Rabu, 08 April 2015

#FFRabu – REMIX DONGENG PUTRI TIDUR




Sumber

 
“Tuan Putri, bangunlah!” seru para kurcaci, panik. Mata mereka berlinangan air mata menatap sesosok tubuh yang terbujur kaku di dalam peti kaca.


Namun sosok itu bergeming.


“Bagaimana ini, Kak? Putri Aurora tak juga bangun, sedangkan sang Pangeran tak kunjung datang.”


Kurcaci Tua menjawab, “Tak ada jalan lain, kita harus mencari sang Pangeran. Ayo, semuanya pergi!”


Berhari-hari mereka berkelana, hingga akhirnya berhasil membawa seorang pangeran ke hadapan sang Putri.


“Silakan, Pangeran, ciumlah Tuan Putri kami dengan sepenuh hati,” kata Kurcaci Tua. Sang Pangeran pun menciumnya dengan lembut.

Tiba-tiba Putri Aurora terbangun dan membelalakkan matanya.


“Aaaaak! Aku tak mau dicium Pangeran Kodok!”


Jumlah kata : 100 kata.

#FFRabu – BANGUN YANG KEDUA



 
Sumber

Mataku tiba-tiba terbuka. Namun hanya kegelapan yang menyelimutinya. Tenggorokanku tersekat, napasku terasa sesak.

Tenang, ambil napas dalam-dalam. Ini masih penyesuaian.

Kupejamkan mataku lagi, berusaha mengingat apa yang terjadi.

Beberapa hari yang lalu aku masih ada di pembaringan, dikelilingi anak-anak dan cucu-cucuku. Mereka semua bersamaku tapi tak seorang pun yang memedulikanku. Masing-masing sibuk dengan gadgetnya, atau mengobrol dengan sesama mereka.

Apakah aku bukan bagian dari mereka lagi?

Lalu di manakah aku?

Mereka bilang telah memesan kavling termahal untuk peristirahatanku, tapi kenapa aku berada di tempat pengap ini?

Tubuhku menggigil. Sesosok bercahaya yang menyilaukan mata tiba-tiba hadir.

“Man rabbuka?”

Bibirku gemetar menjawabnya.

Jumlah kata : 100 kata.

Selasa, 07 April 2015

FF #TentangKita - ANAK IBU



Sumber



Aku selalu ingin menjadi anak Ibu yang paling mirip dan paling disayanginya. Aku ingin tersenyum sehangat senyumnya, menatap seteduh pandangannya, dan berlaku anggun persis sepertinya. Setiap hari, Ibu bangun paling awal dan melakukan semua pekerjaan rumah tangga dengan tekun tanpa bersuara. Bila seisi rumah harus bangun dan tak seorang pun melakukannya, dia akan mencium pipi semuanya satu per satu hingga terjaga. Tak sekali pun Ibu murka bila anak-anaknya melakukan kesalahan. Wajahnya mungkin memerah atau urat lehernya akan sedikit bertonjolan, tapi hanya sebatas itu. Sepertinya tidak mungkin juga membayangkan Ibu mengacungkan gagang sapu untuk sekadar mengusir kucing yang masuk ke dapur. Persisnya, Ibu seperti jelmaan malaikat yang turun ke bumi dalam wujud manusia. Wujud ibuku.

Tapi semua kebaikan itu dikecualikannya untukku.

Bibir yang pendiam itu mengeluarkan cacian dan makian terkasarnya setiap kali Bapak dan kakak-kakakku pergi. Mata yang teduh itu seketika melotot setiap kali melihatku keluar dari kamar. Dan gagang sapu itu selalu melayang ke pantatku tiap kali aku berbuat kesalahan. Pada saat itu kadang aku berharap bisa menjelma jadi anak kucing yang diam-diam mencuri ikan asin.

Orang-orang berkata bahwa aku bukan anak Ibu. Mereka bilang aku adalah anak yang dibuang seseorang dalam kardus bersama sepucuk surat dan diletakkan begitu saja di depan pintu rumah Ibu, tujuh tahun lalu. Waktu itu kondisiku begitu mengenaskan. Selain karena terlahir dengan ukuran kepala yang tidak normal dan mata yang juling, di beberapa bagian tubuhku juga terdapat beberapa luka bekas gigitan hewan sehingga bernanah dan mengoreng. Saat itu Ibu sudah akan menyerahkanku ke panti asuhan, tapi mereka menolak dengan alasan tidak mampu merawat anak berkebutuhan khusus.

Mereka tidak tahu bahwa aku tumbuh selayaknya anak normal. Meskipun Ibu hanya memberiku makanan sehari sekali, aku tumbuh cukup sehat dan jarang sakit. Tiap kali Ibu ke dapur, kakak-kakakku diam-diam memberikan sisa makanannya ke piringku. Tanpa sepengetahuannya pula Bapak rutin membawaku ke dokter untuk memeriksakan kesehatanku. Selain beberapa kali kejang yang menyerangku di waktu balita, kurasa aku adalah anak Ibu yang cukup kuat dan bisa dibanggakan.

Namun ibuku tak pernah berpikir demikian. 

Ibu selalu mengeluh pada Bapak bahwa aku adalah beban bagi hidupnya. Aku adalah parasit yang mengisap penghasilan Bapak yang tak seberapa. Kadang aku curiga sebenarnya Ibu tahu apa yang dilakukan Bapak dan kakak-kakakku di belakangnya, tapi alih-alih menegur, Ibu lebih suka melampiaskannya padaku. Ibu tak ingin wibawanya jatuh di mata keluarga.

Tapi Ibu tak bisa menahan murka ketika Bapak mengusulkan untuk memasukkanku ke sekolah. Kata Bapak, umurku sudah lebih dari cukup. Ibu menolak karena baginya percuma menyekolahkanku, toh aku takkan jadi apa-apa. Ibu juga berkata kalau umurku takkan lama. Diam-diam aku menguping pertengkaran itu. Hatiku hancur sebab aku tak ingin Ibu bertengkar dengan Bapak. 

Pertengkaran itu sungguh tak perlu. Bagiku sekolah tak penting benar selama aku bisa membaca. Aku ingin membaca sepucuk surat yang ditinggalkan ibu kandungku. Dan itu lebih dari cukup bagiku.

Ibu tak pernah tahu kalau diam-diam kakak sulungku mengajariku membaca surat itu. Ibu tak pernah tahu kalau aku tahu bahwa aku yang cacat ini adalah hasil hubungan gelap Bapak dengan ibu kandung yang membuangku.



Jumlah kata : 500 kata.