Selasa, 30 Januari 2018

Renungan Pagi

Pagi yang basah
Kepala menunduk tangan tengadah
Hening yang khusyuk seperti kecambah
Bertunas perlahan mengakar menghunjam tanah

Seberat apapun kiranya hari ini
Ingatlah masih ada di kolong pagi
Insan yang tak sanggup bertemu nasi
Dan sebagian alas tidurnya tersusun dari
koran lusuh beratap kardus persegi

Maka nikmat yang manakah
Akan kau dustakan
hari ini?

Edmalia Rohmani, 30 Januari 2018

Saat-Saat yang Mendebarkan

Dan terjadi lagi
Meski telah yang kesekian kali
Detak jantungku masih saja tak terkendali

Berhari-hari lalai makan dan mandi
Memikirkan janin yang telah berkembang selama berbulan-bulan
Nutrisinya pun telah diendapkan

Makanan bermutu dan bahan bacaan penuh gizi
Seharusnya jadi jaminan kali ini
Saatnya kusongsong bukaan baru
Yang tak cukup dihitung sepuluh

Kian mengucur deras keringat
Sebab ambang batas waktu makin mendekat
Antara tak sabar ingin segera melihatnya
Atau malah gemas sebab belum selesai juga

Ah...tinggal beberapa kata lagi
Yak! 

Kamu pasti bisa!

Dan...yaaaa!
Segala puji bagi Pemilik Semesta
Satu karya baruku akhirnya lahir juga!


Edmalia Rohmani, 29 Januari 2018

Nasehat Diri

Mutiara hikmah
dari Ibnul Qayyim Al Jauziyah
Kiranya bolehlah menjadi
nasihat kita untuk hari ini

Ingatlah empat hal pelancar rezeki, Kawan
Agar kita tidak salah jalan
Dan tersesat dalam kemusyrikan

Yang pertama adalah perbanyak shalat malam
Yang kedua istighfar di waktu-waktu sahur
Yang ketiga bersedekah janganlah kendur
Sebagai pamungkas sebutlah namaNya
di awal pagi dan menjelang senja

Tak lupa bacalah Al Waqiah setiap hendak tidur
Sebagai teman kelak di alam kubur
agar rezekimu selalu mengucur
Namun niatkan karna Allah semata
Bukan utama mencari dunia

Untuk menghapuskan hutang
Bacalah doa yang diajarkan
Sang Rasul pemberi suri tauladan
Allahumma inni 'audzibika minal hammi wal hazan
Wa 'audzubika minal 'ajzi wal kasali
Wa 'audzibika minal jubni wal bukhli
Wa 'audzubika min ghalabatiddaini wa qahrirrijaal
Dawamkan pagi dan petang hari
Dan jangan lupa dilunasi
Niscaya hutang tiada lagi

Tak ada untuk melunasi bagaimana?
Artinya harus lebih berusaha
Sebab hasil tak pernah mengkhianati upaya
Dan doa tanpa ikhtiar hanyalah sia-sia

Edmalia Rohmani, 27 Januari 2018

Tuhan Ampuni Aku

Tuhan ampuni aku
Telah durhaka padaMu
Sebab berani memikirkan
seribu satu cara untuk
mati

Ah, maafkan aku
Bilangannya pun tak sampai segitu

Pertama-tama kucoba meminum
racun pembasmi hama
Tapi tak tahan baunya
Lalu kuingat bangkai si Meong punya tetangga
Yang mati kaku setelah 

memakan umpan yang salah
Sungguh horor dan tak elegan
Mati dengan pose demikian

Lalu kucoba pernah sekali
Mencekik leher sendiri
Namun tak sampai hati
Lalu kucari seutas tali

terbuat dari rafia
berikutnya dari sabut kelapa
dan lain-lainnya
Berkali-kali tak berjaya
Sebab kursi sebagai tumpuan kaki
Tak sukses utuh jatuh ke bumi
Leherku terkilir sakit sekali

Kucoba pula menandai
di pergelangan sebelah kiri
Garis-garis di sekitar nadi
Siap diiris dengan belati
Tapi sungguh kutak bernyali
Melihat jarum peniti saja kutak berani

Kucoba loncat dari lantai dua
Tapi gagal juga
Malah tersangkut tali jemuran tetangga
Kucoba lewat atap gedung sebelah
Malah dikejar si penjaga
Dikira garong dan sebangsanya

Oh Tuhan ternyata
Begini rasanya
Dihukumi tanpa dihakimi sepantasnya
Babak belur tubuh jadinya

Terakhir kali kuangankan
Membayar pembunuh bayaran
Ya Tuhan aku lupa
Tak satu pun harta kupunya
Semua sudah kusumbangkan
Ke rumah jompo dan panti asuhan

"Bapak terima kasih ya...

atas sumbangannya.
Sekarang kami berbahagia!"

Tuhan
Ampuni aku
Kali ini panjangkanlah umurku
Agar senyum mereka makin merekah
Dan aku bisa menghadapMu
dengan sepantasnya

Edmalia Rohmani, 28 Januari 2018

Matinya Sang Demokrasi

Nurani sudah pergi
Tersimpan di dalam peti
Hukum hanya tunduk pada
Mereka yang kuasa
Sedang bilah tajamnya
Mengiris-iris yang papa

Kebebasan yang dijanjikan
Semu belaka
Mulut dibungkam
Lidah-lidah diikat
Aspirasi dikebiri
Tapi hanya pada satu sisi
Yang lain bebas beraksi

Sesuka-sukamulah
Ini negara siapa
Negara yang paling banyak pengikutnya

Demonstrasi sudah basi
Lebih asyik mengisi periuk sendiri
Tinggal sulap sana sulap sini
Kawan sendiri tak peduli

Demokrasi sudah mati
Terinjak-injak anaknya sendiri
Mengusung kebebasan yang kebablasan
Memasung asa pewaris masa depan


Edmalia Rohmani, 19 Januari 2018