Selasa, 02 Desember 2014

Prompt #73 : Rendezvous



“Pelangi di matamu, membuatku tak pernah lelah tuk merindu.
Membuatku tak pernah lelah mendengar ceritamu.
Membuatku tak pernah lelah menunggumu.
Tapi kini, pelangi itu tak ada lagi.
Hilang ditelan badai, ketika lelakimu mengatakan tak mencintaimu lagi.”

Sumber

Hampir sejam aku menunggu di sudut kafe ini, namun bayanganmu tak juga hadir. Mungkin rintik hujan menghalangimu atau memang kau tak ingin bertemu denganku. Kusesap habis black espresso dalam cangkir, sekedar mengurangi efek jet lag dan menghangatkan badan. Udara dingin menyeruak di luar. Hampir saja kuputuskan untuk menjemputmu ke rumah namun urung saat kulihat sekelebat sosokmu berdiri di depan pintu.
“Lalaaa!”
Kau menoleh dan berjalan menuju mejaku, tentu saja setelah memesan secangkir Vanilla Latte kesukaanmu.
“Kenapa mesti ketemuan di sini sih? Di rumah aja bisa ‘kan?”
“Nanti ibumu tahu pembicaraan kita….”
“Apa yang mau disembunyikan coba?” bibirmu mengerut, membuatku gemas.
“Aku tahu kamu tak suka di sini. Tapi aku selalu suka. Ingat tidak waktu dulu….”
“Sudah, yang dulu gak usah dibahas. Lagipula, aku sudah dewasa sekarang, bukan gadis lagi. Aku wanita dewasa!”
“Yah…wanita dewasa yang masih juga patah hati,” aku terkekeh.
Ups! Wajahmu mendadak keruh. Ah, rupanya aku salah strategi.
Kucoba menjelaskan, “Ibumu menelepon, katanya terjadi lagi, drama seperti lima tahun lalu. Kali ini sepertinya lebih parah, berhari-hari kamu tidak mau makan, dan….”
“Gak usah jadi pahlawan kesiangan,” potongmu.
“Kamu tahu ‘kan, selalu ada tempat buatmu curhat…,”aku terus berusaha.
“Aku bisa mengatasinya. Lala akan cepat pulih, percaya deh. Dan drama mogok makan itu…biar badanku cepat kurus. Itu aja.”
Pesananmu tiba. Wanginya menguar seketika.
“Benarkah tak ada yang ingin kau ceritakan? Jujur aku merasa menyesal sering meninggalkanmu karena pekerjaan, seandainya aku bisa memilih….”
“Kenapa baru sekarang ngerasa? Waktu dulu patah hati, aku bisa mengatasinya sendiri. Sekarangpun aku yakin, seiring berjalannya waktu, di balik ujian ini akan ada hikmah bagiku.”
Aku tersenyum bangga. Ini baru gadisku.
Saatnya memberi kejutan....
“Patah hatimu kali ini akan kita lalui bersama. Aku ingin menebus kesalahanku selama ini dan menjadi bahu tempatmu bersandar, selain ibumu tentu….”
Terbit secercah sinar di matamu.
“Benarkah? Berarti mutasi ke Indonesia?”
Aku mengangguk. “Eh, ini kejutan ya, jangan bilang ibumu dulu.”
Kau mengangguk.
“Ehmm, tahu gak kenapa namamu Bianglala?” iseng aku bertanya.
Kau menggeleng.
“Karena bagi kami, senyummu seperti sebuah hadiah setelah badai tiba….”
Alismu berkerut, “Pelangi…bianglala!”
Lalu kita terbahak-bahak, membuat semua pengunjung menoleh. Biar saja.
“Ayah, terima kasih ya, patah hatiku kali ini sepertinya akan segera terobati.”
Ah, gadisku, senyummu begitu manis, seperti senyum ibumu.

Jumlah kata : 400 kata
Notes : FF ini pengembangan dari puisi Maya Indah di sini.

4 komentar:

  1. mbak, susunan paragraf nya menurutku mengganggu ya.
    istilah e ndlujur, tanpa ada sela nya.
    selebihnya, juaraaaaaaaaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Inggih mas. Kemarin sudah saya otak-atik tapi belum berhasil. Akan saya coba lagi nanti. Suwun nggih sudah mampir n komen :)

      Hapus
  2. ohh,,, ketemu bapaknya ternyata ... :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaaa, trims yaa sudah singgah n komeng Bang :)

      Hapus

Bila berkenan sila tinggalkan jejak ya ^_^