mengerjapkan matanya, tak percaya melihat sosok menakjubkan di hadapannya. 

“Jadi benar ini dompet Tuan?” tanya gadis cantik di hadapannya lagi, berusaha membuyarkan kebengongan lawan bicaranya.

“Te...terima kasih ya, sudah susah payah mengembalikan dompet ini sampai ke rumah saya. Sa..saya ambilkan minum, ya. Ma...mau minum apa?” 

Gadis itu menggeleng. “Insya Allah saya sedang puasa,” jawabnya kalem.

Jawaban itu sontak membuat Rayhan refleks mencengkeram dada, khawatir jantungnya akan mencelat sebab tak kuat menahan debaran yang begitu kencang.

Alamak! Gawat sekali, pikirnya. Bertahun-tahun dia mencari belahan jiwa dan kini tiba-tiba sosok idamannya hadir tanpa diduga lewat perantara dompetnya yang hilang. Hal yang dulu dianggapnya sebagai musibah besar tiba-tiba disadarinya sebagai sebagai berkah yang tertunda.

“Hmm...maaf lo, ya, sebenarnya... ketika dulu dompet ini hilang saya sempat bernazar. Apabila yang menemukan dompet ini lelaki maka akan saya jadikan saudara angkat, sedangkan apabila yang menemukan dompet ini perempuan maka akan saya jadikan istri. Tapi, eh, maaf lo ini...saya gak tahu apa nazar saya ini bisa terlaksana atau tidak...,” urainya malu-malu.

Gadis itu terbelalak, tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. “Be...benarkah itu?”

“Yah, tentu saja benar. Kan kalau nazar harus dilaksanakan. Yah...asal perempuan itu masih single dan mau menikah dengan saya....” 

“Lalu, apakah dia nanti akan tinggal di sini? Di rumah besar ini?”

Rayhan mengangguk.

“Bagaimana kalau dia seorang janda miskin dan punya banyak anak?”

Rayhan terkejut, tak mengantisipasi pertanyaan itu.

“Apakah Anda seorang...janda?” tanyanya hati-hati.

Gadis itu tergelak, “Saya? Janda? Hahaha...tentu saja tidak. Menikah saja belum!” 

Rayhan mengembuskan napas, lega. 

Mata gadis itu terlihat berkaca-kaca. “Saya tak pernah menyangka di zaman sekarang ini masih ada orang yang baik dan berkomitmen dengan nazarnya. Ibu saya pasti akan gembira punya calon suami seperti Tuan.... Selama ini hidupnya selalu menderita.”

“Eh, I...Ibu?”

“Iya, ibu sayalah yang sebenarnya menemukan dompet Tuan....”

Lutut Rayhan tiba-tiba terasa lemas.

Jumlah kata: 300 pas!

Sabtu, 20 Februari 2016

BELAJAR DARI WAJIB PAJAK TELADAN

Sumber

Pagi itu, seperti biasa aku menjaga ruangan sambil mengerjakan pekerjaan rutin yang menumpuk di meja. Hampir saja kuabaikan sebuah panggilan halus dari balik punggungku.

“Permisi, Bu. Boleh saya dibantu mengisi SPT Tahunan?” seorang bapak berusia paruh baya bertanya dengan santun.

Aku lupa-lupa ingat pernah bertemu Bapak ini di mana. Ah, rupanya beliau ini sebelumnya pernah berkonsultasi soal SPT Tahunan juga. Sebenarnya aku bisa saja menolak karena sejak bulan Februari ada satgas SPT Tahunan di lantai satu Kantor Pajak tempatku bekerja (di tiap KPP juga sudah buka, lo), tapi kuurungkan niat untuk menyuruh beliau turun ke lantai satu, sebab khawatir akan membuat beliau kurang nyaman.

“Silakan duduk, Pak,” sambutku sambil mengantar beliau ke ruangan konsultasi.

Beliau rupanya lupa dulu pernah konsultasi denganku. “Maklum, Bu, sudah umur,” kelakarnya sambil tertawa. Beliau mengulang lagi kisah yang sama, bahwa umurnya telah 70 tahun, baru saja operasi mata, dan beliau suka lupa, jadi beliau minta maaf kalau nantinya akan merepotkanku.

Sekali lagi kutanggapi dengan jawaban yang sama seperti pertemuan yang dulu. “Untuk ukuran orang yang berusia 70 tahun, Bapak sehat sekali!” dan Bapak itu lalu tertawa, sama seperti dulu.

