Pagi yang basah
Kepala menunduk tangan tengadah
Hening yang khusyuk seperti kecambah
Bertunas perlahan mengakar menghunjam tanah
Seberat apapun kiranya hari ini
Ingatlah masih ada di kolong pagi
Insan yang tak sanggup bertemu nasi
Dan sebagian alas tidurnya tersusun dari
koran lusuh beratap kardus persegi
Maka nikmat yang manakah
Akan kau dustakan
hari ini?
Edmalia Rohmani, 30 Januari 2018
Selasa, 30 Januari 2018
Saat-Saat yang Mendebarkan
Dan terjadi lagi
Meski telah yang kesekian kali
Detak jantungku masih saja tak terkendali
Berhari-hari lalai makan dan mandi
Memikirkan janin yang telah berkembang selama berbulan-bulan
Nutrisinya pun telah diendapkan
Makanan bermutu dan bahan bacaan penuh gizi
Seharusnya jadi jaminan kali ini
Saatnya kusongsong bukaan baru
Yang tak cukup dihitung sepuluh
Kian mengucur deras keringat
Sebab ambang batas waktu makin mendekat
Antara tak sabar ingin segera melihatnya
Atau malah gemas sebab belum selesai juga
Ah...tinggal beberapa kata lagi
Yak!
Kamu pasti bisa!
Dan...yaaaa!
Segala puji bagi Pemilik Semesta
Satu karya baruku akhirnya lahir juga!
Edmalia Rohmani, 29 Januari 2018
Meski telah yang kesekian kali
Detak jantungku masih saja tak terkendali
Berhari-hari lalai makan dan mandi
Memikirkan janin yang telah berkembang selama berbulan-bulan
Nutrisinya pun telah diendapkan
Makanan bermutu dan bahan bacaan penuh gizi
Seharusnya jadi jaminan kali ini
Saatnya kusongsong bukaan baru
Yang tak cukup dihitung sepuluh
Kian mengucur deras keringat
Sebab ambang batas waktu makin mendekat
Antara tak sabar ingin segera melihatnya
Atau malah gemas sebab belum selesai juga
Ah...tinggal beberapa kata lagi
Yak!
Kamu pasti bisa!
Dan...yaaaa!
Segala puji bagi Pemilik Semesta
Satu karya baruku akhirnya lahir juga!
Edmalia Rohmani, 29 Januari 2018
Nasehat Diri
Mutiara hikmah
dari Ibnul Qayyim Al Jauziyah
Kiranya bolehlah menjadi
nasihat kita untuk hari ini
Ingatlah empat hal pelancar rezeki, Kawan
Agar kita tidak salah jalan
Dan tersesat dalam kemusyrikan
Yang pertama adalah perbanyak shalat malam
Yang kedua istighfar di waktu-waktu sahur
Yang ketiga bersedekah janganlah kendur
Sebagai pamungkas sebutlah namaNya
di awal pagi dan menjelang senja
Tak lupa bacalah Al Waqiah setiap hendak tidur
Sebagai teman kelak di alam kubur
agar rezekimu selalu mengucur
Namun niatkan karna Allah semata
Bukan utama mencari dunia
Untuk menghapuskan hutang
Bacalah doa yang diajarkan
Sang Rasul pemberi suri tauladan
Allahumma inni 'audzibika minal hammi wal hazan
Wa 'audzubika minal 'ajzi wal kasali
Wa 'audzibika minal jubni wal bukhli
Wa 'audzubika min ghalabatiddaini wa qahrirrijaal
Dawamkan pagi dan petang hari
Dan jangan lupa dilunasi
Niscaya hutang tiada lagi
Tak ada untuk melunasi bagaimana?
Artinya harus lebih berusaha
Sebab hasil tak pernah mengkhianati upaya
Dan doa tanpa ikhtiar hanyalah sia-sia
Edmalia Rohmani, 27 Januari 2018
dari Ibnul Qayyim Al Jauziyah
Kiranya bolehlah menjadi
nasihat kita untuk hari ini
Ingatlah empat hal pelancar rezeki, Kawan
Agar kita tidak salah jalan
Dan tersesat dalam kemusyrikan
Yang pertama adalah perbanyak shalat malam
Yang kedua istighfar di waktu-waktu sahur
Yang ketiga bersedekah janganlah kendur
Sebagai pamungkas sebutlah namaNya
di awal pagi dan menjelang senja
Tak lupa bacalah Al Waqiah setiap hendak tidur
Sebagai teman kelak di alam kubur
agar rezekimu selalu mengucur
Namun niatkan karna Allah semata
Bukan utama mencari dunia
Untuk menghapuskan hutang
Bacalah doa yang diajarkan
Sang Rasul pemberi suri tauladan
Allahumma inni 'audzibika minal hammi wal hazan
Wa 'audzubika minal 'ajzi wal kasali
Wa 'audzibika minal jubni wal bukhli
Wa 'audzubika min ghalabatiddaini wa qahrirrijaal
Dawamkan pagi dan petang hari
Dan jangan lupa dilunasi
Niscaya hutang tiada lagi
Tak ada untuk melunasi bagaimana?
