Jumat, 19 Januari 2018

Kontemplasi

Alif
Alif
Alif

Tunjuk satu titik di langit biru
Tiada ragu kudaras namaMu

Ahad
Ahad
Ahad

Nyawa sekat di kerongkongan
Batu panas tindih ke haribaan

Lam jalalah

Menuju ha

Dan aku terperangkap di situ

Adakah namaNya
Sudah kausebut di awal harimu?


Edmalia Rohmani, 11 Januari 2018

Balada Seorang Petinggi

Hari ini
Satu orang yang dulu pernah disumpah untuk amanah
Tumbang lagi
Jemarinya beku di balik jeruji

Lidah yang dulu menari gemulai
Kini merana lunglai
Tanpa sempat mengecap harap
atas hidangan mewah nan lezat
atau pagut mesra dari si jablay

Ah, wanita itu
Seharusnya aku tak pernah menjamahnya
Meski ia sungguh menggoda

Sesal memang selalu ketinggalan kereta

Kepalanya menyenggut dinding
Mencipta sejenak hening
Sejak kapan rasa malu mengering?

Semenjak basah oleh rasuah
Atau empuk kursi yang menjulang tinggi
Atau lekukan indah yang nikmat didaki

Salah sendiri istrimu sudah tak berbentuk lagi
Tapi dia paling setia
Panggil pengacara
Panggil juru bicara
Panggil pewarta berita

Semua akan beres, Mas
Semua bisa dibeli

Kemana fulus pemulus itu pupus
Kemana ingar bingar itu menguar
Sejawat kerabat pun ingkar

Ah, tak seharusnya kupenuhi ajakannya di hotel itu
Biasanya sudah cukup puas di jok belakang mobil
Atau di sudut kubikelku
Seharusnya aku tahu
Itu semua intrik palsu

Itu muslihat rival-rivalmu, Mas
Seharusnya kepalamu yang memutih itu 

lebih mampu menalar
Mana salah mana benar

Hari ini
Satu orang yang dulu pernah
Bersumpah untuk setia 

Tumbang lagi

Dari kabar berita ia dapati
Istrinya siap mencalonkan diri meneruskan legasi
Sambil menggandeng lengan sang rival berdasi

Edmalia Rohmani, 12 Januari 2018

Ondel-Ondel

Hari ini si Buyung merajuk
Merengek terus tak bisa dibujuk
Ummi aku gak mau sekolah!
Ummi aku gak mau mengaji juga!

Kalau besar nanti jadi apa?

Mau jadi ondel-ondel saja!

Jantungku seakan loncat dari sarangnya
Tarik napas mendalam lalu bersabda

Visioner sekali ya kamu, Nak
Pandai menangkap gejala
Ondel-ondel sebagai cagar budaya
Sekaligus jadi komoditi
Pendongkrak pendapatan pribumi

Sini Ummi beritahu caranya:
Bolehlah tetap menari
Diiring alunan gambang Betawi
Agar pengarak dan para pecintanya
Tak pernah lekang berbilang masa
Namun harus diingat satu:
Tangan ondel-ondel tidak boleh tengadah
Atau menggiring kepingan uang ke dalam wadah

Jadikan ia raja dan ratu di acara mewah
Dudukkan di atas singgasana utama
Jadikan buah tangan ke negara manca

Kalau engkau penikmat sejati
Bolehlah turut jaga lestari
Menyulap sampah dan barang bekas
Menjadi ondel-ondel yang berkelas

Sekarang kita buat topeng ondel-ondel ya
Menjejak satu langkah pertama
Menuju pentas ondel-ondel yang mendunia


Edmalia Rohmani, 18 Januari 2018 pagi

Kamis, 18 Januari 2018

FAQ Seputar Nomor Seri Faktur Pajak di Awal Tahun

Di awal tahun seperti ini, ada beberapa hal yang perlu mendapat perhatian pengguna aplikasi efaktur dan laman enofa:

1. Mengembalikan sisa Nomor Seri Faktur Pajak (NSFP) di tahun sebelumnya.

Sesuai PER-24/PJ/2012 tentang Bentuk, Ukuran, Tata Cara Pengisian Keterangan, Prosedur Pemberitahuan Dalam Rangka Pembuatan, Tata Cara Pembetulan atau Penggantian, dan Tata Cara Pembatalan Faktur Pajak, Pengusaha Kena Pajak (PKP) wajib mengembalikan sisa NSFP yang tidak terpakai di akhir tahun secara resmi ke DJP. Prosedurnya bisa langsung ke bagian Tempat Pelayanan Terpadu (TPT) di KPP (Kantor Pelayanan Pajak) tempat terdaftar dan membawa formulir pengembalian NSFP yang telah diisi lengkap dan ditandatangani oleh pengurus (formulir bisa dicetak dari Lampiran IV F PER-24/PJ/2012 atau unduh di sini). Prosedur ini dilakukan bersamaan dengan pelaporan SPT Masa PPN Desember tahun terakhir.

Jangan lupa membawa Surat Kuasa atau Surat Penunjukan apabila yang menyampaikan bukan pengurus yang bersangkutan ya :)

Proses ini diperlukan untuk tertib administrasi, validasi data, dan bahan analisis DJP terkait kepatuhan PKP dan lawan transaksinya. Di sisi Wajib Pajak, hal ini bisa menjadi bahan evaluasi dan upaya preventif penyalahgunaan NSFP yang tidak terpakai oleh pihak-pihak yang tidak berwenang.

2. Meminta jatah NSFP untuk tahun yang baru.

Prosedurnya bisa dilakukan di TPT KPP tempat terdaftar atau melalui laman enofa (www.efaktur.pajak.go.id).

Caranya:
a. Pastikan PKP telah lapor SPT Masa PPN tiga bulan terakhir;

b. Login dengan username NPWP penuh tanpa tanda titik (.) dan tanda strip (-) serta password enofa yang dikirim ke email perusahaan;

c. Klik menu Permintaan NSFP;

d. Apabila muncul tulisan gagal terkoneksi maka kemungkinan sertifikat digital belum terpasang pada peramban (browser). Silakan unduh dan tempelkan sesuai dengan jenis perambannya;

e. Setelah berhasil, silakan isi kolom permohonan NSFP dengan lengkap lalu klik "Proses";

f. Surat jawaban akan langsung terunduh ke peramban. Silakan buka dan rekam jatah NSFP baru pada aplikasi efaktur. Jatah baru NSFP ini tidak perlu dicetak sebab ada fitur "Riwayat Permintaan NSFP" di laman enofa sehingga apabila suatu saat memerlukan untuk mereview histori data maka cukup menggunakan fitur itu saja.

3. Mengupdate range nomor seri pada aplikasi efaktur.
Agar jatah NSFP baru secara otomatis dapat langsung digunakan ketika membuat faktur di tahun baru, silakan melakukan langkah berikut:

a. Rekam jatah range NSFP di tahun baru;

b. Klik baris range NSFP terakhir di tahun lalu;

c. Klik "Hapus Range Nomor", apabila muncul notifikasi tertentu klik "Yes" sampai muncul keterangan bahwa range tersebut telah terupdate. Proses selesai.

4. Seputar upload faktur masa Desember tahun lalu.

Pertanyaan lain yang masih sering ditanyakan Wajib Pajak adalah: apakah PKP masih bisa membuat faktur untuk Masa Desember tahun terakhir? 

Jawabannya masih bisa sepanjang masih terdapat jatah NSFP untuk tahun sebelumnya dan belum dilakukan proses update seperti pada nomor 3 di atas. Apabila jatah sudah habis maka sudah tidak bisa lagi mengajukan permohonan NSFP untuk tahun pajak sebelumnya.

Demikian bahasan seputar NSFP di awal tahun. Semoga bermanfaat dan dapat memudahkan PKP dalam melaksanakan kewajibannya. Cinta pajak, cinta Indonesia.

Baca juga:

Cara Install Efaktur Baru

Membuat Kode Billing via HP 

Membuat Kode Billing di KPP

Seputar E-Billing System

Jumat, 29 Desember 2017

Kembalinya Si Anak Hilang

“Anakmu bukanlah milikmu.
Mereka putra-putri kehidupan yang rindu pada dirinya.
Lewat kau mereka lahir, namun bukan dari engkau.
Meski mereka bersamamu, mereka bukan hakmu.”