Beliau rupanya adalah pensiunan pegawai sebuah instansi pemerintah. Ketika akan mengisi SPT Tahunannya, beliau panik sekali ketika bukti potong dari Dana Pensiun 2 tahun lalu tidak terbawa. Rupanya, bukti potong itu berisi petunjuk bagian mana yang akan dipindahkan ke SPT Tahunan, yang pernah diberikan oleh seorang petugas pajak yang dulu pernah ditemuinya.

“Bapak jangan khawatir, saya akan bantu kasih petunjuk di bukti potong yang baru, jadi Bapak tinggal memindahkan ke SPT Tahunan.”

“Terima kasih, Bu. Tapi pakai pensil ya, biar bisa dihapus, nanti bukti potong ini saya lampirkan, tidak?”

“Ya dilampirkan, kan kemarin dulu sudah saya kopikan? Saya kasih petunjuknya di (bukti potong) yang asli, Pak. Jadi Bapak bisa simpan buat petunjuk tahun depan.”

Beliau manggut-manggut, jelas sekali lupa kejadian itu.

Sambil mengisi SPT Tahunan, kami mengobrol ngalor-ngidul. Waktu kujelaskan tentang fasilitas pelaporan SPT Tahunan melalui e-filing alias secara online, beliau mengaku tidak tertarik.

“Anak saya lapor pakai internet, Bu. Tapi saya lebih suka ke Kantor Pajak melaporkan sendiri. Bertemu, berbicara dengan orang lain, lumayan bisa menghilangkan kejenuhan saya.”

Ada sesuatu yang tiba-tiba menusuk batinku. Beliau pasti sangat kesepian di masa tuanya. Ah, perbedaan zaman menyebabkan perbedaan pola pikir. Manusia dulu menyukai interaksi secara langsung, sebab itulah kecerdasan emosi, rasa empati dan penghargaan terhadap sesama manusianya begitu tinggi. Manusia zaman sekarang, ah...aku tak sanggup meneruskannya.

Tangan beliau bergetar ketika mengisi lembar demi lembar SPT Tahunan. Berkali-kali kacamatanya digeser agar lebih nyaman membaca. Dan ketika tiba mengisi kolom harta...beliau tiba-tiba panik mencari suatu berkas.

“Waduh, Bu. Saya lupa membawa SPT tahun lalu. Saya mau menyontek kolom hartanya,” wajahnya memelas.

“Bapak isi seingat Bapak saja,” aku lebih tak tega membayangkan beliau harus pulang dan kembali lagi besok.

Raut wajahnya mengeras. “Saya orangnya perfeksionis, Bu. Saya ingin konsisten mengisi SPT Tahunan. Agar tidak terjadi kesalahan, saya harus melihat SPT tahun lalu.”

Hatiku rasanya mencelos. Miris, banyak sekali orang yang sengaja tidak mengisi kolom harta di SPT Tahunannya atau malah mengisi serampangan saja, tapi bapak ini sungguh berkomitmen dalam mengisi SPT Tahunannya. Kebetulan beliau ini mengisi SPT Tahunan form 1770-S yang meminta detil keterangan kolom harta.

Seketika aku teringat sesuatu, mengisi kolom harta memang tak boleh sembarangan, sebab itu bisa menjadi dasar diterbitkannya SKB (Surat Keterangan Bebas) atas Warisan beliau kelak. Bila hartanya tidak tercantum di SPT Tahunan maka SKB Warisnya tidak akan bisa dikabulkan.

“Apa gak ada orang rumah yang bisa dimintakan bantuan, Pak?” tanyaku hati-hati.

Beliau menggelang. “Istri saya sudah linglung, Bu. Anak-anak juga sudah sibuk dengan keluarganya.”

Hatiku makin teriris mendengarnya. Duhai Bapak, akankah kelak aku akan bernasib sepertimu?

“Tidak apa-apa, Bu. Saya pulang saja. Besok saya temui ibu lagi. Mohon dibantu ya Bu, menyelesaikan mengisinya.”

Aku hanya bisa mengangguk, pasrah. Besok atau besoknya lagi, aku pasti menunggumu, Pak. Terima kasih sudah datang hari ini dan mengajarkanku, tentang bagaimana menjadi Wajib Pajak yang jujur dan berkomitmen kepada negara.

Sesaat setelah beliau pergi, diam-diam kutekan sebuah nomor di layar HP....

“Assalamualaikum...Ayah, lagi ngapain? Sudah lapor SPT Tahunan belum? Mau kubantuin?”

* * *

NB : Ini true story. Jangan lupa ya, minta bukti potong ke tempat kalian bekerja dan laporkan SPT Tahunan ke Kantor Pajak tempat terdaftar, atau bisa juga secara kolektif ke Kantor Pajak terdekat. Selamat mengisi SPT!

Baca ini juga ya!