Artinya harus lebih berusaha
Sebab hasil tak pernah mengkhianati upaya
Dan doa tanpa ikhtiar hanyalah sia-sia
Edmalia Rohmani, 27 Januari 2018
Tuhan Ampuni Aku
Tuhan ampuni aku
Telah durhaka padaMu
Sebab berani memikirkan
seribu satu cara untuk
mati
Ah, maafkan aku
Bilangannya pun tak sampai segitu
Pertama-tama kucoba meminum
racun pembasmi hama
Tapi tak tahan baunya
Lalu kuingat bangkai si Meong punya tetangga
Yang mati kaku setelah
memakan umpan yang salah
Sungguh horor dan tak elegan
Mati dengan pose demikian
Lalu kucoba pernah sekali
Mencekik leher sendiri
Namun tak sampai hati
Lalu kucari seutas tali
terbuat dari rafia
berikutnya dari sabut kelapa
dan lain-lainnya
Berkali-kali tak berjaya
Sebab kursi sebagai tumpuan kaki
Tak sukses utuh jatuh ke bumi
Leherku terkilir sakit sekali
Kucoba pula menandai
di pergelangan sebelah kiri
Garis-garis di sekitar nadi
Siap diiris dengan belati
Tapi sungguh kutak bernyali
Melihat jarum peniti saja kutak berani
Kucoba loncat dari lantai dua
Tapi gagal juga
Malah tersangkut tali jemuran tetangga
Kucoba lewat atap gedung sebelah
Malah dikejar si penjaga
Dikira garong dan sebangsanya
Oh Tuhan ternyata
Begini rasanya
Dihukumi tanpa dihakimi sepantasnya
Babak belur tubuh jadinya
Terakhir kali kuangankan
Membayar pembunuh bayaran
Ya Tuhan aku lupa
Tak satu pun harta kupunya
Semua sudah kusumbangkan
Ke rumah jompo dan panti asuhan
"Bapak terima kasih ya...
atas sumbangannya.
Sekarang kami berbahagia!"
Tuhan
Ampuni aku
Kali ini panjangkanlah umurku
Agar senyum mereka makin merekah
Dan aku bisa menghadapMu
dengan sepantasnya
Edmalia Rohmani, 28 Januari 2018
Telah durhaka padaMu
Sebab berani memikirkan
seribu satu cara untuk
mati
Ah, maafkan aku
Bilangannya pun tak sampai segitu
Pertama-tama kucoba meminum
racun pembasmi hama
Tapi tak tahan baunya
Lalu kuingat bangkai si Meong punya tetangga
Yang mati kaku setelah
memakan umpan yang salah
Sungguh horor dan tak elegan
Mati dengan pose demikian
Lalu kucoba pernah sekali
Mencekik leher sendiri
Namun tak sampai hati
Lalu kucari seutas tali
terbuat dari rafia
berikutnya dari sabut kelapa
dan lain-lainnya
Berkali-kali tak berjaya
Sebab kursi sebagai tumpuan kaki
Tak sukses utuh jatuh ke bumi
Leherku terkilir sakit sekali
Kucoba pula menandai
di pergelangan sebelah kiri
Garis-garis di sekitar nadi
Siap diiris dengan belati
Tapi sungguh kutak bernyali
Melihat jarum peniti saja kutak berani
Kucoba loncat dari lantai dua
Tapi gagal juga
Malah tersangkut tali jemuran tetangga
Kucoba lewat atap gedung sebelah
Malah dikejar si penjaga
Dikira garong dan sebangsanya
Oh Tuhan ternyata
Begini rasanya
Dihukumi tanpa dihakimi sepantasnya
Babak belur tubuh jadinya
Terakhir kali kuangankan
Membayar pembunuh bayaran
Ya Tuhan aku lupa
Tak satu pun harta kupunya
Semua sudah kusumbangkan
Ke rumah jompo dan panti asuhan
"Bapak terima kasih ya...
atas sumbangannya.
Sekarang kami berbahagia!"
Tuhan
Ampuni aku
Kali ini panjangkanlah umurku
Agar senyum mereka makin merekah
Dan aku bisa menghadapMu
dengan sepantasnya
Edmalia Rohmani, 28 Januari 2018
Matinya Sang Demokrasi
Nurani sudah pergi
Tersimpan di dalam peti
Hukum hanya tunduk pada
Mereka yang kuasa
Sedang bilah tajamnya
Mengiris-iris yang papa
Kebebasan yang dijanjikan
Semu belaka
Mulut dibungkam
Lidah-lidah diikat
Aspirasi dikebiri
Tapi hanya pada satu sisi
Yang lain bebas beraksi
Sesuka-sukamulah
Ini negara siapa
Negara yang paling banyak pengikutnya
Demonstrasi sudah basi
Lebih asyik mengisi periuk sendiri
Tinggal sulap sana sulap sini
Kawan sendiri tak peduli
Demokrasi sudah mati
Terinjak-injak anaknya sendiri
Mengusung kebebasan yang kebablasan
Memasung asa pewaris masa depan
Edmalia Rohmani, 19 Januari 2018
Tersimpan di dalam peti
Hukum hanya tunduk pada
Mereka yang kuasa
Sedang bilah tajamnya
Mengiris-iris yang papa
Kebebasan yang dijanjikan
Semu belaka
Mulut dibungkam
Lidah-lidah diikat
Aspirasi dikebiri
Tapi hanya pada satu sisi
Yang lain bebas beraksi
Sesuka-sukamulah
Ini negara siapa
Negara yang paling banyak pengikutnya
Demonstrasi sudah basi
Lebih asyik mengisi periuk sendiri
Tinggal sulap sana sulap sini
Kawan sendiri tak peduli
Demokrasi sudah mati
Terinjak-injak anaknya sendiri
Mengusung kebebasan yang kebablasan
Memasung asa pewaris masa depan
Edmalia Rohmani, 19 Januari 2018
Langganan:
Postingan (Atom)