-Kahlil Gibran-

Apakah arti menjadi seorang ibu? Apakah ketika seorang wanita berhasil menjadi perantara hadirnya seorang anak manusia ke dunia maka ia telah layak dipanggil ibu? Ataukah ketika dia sudah memberi makan dan memenuhi kebutuhan hidup putra-putrinya maka serta-merta berhak tersemat predikat itu?

Jikalau maknanya hanya sebatas pengertian di atas, maka tentulah kejadian pahit dua tahun yang lalu takkan kualami. Kala itu putra bungsuku telah selesai masa menyusu. Entah kapan tepatnya, tiba-tiba dia lebih memilih tidur bersama pengasuhnya daripada denganku, ibu kandungnya sendiri.

Kala itu, batinku koyak tercabik-cabik, kalau tak bisa dibilang hancur berkeping-keping. Tiap kali putraku menangis minta diantar ke kamar pengasuhnya, hatiku pun runtuh dan gerimis. Bagaimana bisa dalam kejapan mata ia abaikan perempuan yang rela menyabung nyawa ketika melahirkannya?

Musnah sudah semua ilmu pengasuhan anak dan idealisme yang kupelajari dan berhasil kuterapkan pada kakak sulungnya. Di usia batita, si buyung justru menunjukkan ketidakacuhannya padaku, bahkan mengusirku dari kamar pengasuhnya bila malam tiba.

Seketika itu juga, berbagai ketakutan dan bayangan buruk berkecamuk di jiwa. Bagaimana bila hal ini berlanjut terus dan mempengaruhi psikologisnya hingga ia dewasa? Apa jadinya jika dia menjadi anak yang sulit diatur sebab tiada ikatan batin dengan orang tua? Cemas hati luar biasa namun saat itu pikiranku gelap tanpa bisa mengetahui muasalnya.

Kucoba merunut lagi peristiwa demi peristiwa yang sekiranya melatarbelakangi kejadian ini. Apakah karena aku pekerja kantoran yang seringkali sampai di rumah larut malam? Atau karena ketika di rumah aku tak sanggup mengelola amarah sehingga dia sering melihatku emosi? Ataukah karena aku sering menonton drama seri Korea hingga larut malam alih-alih membacakan dongeng pengantar tidurnya?

Pada akhirnya harus kuakui, apapun penyebabnya, kenyataannya aku tak lebih baik dari pengasuh anakku yang bahkan tak tuntas mengenyam pendidikan dasar. “Tangki Emosi” anakku dipenuhi dengan memori dan kasih sayang dengan pengasuhnya, bukan denganku. Pendidikan dan semua teori parenting yang kupunya tak berguna ketika harus berhadapan dengan bocah keras kepala itu. Aku mati kutu. Tak berdaya ketika pelan-pelan dia tak mengindahkanku, sebagaimana dia merasa aku mengabaikannya pada saat itu. Hari-hari terasa gelap dan tak berujung, hanya tangis dan gulana yang menghiasi malam-malamku.

Hingga suatu ketika, hidayahNya menuntunku menghadiri seminar pendidikan anak yang diisi oleh Ustadz Irwan Rinaldi. “Bukan tanpa sebab seorang bayi dititipkan pada rahim kita. Ketika amanah itu hadir maka artinya kita memang dianggap mampu oleh Sang Pemilik Kehidupan, sebab tak semua orang bisa mendapatkan karunia itu. Setiap anak adalah istimewa, maka keyakinan untuk bisa mendidik dan mengantarkannya menuju surga haruslah terhunjam kuat di dalam dada,” kata-katanya begitu lugas, menampar dan menyentak kesadaranku.

Setelah mendapatkan tausiyah itu, kepercayaan diriku yang pudar mulai bangkit. Ya, aku harus bangkit! Sebab Allah tidak akan mengubah nasibku kecuali aku berupaya mengubahnya! Di luar acara kuberanikan diri menghubungi Ustadz pemeran utama film Sang Murabbi itu dan berkonsultasi secara pribadi. Beliau memberikan tips yang sederhana nan tak mudah: perbanyaklah istighfar dan shalawat. Pasrahkan semuanya pada Yang Maha Membolak-balikkan hati.

