Minggu, 11 Februari 2018

Di Bandara

Ada rindu yang menguar 
Kepahitan yang menjalar
Kukecup manis keningmu yang halus
Namun resah tak jua pupus

Bagaimana kamu nanti
Bagaimana aku nanti
Biarlah jadi misteri 

Erat
Air mata mengakhiri jabat
Aliri kenangan yang berkarat
Tentangmu
Tentangku nanti
Biarlah tetap misteri

Edmalia Rohmani, 7 Februari 2018 menuju Solo

Tak Ada Puisi Pagi Ini

Tak ada puisi pagi ini
Para pujangga sedang khilaf
Pena-penanya tertidur lelap
Sebab mulutnya sedang lahap
Menandaskan hidangan dengan kalap

Tak ada puisi pagi ini
Tak ada puisi pagi ini
Para penyair sudah tidur 
Setelah berjaga dari waktu sahur
Dan ia masih termangu lama
Tak kunjung selesai meresapi makna

Apa korelasi perut penuh 
dengan kosong isi kepala?

Edmalia Rohmani, 6 Februari 2018 pagi

Mereka Bilang

Mereka bilang perlu sepatu kaca agar bahagia
Maka kubeli sepasang di pasar kota
dengan harga murah
Meski bekas berbahan plastik pun tak apa
Saat diunggah takkan ada yang menyangka

Mereka bilang diet keto yang sedang trendi
Maka kuambil gambar semangkuk daging berselimut gajih
Kucomot dari pahaku sendiri 
Kutahan napas ambil pose dari samping 
Agar terlihat lebih ramping 

Katanya paling anggun si putih angsa 
Syukurlah kini bisa sulihrupa
Itik buruk ini pun ganti rupa
Kulitku putih mulus tak bercela

Ah, sial!
Kedokku terbongkar 
Sepatu plastik mereka lempar
Wajah hitamku mereka hajar
Daging dan gajih mereka bakar 
Tinggal akun gosong yang kosong terlantar

Tapi aku takkan peduli
Meski aku muak tapi 
aku tak pernah bisa berhenti
Media sosial terus saja kudaki

Edmalia Rohmani, miris 4 Februari 2018

Maaf Nyai, Aku Pamit Dulu

Ingatkah Nyai, pujaan hati
Saat kuboyong engkau ke rumah kecil ini
Kugendong ke dalam kamar yang juga mini
Dan kita mulai tak lagi memanggil nama sendiri 

Masih terngiang tentangmu, Nyai 
Di antara teh hangat dan rebus ubi ungu
Juga binaran teduh yang selalu menjeratku
Kang...selamat ya
bakal jadi Bapak, bisikmu mesra 

Begitu merdu kuingat selalu, Nyai
Dan demikian pula tahun-tahun setelah itu
Buah cinta kita lahir satu per satu 

Sekarang mereka sudah besar-besar, Nyai
Kamu ingat yang paling kecil
Gadis kita yang doyan ngupil
Sekarang sudah semakin tinggi jabatannya 
Jangan tanya apa
Maklum sudah aki-aki, suka lupa

Jangan tanya pula mereka di mana
Sebab berkabar berita mungkin akan mengusiknya
Cukuplah dunia milik kita berdua

Maafkan ya, Nyai
Tiap kali kau memanggil, suamimu ini lambat sekali
Telinga sudah kurang berfungsi 
Mata juga tak benderang lagi
Namun di mataku engkau masih bidadari 

Maaf juga Nyai, tak bisa bersih memandikanmu
Akhir-akhir ini bernapas susah sungguh 
Berdiri tegak pun tak mampu
Baskom air hangat tak bisa terisi penuh

Blakkk!

Nyai...Jangan khawatir,
Hanya suara baskom terpuntir
Air tumpah mengalir 
Tapi bukan aku yang terkilir

Nyai, maaf Aku duduk dulu
Tak bisa mendekat padamu
Ada tamu datang menghampiriku

Nyai, tamunya sungguh tampan
Dia mengajakku bepergian 
Katanya nanti kita akan bergandengan tangan

Nyai, jangan takut 
Dunia hanya menyiksamu sementara 
Sebentar lagi kau turut
Lumpuhmu kan hilang selamanya 

Aku pamit dulu Nyai
Aku pamit dulu
Sebentar lagi kita bertemu 
Dalam keabadian cinta yang berpadu

Edmalia Rohmani, 2 Februari 2018
setelah baca berita yang menyesakkan hati

Cerita Mendung

Selalu ada ragam kubu
Ketika para insan memandangku

Sebagiannya meratap sendu
bahkan menggerutu
memikirkan moda apa yang mampu
mengangkutnya ke tujuan tanpa berjibaku

Beberapa justru semringah 
Pertanda rezeki bakal berlimpah 
Penjaja jas hujan, permak payung, dan bakso kuah
Serta selimut hidup penjaja kehangatan berambut basah
Berharap satu dua receh dari pelanggan 'kan tumpah 

Yang terakhir selalu buatku pilu
Seorang anak tak lengkap baju 
Penuh harap matanya berkaca-kaca
Menanti emak bapaknya belum pulang juga 
Katanya sedang mencari kardus baru
Untuk menambal atap yang lama 
Adakah bapaknya ditangkap petugas
Atau ibunya sedang melayani tamu berbaju dinas

Bocah itu terus menatapku
Dengan pancaran mata pedih cemas

Edmalia Rohmani, mendung 1 Februari 2018