Minggu, 14 September 2014

Prompt #61 : Penjerat Rindu



Malam belum larut benar dan Winda masih khusyuk di depan layar. Belasan menit sudah berlalu sedang belahan jiwanya belum membalas pesannya yang terakhir. Gelisahnya membuncah, rindunya menggebu. Serasa ingin dia memasuki laptop untuk menepis semua ragu. Baginya Hans adalah semua anomali dalam hidupnya. Sebuah jawaban atas semua tanya. Penyebab Winda mengurangi makan dan tidur, hingga berat badannya menyusut tak lagi subur.
Sembilan belas...dua puluh.... Winda menghitung waktu. Dia tahu Hans selalu sibuk. Dan dia selalu rela menunggu. Hampir tiga puluh menit dan Winda masih setia. Cintanya terperangkap di ruang tunggu. Seperti juga dirinya, tak bisa berpaling dari Hans dan pesonanya. Ingatannya melayang ke beberapa bulan lalu, kala ia dan Hans berkenalan lewat sebuah sosial media. Luar biasa sekali pria ini, pikirnya. Dia tahu aku tak cantik, tak juga seksi, tapi masih mau denganku, pikir Winda. Dan akhirnya semuanya mengalir tanpa terbendung. Hari-hari Winda tiada lagi mendung. Meski hanya tulisan di dinding maya, meski hanya untaian kata mesra.
Winda selalu ingin bertemu, tapi Hans bilang belum saatnya. Dia terlalu sibuk jadi tak bisa. Winda mengerti dan mengalah. Selalu begitu. Kerinduannya terperangkap di dalam layar dan dia tidak bisa apa-apa.
“Hans...kamu sedang apa?” Winda berbisik dalam hati. Air bening membasahi pipinya.
“Aku sudah memasang webcam untuk hari ini.... Kamu janji kita bisa bicara hari ini...,” desahnya kalut. Dia berharap tangan Hans bisa merengkuhnya dan menghapus semua duka. Hampir ia mematikan kamera hingga....
Sketsa oleh Carolina Ratri
“Winda! Winda.... Maaf ya gambarnya agak buram, suaramu juga kurang terdengar.... Mmmh, aku Hans.... Eh, kenapa aku jadi grogi yah, hahaha!”
Winda terkesiap. Benarkah itu Hans? Dia sampai menutup mulutnya dengan kedua tangan tak percaya. Hans...tak mungkin!
Pria itu begitu sempurna melebihi khayalannya. Dia merasa seperti itik buruk rupa yang bertemu dengan pangeran. Sangat tak layak untuk disandingkan. Pertemuan berikutnya aku akan berdandan lebih cantik lagi, pikirnya.
“Oke Win.... Sabtu depan kita ngobrol lagi yaaa. Rumah aman kan?”
“Tenang aja Hans, ortuku terlalu sibuk untukku. Mereka gak akan pernah tau kok,” ujar Winda manja sambil mengancingkan bajunya.
“Sip...dah Cantik!”
***
Pria itu tersenyum simpul. Tak sia-sia dia menyiapkan semuanya tadi. Rekaman gambar sudah diambil, tinggal diedit sedikit, pikirnya. Dia sudah mengira Winda akan menjadi sasaran yang mudah. Tentunya dia bukanlah yang pertama. Hanya saja dia tak menyangka Winda akan lebih berani berekspresi dibandingkan sasarannya yang lain yang lebih dewasa. Remaja sekarang memang lebih cepat matang.
Hans alias Rendy alias Dicky, atau siapapun nama yang nantinya dia pakai untuk berkenalan dengan gadis-gadis muda, mulai membuat akun baru, melepaskan jeratnya.
"Aku lebih baik dari predator pemerkosa," desahnya. "Aku hanya mengisi jiwa mereka yang kosong, dan mengajari mereka hal yang tak sempat diajarkan ibu-ibunya yang selalu sibuk. Aku seperti air yang menuntaskan dahaga mereka akan kasih sayang dan memberi mereka pengertian baru tentang cinta dan rindu."

Jumlah kata : 453 kata

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bila berkenan sila tinggalkan jejak ya ^_^