Wejangan beliau memaksaku mengevaluasi diri. Bagaimanakah hubunganku dengan Allah Ta'ala selama ini? Adakah kuikuti sunnah-sunnah RasulNya dengan sempurna? Ke manakah bacaan Quran peneduh jiwa dan shalat-shalat malam itu melesap? Di titik ini akhirnya kumengerti, bahwa ikatan batin kita dengan anak atau pasangan memang sangatlah bergantung dengan kualitas koneksi kita dengan Sang Pemilik Jiwa.

Rasulullah SAW bersabda ”Sayangilah yang ada di bumi, niscaya yang ada di langit akan menyayangimu.” (HR. At Thabrani dalam al Mu’jam al Kabir, Shahihul Jaami’ no. 896). Dalam riwayat lain Rasulullah SAW memberikan panduan, “Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah mereka yang paling baik budi pekertinya dan paling lemah-lembut perilakunya kepada ahli keluarganya” (HR Imam at-Tirmidzi, an-Nasa’i dan al-Hakim).

Maka kuputuskan untuk kembali padaNya. Bila cintaku memang tulus tak mengharap balasan maka inilah saatnya membuktikan. Kuusahakan selalu untuk memberi perhatian lebih pada si bungsu tanpa mengurangi porsi kewajibanku di kantor. Sebab ingin dia tumbuh menjadi pria yang shaleh, maka harus kupastikan kehalalan penghasilan yang kubawa pulang ke rumah. Tiada henti kusebut namanya dalam untaian doa yang menderas. Kutingkatkan lagi amalan-amalan sunnah yang dulu satu per satu telah kutinggalkan.

Lalu, ke manakah drama-drama Korea itu? Akhirnya kusadari bahwa Lee Min Ho dan Song Joong Ki tak mampu memberikan syafaat di hari akhir nanti. Tapi anakku, dan setiap amal kebaikan yang dilakukannya atas buah nasihat dariku kelak mampu menjadi pemberat mizan perhitungan hisabku.

Allah SWT berfirman, “Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluannya).” (QS Ath-Thalaq: 2-3)

Pepatah Arab menyebutkan, “man shabara zhafira”, barangsiapa bersabar maka akan mendapatkan keberuntungan. Di saat kepasrahanku mencapai puncaknya, putraku akhirnya berubah pikiran. "Aku mau bobo sama Ummi aja," ujarnya suatu ketika.

Masya Allah. Masya Allah. Putraku telah kembali ke pelukanku! Subhanallah walhamdulillah! Terima kasih ya Allah telah memberiku kesempatan yang kedua untuk membuktikan bahwa aku layak menyandang sebutan itu. Namun, perjuanganku belum berakhir, baru saja dimulai.

Pengalaman ini memberiku pelajaran berharga; melahirkan seorang anak tak serta merta menjadikan perempuan berhasil jadi seorang ibu seutuhnya. Dibutuhkan pembuktian dan pengabdian seumur hidup, pengorbanan dan keikhlasan sepanjang hayat. Kebutuhannya tak cukup sebatas materi, dan bukan tanpa sebab Allah SWT menjadikan kita sebagai pengemban amanah ini.

Yakinlah Anakku, Ibu akan antar engkau hingga ke pintu surga, dan kelak bersama-sama kita akan memasukinya, insya Allah.

"Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikit pun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya." (QS. Al-Thuur: 21)


* * * 


Alhamdulillah tulisan ini memenangkan Juara I Lomba Menulis Artikel Peringatan Hari Ibu 20 Desember 2017 DKM Al-Amin Kementerian Keuangan.



Saya bersama Mbak Cia (Ketua Panitia) dan Bu Suryani (Kabid Kewanitaan DKM)


Baca juga:

- Shirah Shahabiyah

- Kisah Nabi

- Tentang Hijab

- Artikel lain yang mendapat penghargaan